
Fey dan Refald yang menjadi saksi hidup proses lamaran yang terjadi diantara Hesa dan Ei. Keduanya, tampak sangat senang dengan kebahagiaan yang tengah dirasakan pasangan sejoli itu.
Namun, ekspresi Fey berubah total saat melihat ekspresi wajah suaminya yang tampak tak bahagia. Hati Fey mulai berkecamuk dan benar saja, baru juga Hesa dan Ei merasakan kebahagiaan tiada tara, tiba-tiba saja Hesa pingsan tepat di depan mata Ei yang langsung terbujur kaku.
Refald yang mengetahui kalau ini bakal terjadi langsung bereaksi sementara Fey mengamankan tubuh lemas Ei yang masih belum percaya pada apa yang dilihatnya barusan.
“Sial, yang kukhawatirkan … akhirnya terjadi juga,” gumam Refald sambil menyentuh kening Hesa. Muncul sebuah sinar terang dari telapak tangan Refald yang berusaha menyembuhkan Hesa dengan kekuatan yang raja demit itu miliki.
“A-ada apa ini? Ke-kenapa dengan Hesa-ku Refald? Apa ... dia … baik-baik saja?” tanya Ei tergeragap saking shocknya.
Baik Fey ataupun Refald tak ada yang menjawab pertanyaan Ei. Sebaliknya, Refald fokus pada Hesa dan Fey hanya diam menatap Ei.
“Katakan padaku Fey, apa yang kalian tahu? Jujurlah … sekalipun ini menyakitkan, aku harus tahu … kenapa dengan calon suamiku ini. Kalian sendiri lihat, kan? Dia baru saja melamarku. Saat menggendongku kemari, fisiknya juga baik-baik saja. Napasnya normal dan ia tak punya penyakit bawaan. Dia sehat, sama seperti Refald, tapi … kenapa dia tiba-tiba … jadi seperti ini? Dia hanya kelelahan saja, kan?” Ei memberondong banyak pertanyaan pada Fey.
Untungnya, dalam keadaan seperti ini, istri Refald itu tampak tenang walau ekspresinya terlihat sedih. Mata Fey menatap suaminya untuk minta izin apakah Fey harus menjelaskannya pada Ei atau tidak soal kondisi Hesa saat ini. Refaldpun mengangguk pelan tanpa kentara tapi wajahnya tetap konsentrasi menyembuhkan Hesa.
“Secara fisik, suamimu itu memang kuat Ei. Tapi … jiwanya … dalam bahaya besar sejak dia memutuskan gelang kebangswanannya demi bisa mengejarmu kembali. Para leluhur Hesa di alam sana … tidak terima dengan keputusan keturunan mereka. Makanya … mereka murka. Jika Hesa tak segera kembali memakai gelang kebangsawanannya, maka Hesa akan mati. Keluarganya juga akan kena mala petaka.”
__ADS_1
“Kalau begitu … bawa Hesa kembali ke istananya dan pakaikan lagi gelangnya,”
“Tak semudah itu Ei ….” Sela Fey dan dengan sabar menjelaskan keadaan genting yang terjadi pada pria yang baru saja melamar Ei ini. “Kau tahu ayah Hesa sangat menentang hubungan kalian. Namun, bukan itu masalahnya. Jika ayah Hesa tahu siapa kau, dia pasti akan merestui kalian karena kalian sama-sama keturunan ningrat. Hanya saja … di masa lalu … hubungan nenek moyang Hesa dan nenek moyangmu … tak begitu baik sehingga di masa ini ... jika kalian memutuskan untuk tetap bersama, maka salah satu diantara kalian akan mati,” terang Ei dengan wajah sedih sesedih-sedihnya.
Jelas Ei sangat shock bukan kepalang mendengar penjelasan Fey. Ei tahu betul kalau istri Refald ini tidak akan pernah berbohong walau penjelasannya barusan sangat tidak masuk akal melihat ada di zaman mana mereka sekarang. Ei bingung, tapi ia juga paham maksud ucapan Fey. Ei langsung menangis sambil menatap kondisi lemah Hesa.
Manusia sekelas Refald saja sampai berkeringat saat mencoba menyelamatkan nyawa sang kekasih. Artinya, ucapan Fey memang bukan isapan jempol belaka. Pria tampan yang baru saja melamar Ei itu dalam bahaya bila terus ada disisinya. Itulah mengapa, banyak sekali cobaan yang menimpa hubungan keduanya.
