
Ei menatap wajah Fery dengan malas. “Kenapa kau masih di sini? Bukankah kau harusnya sudah pergi? Dan bagaimana kau bisa kenal Angel dan Prety?” tanyanya lirih. Ei sudah tak punya tenaga lagi sekarang.
Gadis itu sangat galau segalau-galaunya, padahal ia sudah memenangkan sayembara. Namun, dari lubuk hati kecilnya masih saja berkecamuk seakan ada yang hilang tapi ia tidak tahu apa.
“Ceritanya panjang, tapi mungkin ini hanya kebetulan. Aku sudah tahu semuanya, Ei. Soal dan Hesa, termasuk kehamilan halumu. Kau juga tidak benar-benar menikah dengan Hesa. Hubungan kalian ini palsu.”
“Baguslah kalau kau sudah tahu,” ujar Ei datar dan sudah tak bisa lagi terkejut karena rasa terkejutnya sudah melebihi batas kapasitas.
“Ini salah Ei, hubungan yang dimulai dari kebohongan tidak akan pernah berhasil. Kau dan Hesa tidak akan bahagia jika seperti ini caranya. Katakan pada hatimu jika ucapanku ini salah.”
Ei menatap wajah Fery tanpa ekspresi. Ia tahu betul ke mana arah pembicaraan sepupunya ini.
“Tidak, ucapanmu memang benar. Inilah yang sedang aku pikirkan sekarang.” Akhirnya, Ei memilih jujur pada sepupunya. “Awalnya, aku tidak mencintainya dan semua ini hanya sebatas kesepakatan bersama saja. Tapi … aku tidak menyangka, kalau aku bakal jatuh cinta sungguhan padanya,” ujar Ei mulai mengakui perasaannya pada Fery.
Dua kakak adik itu memang sangat dekat. Fery sangat mengenal betul Ei begitupula sebaliknya. Waktu masih SMP dulu, Fery malah sering dikira pacarnya Ei saking dekatnya mereka berdua.
“Ini masih belum terlambat, ikutlah denganku ke Amerika. Jika Hesa mencintaimu, dia akan mendapatkanmu dengan cara yang benar. Bukan cara seperti ini.” Fery mengulurkan tangannya pada Ei agar adiknya itu mau pergi bersamanya sebelum semuanya terlambat.
Bukan apa-apa, Fery tahu betul permasalahan yang dihadapi adik sepupunya ini. Memenangkan sayembara, bukanlah solusi yang tepat untuk menutupi kebohongan yang dilakukan Ei dan Hesa yang mengaku-ngaku sebagai pasangan suami istri padahal mereka berdua belum pernah menikah.
“Aku tidak bisa … bagaimana aku bisa meninggalkan Hesa …”
“Dia akan mengerti,” sela Fery cepat. “karena dia tahu kalau jalan yang kalian tempuh ini salah. Apa kau bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada keluarga Hesa kalau mereka tahu kau dan Hesa hanya menikah palsu sebelumnya. Mereka akan berpikiran negatif tentangmu dan citra baikmu bakal tercoreng di mata mereka. Tak ada gading yang tak retak. Sepandai-pandainya orang menutupi bangkai, baunya pasti bakal kecium juga.”
Ei terdiam, semua yang dikatakan Fery memang benar. Inilah yang menjadi kegalauan hati Ei. Di sisi lain, ia juga tak mau menikah muda karena Ei masih punya impian yang harus ia kejar daripada harus terkurung selamanya di sini. Bukan berarti Ei tidak mencintai Hesa,hanya saja … gadis itu tak bisa mengubur impiannya hanya karena ia menjadi seorang putri mahkota.
__ADS_1
“Sakit dan memang sangat berat, karena kau meninggalkan orang yang kau cintai. Tapi … rasa sakit itu akan perlahan pulih. Aku yakin, kalau kalian jodoh, kalian pasti bisa bersama lagi. Tapi tidak dengan cara seperti ini.” Fery membujuk Ei agar adik sepupunya tidak salah pilih jalan. Cinta memang membutakan segalanya, dan Fery tak ingin Ei terjerumus dalam ikatan cinta dan melupakan apa yang sudah gadis itu cita-citakan sejak usia anak-anak.
“Jika aku kembali ke Amerika sekarang, bagaimana dengan kuliahku?”
“Aku sudah mengajukan surat kepindahanmu ke Amerika. Kau mau kuliah di Harvard, kan? Aku bisa memasukkanmu di sana. Dan kau juga bisa ambil jurusan yang kau suka. Sudah cukup kau hidup dalam pengasingan. Kembalilah ke asalmu. Keluarga kita, sangat merindukanmu, Ei. Mereka menyesal, tapi tak berani bertatap muka denganmu ataupun menghubungimu.”
Sebuah tawaran yang amat sangat menggiurkan dan juga menyentuh hati. Ei tak ingin menolak kesempatan emas itu untuk bisa masuk ke universitas impiannya. Tapi … berat baginya meninggalkan Hesa. Ei sudah terlanjur cinta pada pangeran ningrat ini.
Namun, bila Ei terus bertahan di sini, ia khawatir keluarga Hesa akan semakin membencinya seandainya mereka tahu kalau sebenarnya, hubungan Hesa dan Ei di mulai dari kebohongan. Akhirnya, setelah dipikir-pikir, Ei mengambil sebuah keputusan di mana ia yakin, jika Hesa benar-benar mencintainya, maka Hesa akan mengejarnya kemanapun Ei berada. Tapi jika tidak, maka Hesa akan membiarkan Ei pergi bersama dengan Fery dan berpisah untuk selamanya.
