Istriku Anak Kecil

Istriku Anak Kecil
Bab 30


__ADS_3

Malam hari, pukul 20.30 WIB.


Fahri sedang mandi. Dira yang sudah mengganti bajunya dengan piyama dan hendak naik ke atas tempat tidur, tiba-tiba tak sengaja matanya tertumbuk pada hp Fahri yang tergeletak begitu saja di atas meja samping tempat tidur. Dan aplikasi WA nya belum dikeluarkan.


Dira tiba-tiba saja kepo dan iseng mengambil hp suaminya itu. Dia meng-scroll layarnya ke atas dan bawah. Hmm... Nggak ada chat yang aneh-aneh sih. Rata-rata semuanya tentang pekerjaan.


Eh sebentar... Tiba-tiba dia menemukan sebuah chat dengan kontak bernama Suhay. Dira tergelitik untuk melihat foto profilnya. Seorang wantia yang cukup cantik. Dan sepertinya, chat-nya pun sudah lama, bahkan tak ada respon yang diberikan suaminya itu. Eh tapi...


[Ri, nanti makan siang bareng yuk]


Chat yang pertama. Namun tak ada balasan dari Fahri.


[Sabar ya, Ri. Kamu punya istri modelnya kayak anak kecil gitu.]


Chat yang kedua. Dan tetap tak direspon oleh Fahri.


Tapi apa maksudnya semua ini?? Kenapa cewek itu pake ngajak makan siang suaminya segala? Dan juga... Chat yang kedua itu, apa maksudnya menjelek-jelekkan dia? Apa maksud cewek itu. Apa dia ada rasa sama Fahri...?


Dira mengembuskan napas dalam-dalam. Mencoba tidak emosi dan berpikiran negatif.


Kriett. Fahri baru saja selesai mandi dan berjalan keluar dari kamar mandi.


"Kamu kenapa, Sayang? Kok mukanya kayak bete, gitu?" tanya Fahri sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Dira berjalan ke arah Fahri, lalu menudingkan hp Fahri ke depan wajahnya, "Ini siapa?" tanyanya tajam.

__ADS_1


Fahri terlihat tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya, namun dia tetap berusaha tenang. "Oh... Itu Suhay. Cuma temen Mas sesama dosen. Bukan siapa-siapa,"


"Oya? Terus maksudnya apa, ngajak makan siang bareng segala? Terus chat yang kedua ini, ngapain dia pake jelek-jelekkin Dira...? Apa jangan-jangan... Mas Fahri selingkuh sama diaa...?" tuduh Dira mulai emosi. "Mas Fahri yang pernah nuduh aku selingkuh. Tapi ternyata Mas Fahri sendiri kaan, yang selingkuuuh...??"


"Ya ampun Dira, Demi Allah Mas Fahri nggak selingkuh sama dia!" Fahri berusaha menjelaskan sambil menggenggam kedua tangan sang istri.


Dira membuang wajahnya sambil menarik tangannya dengan kasar. Lalu beralih menatap Fahri lagi. "Terus apa maksud chat itu??"


Fahri menggaruk kepalanya yang tak gatal, mulai frustasi. "Sayang... Kamu dengerin Mas dulu dong... Demi Allah Sayang, Mas Fahri nggak selingkuh. Dia bukan siapa-siapa. Mana mungkin Mas selingkuh, Mas tuh sayang banget sama kamu, Dir..."


"Lagian, chat WA itu udah lama banget... Kayaknya chat itu pas kita awal-awal nikah dulu. Oke... Mas Fahri mau jelasin. Dulu, awal-awal nikah, Mas Fahri emang sempet curhat ke Suhay di kampus. Karena dulu Mas sempet frustasi juga menghadapi sikap kamu ke Mas Fahri. Yang jutek, cuek, gak ada perhatian, bahkan selalu ketus ke Mas Fahri... Tapi sumpah Sayang, itu-pun cuma sekali! Setelah itu, Mas nggak pernah curhat-curhat lagi ke dia...!"


Dira memicingkan matanya tak habis pikir. "Mas Fahri... Curhat masalah rumah tangga ke seorang cewek...??? Oh My God... Mas Fahri tau nggak siihh? Curhat ke lawan jenis itu salah satu pintu masuk setan! Bahkan bisa sampe selingkuh benerann..!!"


"Iya Sayang... Mas Fahri tau itu salah. Mas Fahri khilaf waktu itu."


Fahri diam, merasa sangat bersalah. "Iya Sayang... Mas Fahri salah waktu itu. Tapi sumpah Demi Allah, Dir, itu cuma sekali! Setelah itu Mas nggak pernah curhat macam-macam lagi ke dia. Dan soal ajakan makan siang Suhay, Mas-pun nggak pernah nanggepin. Demi Allah Sayang... Mas nggak ada apa-apa sama dia. Dia itu cuma partner kerja di kampus. Dan Mas pun nggak deket sama sekali sama dia. Cuma kamu Dira, satu-satunya di hati Mas Fahri..."


Dira tersenyum sinis, "Tapi kayaknya dia ada rasa tuh sama Mas Fahri...!"


"Terus mau kamu apa, sekarang...? Yaudah, nanti Mas akan WA dia dan bilang jangan pernah chat apa-apa lagi ke Mas. Dan Mas akan blokir dan hapus nomornya...!"


Tapi Dira tetap berwajah masam. Lalu dengan masih emosi dia meraih sebuah bantal dan guling. Lalu mengusir Fahri keluar dari kamar sambil melempar bantal dan guling itu ke depan wajanya, "Malem ini tidur aja sono di ruang tamu...!"


*****

__ADS_1


Besoknya, sepulang dari kampus. Dira tidak pulang ke rumah Fahri, dan malah pulang ke rumah kedua orang tuanya menggunakan taksi online.


"Lho, Dek? Kok kamu-"


Belum juga Adit menyelesaikan kalimatnya, dia langsung menubruk tubuh kakaknya itu dengan pelukan.


"Kenapa, Sayang?" tanya Adit lembut sambil melepas pelukan Dira. "Kamu berantem sama Fahri?"


Dira mengangguk pelan.


"Yaudah ayo masuk dulu."


Dira dan Adit-pun bergegas masuk ke dalam rumah.


*****


"Ya, halo Ri. Iya, lo nggak usah khawatir. Dia ada di rumah Papa Mama kok,"


"Syukurlah kalo, gitu." di seberang telepon Fahri tampak menarik napas lega.


"Yaudah lo sabar aja ya, Ri. Maklumlah. Cewek kan emang kayak gitu. Gampang ngambek dan cemburuan..."


"Iya, gue ngerti kok. Lagian ini emang salah gue kok, Dit."


"Yaudah, nggak papa. Malem ini dia tidur disini aja, Ri. Biar dia nenangin dirinya juga."

__ADS_1


"Oke nggak papa. Thanks ya, Bro."


"Sama-sama Bro,"


__ADS_2