
"Aaaaaaaaaa...!!" pekik Stella kencang karena melihat seekor kecoa melintas di depan kakinya.
Dia-pun refleks memeluk Fahri. Lelaki itu kehilangan keseimbangannya dan mereka berdua terjatuh ke lantai dengan posisi Stella masih memeluk Fahri dan berada di atas tubuh Fahri.
Fahri terkejut bukan main.
Belum sempat dia menepis tubuh wanita itu dari atas tubuhnya, seseorang sudah menatap pemandangan mereka berdua dengan mata nanar.
Fahri buru-buru mengempaskan tubuh wanita itu dari atas tubuhnya dengan kasar. Hingga Stella terjungkal lagi ke lantai. Dia meringis sambil ngedumel dalam hati.
Fahri bergegas bangkit dan mengejar sang istri yang sudah berjalan dengan cepat keluar rumah Stella dengan mata yang panas.
"Sayang, tunggu! Kamu jangan mikir macem-macem!" kejar Fahri panik.
Namun Dira tak menghiraukan ucapan suaminya itu. Dia terus berjalan dengan langkah cepat.
Namun di depan gerbang rumahnya, tubuhnya terasa sempoyongan dan matanya berkunang-kunang. Lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan dia tidak mengingat lagi apa yang terjadi selanjutnya.
Terdengar pekikan kencang dari mulut Fahri.
Dia bergegas menggendong tubuh istrinya dan masuk ke dalam rumah sambil memanggil Bik Inah dengan panik.
Sementara itu Stella, yang berada di belakang mereka dan melihat pemandangan itu, mengangkat satu sudut bibirnya.
*****
__ADS_1
Victoria International Hospital.
"Istri anda mengalami stress dan tekanan darah rendah hingga menyebabkan dia pingsan," tutur dokter Anastasya menjelaskan, "Pada pemeriksaan tadi juga istri anda mengalami flek yang cukup banyak..."
Dokter Anastasya mendesah pelan. "Saya mohon jangan biarkan istri anda mengalami tekanan yang bisa memicu stress untuk dia. Karena kalau dibiarkan terus-terusan, bisa berbahaya bagi janin yang dikandungnya. Bahkan bisa sampai berakibat fatal yaitu keguguran..."
Fahri tercekat beberapa saat.
"Bagaimana kondisi istri saya sekarang Dok? Apa yang harus saya lakukan?" ucap Fahri cemas.
"Nyonya Dira sekarang sudah berada di kamar rawat. Saya anjurkan untuk bed rest dan opname sampai keadaannya benar-benar pulih,"
"Baik Dok,"
*****
Dira sudah siuman sejak setengah jam yang lalu. Adit duduk di samping ranjangnya sambil menyuapinya melon yang telah dipotong kecil-kecil.
Ya, beberapa jam yang lalu Fahri mengabari Adit kalau adiknya itu pingsan dan masuk rumah sakit. Adit yang mendengar kabar itu begitu panik dan tanpa ba bi bu lagi langsung melesat menuju rumah sakit menggunakan mobilnya.
Krieett...! Pintu kamar rawat itu terbuka dan seseorang muncul di baliknya. Rupanya itu Fahri.
Lelaki itu berjalan menghampiri sang istri yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Namun respon Dira malah membuang muka seolah enggan menatap wajah suaminya itu. Membuat hati Fahri mencelos seketika.
__ADS_1
"Mas Adit, tolong suruh dia pergi... Aku gak mau ngeliat muka dia..." ucap Dira dengan suara bergetar.
Hati Fahri begitu sakit mendengarnya. Seperti ditusuk ribuan jarum.
Adit menjadi serba salah dan bingung karena terjebak dalam situasi ini.
"Bro, sorry ya. Lebih baik lo pergi dulu," walaupun tak enak dengan Fahri, akhirnya perkataan itu keluar juga dari mulutnya.
Fahri terhenyak beberapa saat. Sebelum akhirnya mengangguk lemah.
Dia pun menyeret langkahnya dengan gontai keluar dari ruangan tempat sang istri dirawat.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued...
Capekkk gaeeesss ngetiknyaa besok lagi yaa wkwk. minta komen yang banyak dulu doong