“Baiklah, aku akan pergi denganmu, tapi aku harus pamit dulu pada Hesa dan orang-orang yang ada di sini. Aku datang dengan baik-baik, maka aku juga harus pergi secara baik-baik pula.”
“Ehm, kalau itu … aku setuju. Lakukan apa yang menurutmu baik.” Fery menepuk pelan bahu Ei dan keluar ruangan untuk memberi ruang hati Ei untuk merelakan semua yang terjadi sebelumnya.
***
Namun, Ei tetap bersikukuh untuk mengatakan yang sebenarnya karena ia tak mau kalau pernikahannya yang akan digelar ini dimulai dari sebuah kebohongan. Hati Ei sangat tidak tenang karena ia merasa telah membodohi semua orang. Dan ia semakin merasa bersalah pada nenek Hesa. Ia tak mau nenek yang pernah ia tolong itu salah paham padanya.
“Aku tidak setuju, mereka semua bisa mengusirmu. Susah payah kau memenangkan sayembara ini dan bakal berakhir sia-sia jika kau mengatakan yang sebenarnya. Barusan saja aku membanggakan istriku yang multi talenta di depan seluruh keluargaku. Kenapa kau mau merusaknya?” Hesa langsung protes.
“Kau jangan egois, Hes. Kau tidak tahu seperti apa perasaan kekasihmu. Sebagai laki-laki, harusnya kau tak berkata seperti itu. Kau tahu persis kalau jalan yang kau tempuh ini salah.” Fery menimpali. Bukannya ia ikut campur, tapi dari dulu, Fery tak suka adiknya diintimidasi.
Hesa terdiam dan menatap Ei. Untuk sementara ia mengabaikan keberadaan Feru diantara dirinya dan Fery, Hesa berjalan mendekat kearah istrinya yang sejak tadi diam saja dan ingin tahu apa yang ada dipikiran kekasihnya.
“Kau yakin ini yang terbaik untuk kita, Ei? Bagaimana kalau kau diusir dari sini dan aku tak diperbolehkan bertemu denganmu lagi?” tanya Hesa cemas. Ia ingin tahu apa pendapat istrinya ini. Membayangkan hal itu bisa saja terjadi membuat perasaan Hesa jadi berkecamuk.
__ADS_1
“Apa kau akan menuruti mereka untuk tidak bertemu denganku? Kau akan menyerah pada cintamu semudah itu? Hanya sebatas itukah cintamu padaku?” Ei balik bertanya.
“Tidak sih, mana mungkin aku menyerah dan melepasmu begitu saja setelah apa yang sudah kita lalui bersama. Tidak seorangpun bisa mencegahku untuk bertemu denganmu sekalipun aku harus mati. Kau milikku Ei. Aku sudah menstempelmu dan hanya akulah yang boleh memilikimu.” Hesa bicara pada Ei, tapi matanya menatap Fery.
“Jadi kau setuju?” tanya Ei mulai senang karena Hesa sependapat dengannya.
Hesa tak langsung menjawab karena ia masih berpikir sampai akhirnya ia menuruti apa yang diinginkan istrinya. Toh ini juga demi kebaikan mereka berdua.
“Mau bagaimana lagi, aku juga tidak mau berada di jalan yang salah. Aku harus menerima konsekuensi dari kebohongan yang sudah kita lakukan ini.”
Ei memeluk tubuh Hesa di depan Fery dan merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya. “Ini memang berat, bahkan aku tidak tahu apakah aku bisa melalui kesulitan ini. Tapi … kau sudah berjanji padaku untuk selalu ada di sisiku walau apapun yang terjadi. Tidak peduli seberapa jauh jarak memisahkan kita, kau pasti bisa menemukanku kembali.”
Hesa tertunduk, semua yang dikatakan istrinya tidak salah. Dirinyalah yang salah, demi mendapatkan Ei, ia menghalalkan segala macam cara termasuk harus berbohong pada semua orang soal pernikahannya.
“Kau benar Mio Caro. Aku salut padamu yang bisa tegar mengambil keputusan ini. Jika tekadmu sudah bulat, maka yang bisa kulakukan adalah menggandeng tanganmu agar kita sama-sama sampai ke tujuan hidup kita berdua.” Hesa memeluk erat Ei sambil menggandeng tangan wanita pujaan hatinya.
“Bagaimanapun, cara yang kita tempuh ini salah dan kita berdua harus memperbaikinya serta memulai lagi dari awal. Aku akan diusir dan terpaksa aku harus kembali ke Amerika bersama dengan kakakku. Di kampus akan heboh berita kita berdua. Aku harap kau mengabaikan gossip-gosip yang beredar dan biarkan berlalu seperti tertiup angin. Nanti juga bakal hilang sendiri.”
“Kenapa harus ke Amerika, kenapa tidak di sini saja? Kau akan meninggalkanku di sini? sendiri?”
“Serangan netizen +68 itu sangat mematikan. Aku tak bisa membayangkannya bila aku tetap tinggal di sini. Waktu akan berlalu dan melupakan semuanya. Saat itulah aku akan kembali. Ah tidak … kau saja yang menjemputku. Bagaimana?” tanya Ei.
Wajah Hesa langsung pucat pasi menatap Ei. Namun, sedetik kemudian ia menyunggingkan senyum mencurigakannya.
"Oke, pergilah kemanapun kau suka, aku tidak keberatan," tandas Hesa.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***