
Setelah menempuh jalanan yang agak macet, akhirnya Fahri sampai juga di rumah. Jarum jam menunjukkan pukul 17.00 WIB kala itu.
Dia memarkirkan mobilnya di depan rumah. Lalu bergegas turun.
"Soreeee... Mas Fahriiii... Baru pulang kerja yaaa...?" tiba-tiba sebuah suara yang mendayu-dayu menyapanya.
Fahri menoleh. Ternyata tetangga baru di depan rumahnya itu. Dia sedang mencuci mobilnya dengan mengenakan pakaian kekurangan bahannya seperti biasa.
Fahri hanya mengangguk kecil. "Saya permisi masuk." ucapnya dingin tanpa senyum sedikitpun. Kemudian dengan langkah panjang-panjang bergegas masuk ke dalam rumah.
Stella hanya tersenyum miring.
*****
Malamnya, pukul 19.30 WIB.
Dira dan Fahri baru saja selesai makan malam. Fahri sudah duluan ke kamar karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Sedangkan Dira masih duduk di kursi makan sambil menyeruput susu hamil yang dibuatkan sang suami.
"Nooonn...!" tiba-tiba Bik Inah menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.
"Kenapa Bik?"
"Ini tetangga baru yang depan rumah itu. Ngasih makanan Non," lanjut Bik Inah sambil menyodorkan sebuah mangkok berukuran sedang berisi soto ayam.
"Whaattt??" kata Dira terkejut.
"Aduh aduh Bik... Kasih ke kucing aja makanannya! Atau enggak dibuang aja!" ucap Dira sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Lhoooo...?? Kenapa tohh Nooonnn...? Sayang kan mubadzir...!"
__ADS_1
"Aduuuhhh... Bik. Udah deh nurut aja sama Dira. Itu makanan takutnya udah dikasih jampi-jampi sama tu janda!"
"Oohhhh... Gitu yaa Noonn..." Bibi manggut-manggut.
"Iya Bik. Yaudah sana cepetan kasih ke kucing aja ya!"
"Eh tapi tunggu deh Non. Emangnya kucing suka soto ya...?" Bik Inah heran.
Dira berdecak, "Kucing zaman now suka soto kok! Udah cepetan ya Bik! Atau dibuang kek. Terserah Bibik aja!" titah Dira.
"Iya iya Non..." sahut Bik Inah patuh. Dia-pun bergegas pergi dari hadapan majikannya itu.
*****
Sementara itu di kediaman Sisi.
Sisi juga sedang makan malam bersama mamanya. Sungguh kejadian yang sangat LANGKA sekali! Biasanya selama ini Sisi selalu sarapan dan makan malam seorang diri di meja makan yang sangat besar itu. Mamanya selalu beralasan tidak sempat sarapan di rumah. Dan ketika malam pun sang mama beralasan sudah makan di luar. Selebihnya Nyonya Raisa lebih sering pulang larut malam bahkan hingga dini hari sampai di rumah.
"Ya?" sahut Sisi datar sambil terus menguyah makanannya.
"Kamu gak lupa kan kalau 2 hari lagi ulang tahun kamu...?"
"Ooohhh... Sisi kira Mama lupa hari ulang tahun Sisi!"
"Sisi!" seru Nyonya Raisa sengit.
"Udah Mama gak mau berdebat sama kamu. Pokoknya Mama udah menyiapkan pesta yang sangat mewah dan megah untuk hari Minggu nanti. Di hotel bintang lima,"
Tak ada tanggapan apapun dari Sisi. Bahkan ekspresinya biasa saja.
__ADS_1
"Ma," ucap Sisi akhirnya. "Mama kan tau dari dulu. Aku gak pernah minta pesta yang mewah dan meriah Ma. Aku selalu bilang sama Mama kan. Aku cuma minta di hari ulang tahun aku, aku bisa berkumpul sama Mama dan Papa lengkap. Itu adalah kebahagiaan aku Ma. Bukan hadiah mahal dan spektakuler yang aku inginkan,"
Nyonya Raisa mendesah, "Sudah Sisi. Mama bosan mendengar ucapan kamu yang seperti itu terus! Udah pokoknya kamu nurut sama Mama! Mama udah mengundang kolega-kolega penting Mama. Jangan bikin malu!"
Sisi memicingkan matanya tak habis pikir. "Selalu itu yang ada di pikiran Mama...! Butik, kolega, reputasi, teman-teman sosialita...! Kapan Mama mikirin aku...?????" sentak Sisi menahan tangis.
"Sisi!!" geram Nyonya Raisa dengan mata mendelik.
Dengan gerakan cepat, Sisi bangkit dari duduknya. Kemudian pergi begitu saja dari hadapan mamanya.
"Sisi...!! Mama belum selesai bicara...!!"
Tapi Sisi tak menggubrisnya.
Nyonya Raisa mengembuskan napas keras.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Minta KOMEN, LIKE yang banyak Sayang2kuuh. Rate5 dan FAVORIT juga. Apalagi kalau kalian mau kasih VOTE, aku BERTERIMA KASIH BGT sama kaleaannn. Itu pasti bikin aku makin semangat Update wkwkwk. THANK UUU😘😘😘