Kerena merasa iba, Feypun memeluk Ei dan mencoba menenangkannya. “Jangan menangis Ei … kau harus tabah. Ini cobaan untuk cinta kalian. Jika kalian berdua bisa mengatasi ujian cinta ini … maka suatu hari nanti, kalian akan bisa bersama dan hidup bahagia.”
“Diamlah Ei!” bentak Refald. “Tidak ada gunanya kau menangis sekarang. Apa kau tidak tahu, aku berusaha menyelamatkanmu dan Hesa. Aku yakin, Hesa juga tidak akan suka dengan sikap lembekmu itu. Kau tahu apa yang harus kau lakukan! Kau tahu juga apa yang diinginkan Hesa sebelum kalian sampai di puncak ini. Kau juga tahu bagaimana kisah cintaku dan Fey sampai akhirnya kami bisa bersama lagi. Jika Hesa bisa melakukan apa yang aku lakukan? Kenapa kau tidak bisa melakukan apa yang Fey lakukan?” sengal Refald dengan nada tinggi lalu kembali konsentrasi pada penyembuhan Hesa.
Suara dan ucapan Refald bagaikan tamparan keras untuk Ei. Gadis itu terbujur kaku dan matanya menatap tajam wajah pucat orang yang ia cintai. Semua yang dikatakan Refald memang benar. Inilah yang dimaksud dengan apa yang dibahas Hesa saat pria tampan itu ngotot menggendongnya sampai puncak walau Hesa tahu, Ei bisa berjalan sendiri tanpa bantuannya.
Ei jadi amat merasa bersalah sekarang. Tidak seharusnya ia lemah disaat semua orang yang ada di sini berjuang mati-matian demi dirinya dan kebahagiannya.
“Kau benar Refald,” ucap Ei lirih. “Tidak seharusnya aku lemah. Aku memang oneng, tapi demi cinta kami berdua … aku … harus … melakukan sesuatu.”
__ADS_1
“Lakukan apa yang harus kaulakukan, Kami juga akan melaksanakan tugas kami di dunia kami. Kau berjuang di sini, kami akan berjuang di sana. Pastikan Hesa memakai kembali gelang kebangsawanannya untuk mempermudah tugas kami,” seru Refald dengan lantang. “Untuk sementara ini, Hesa aman. Aku akan membawa kalian berdua turun dari sini sebelum hal buruk terjadi pada Hesa lagi. Selebihnya … kuserahkan dia padamu.”
Eipun mengangguk dan Fey menepuk pelan bahu Ei tanda memberikan semangat. Sambil menangis haru, Ei langsung memeluk Fey dengan sangat erat.
“Terimakasih Fey … aku beruntung memiliki teman-teman luar biasa sepertimu. Maafkan aku karena sudah banyak menyusahkanmu,” ucap Ei.
“Jangan bilang begitu, semua yang kami lakukan memang sudah menjadi tugas kami. Kamilah yang harus berterimakasih karena hingga detik ini … kau masih setia menjaga rahasia kami tentang siapa kami sebenarnya. Kita akan bertemu lagi bila saatnya tiba. Ingat, kau tidak boleh lemah. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?” tanya Fey sambil mencoba tersenyum menghibur.
Ei mengangguk pelan. “Ehm, aku tahu. Kalian tak perlu khawatir padaku lagi sekarang. Aku tak tahu bagaimana cara berterimakasih pada kalian tapi aku selalu berdoa agar dimanapun kalian berada, kalian tetap bahagia dan selalu bersama.”
“Terimakasih,” ujar Fey senang melihat temannya akhirnya kembali baik lagi meski tadi se.lat down akibat pingsannya Hesa secara tiba-tiba. Tidak mudah jadi Ei yang harus tabah dan tegar menerima cobaan hidup dari Sang Pencipta.
Tidak ada manusia yang tidak diberi cobaan hidup Sang Penguasa Alam. Bagaimanapun cobaannya, manusia harus percaya bahwa akan selalu ada jalan karena Yang Maha Kuasa takkan memberikan cobaan lebih dari kapasitas yang dimiliki hambanya.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1