
LIKE, KOMENT, RATE5, SHARE, N FAVORIT DULU GAEESS! BARU LANJUT BACA
*****
Hari Sabtu, pukul 09.15 WIB.
Pagi ini Dira sudah janjian dengan dokter Anastasya untuk check up kandungannya. Ya, kini kehamilan Dira sudah hampir memasuki usia 3 bulan.
Dira sudah rapih. Begitu juga sang suami tercinta, yang akan mengantarnya.
Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil Fahri menuju Victoria International Hospital. Fahri mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang di atas jalanan ibu kota yang tidak terlalu macet pagi itu.
Sekitar pukul 10.02 WIB mereka akhirnya sampai di rumah sakit itu. Setelah mendaftar dulu di loket pendaftaran seperti biasa, mereka berdua pun menunggu di ruang tunggu poliklinik tempat praktek dokter Anastasya.
"Atas nama Nyonya Nadira...!"
Dira dan Fahri pun bergegas bangun dari tempat duduk mereka. Dan masuk ke dalam ruang praktek dokter Anastasya.
"Pagi Nyonya Nadira... Pagi Tuan Fahri..." sapa dokter Anastasya ramah sambil bersalaman dengan mereka berdua. Sepertinya dokter Anastasya sudah mulai mengenal dan akrab dengan pasangan suami istri tersebut, karena memang Dira sudah beberapa kali check up sebelum kedatangannya yang sekarang ini.
"Pagi juga Dok..." balas mereka berdua tak kalah ramah. Sambil duduk di kursi yang ada di hadapan dokter Anastasya.
"Gimana kabarnya hari ini Nyonya Nadira...?" tersenyum hangat sambil membolak-balik berkas rekam medis milik Dira.
"Sangat baik Dok, alhamdulillah...!" sahut Dira tersenyum tak kalah hangat.
"Syukurlah kalau begitu..." masih tersenyum.
"Perkembangannya juga sejauh ini sudah sangat baik ya Nyonya. Sudah tidak merasakan mual dan muntah yang parah. Bahkan nafsu makan juga sudah meningkat kan...?"
"Betul sekali Dok." ucap Dira mantap sambil tersenyum.
Dokter Anastasya tersenyum lagi.
__ADS_1
"Sus, tolong tensi dulu." titahnya pada sang asisten yang berdiri tak jauh darinya.
"Baik Dok," angguknya.
Sang suster pun mempersiapkan peralatan tensimeter digital. Kemudian mulai mengukur tensi Dira.
"110/60 mmHg Dok, normal." ucap sang suster sambil melepas kembali alat tensimeter dari lengan Dira.
"Ok," angguk dokter Anastasya.
"Mari berbaring Nyonya Nadira. Kita USG,"
"Baik Dok," angguk Dira sambil beranjak dari duduknya. Dan berbaring di sebuah ranjang tak jauh dari meja dokter Anastasya.
Dokter Anastasya mulai mengoleskan jelly pada permukaan perut Dira yang mulai membuncit. Jelly tersebut berguna untuk menghilangkan lapisan udara di atas kulit perut yang dapat memantulkan kembali gelombang suara dari transduser.
Kemudian dokter Anastasya mulai menggerak-gerakkan alat USG di atas perut Dira. Dan tak lama, gambaran rahim Dira dan isinya mulai terpantul melalui layar monitor dalam bentuk sonogram (informasi gambar).
"Wah... selamat ya Nyonya Nadira dan Tuan Fahri...!" dokter Anastasya tiba-tiba berseru. "Pada pemeriksaan USG kali ini, terdeteksi bahwa Nyonya Nadira ternyata hamil anak kembar!"
"Benar Nyonya. Coba Nyonya Dira dan Tuan Fahri lihat layar monitor ini. Disini terdapat 2 kantong kehamilan, yang berarti ada 2 janin disana!" jelas dokter Anastasya sambil menunjuk ke layar monitor.
Seketika mulut Dira menganga sedikit saking tidak percayanya, kedua tangannya sampai menutupi mulutnya yang menganga itu. Fahri sendiri tampak sangat terharu mendengar kabar seperti ini.
"Memang biasanya kehamilan kembar baru dapat terdeteksi ketika usia kandungan antara 10 sampai dengan 13 minggu..." dokter Anastasya melanjutkan kembali sambil terus menggerakan alat USG di atas perut Dira.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan, kemungkinan calon bayi Nyonya Nadira dan Tuan Fahri ini kembar identik dengan berbagi satu plasenta tunggal...." beliau kembali menjelaskan, "Bayi kembar identik ini berkembang dari satu sel telur yang terbagi menjadi dua, yang disebut monozygotic (MZ). Karena berasal dari satu sel telur yang sama, kembar monozygotic memiliki DNA yang sama..."
Dira dan Fahri tampak manggut-manggut. Wajah Dira memancarkan rasa haru yang begitu membuncah, seakan masih tak percaya ternyata di dalam rahimnya telah tumbuh 2 janin yang akan menjadi calon buah hatinya kelak.
"Jenis kelamin nanti baru bisa teridentifikasi saat kehamilan Nyonya Nadira memasuki minggu 18 hingga 20. Nanti Nyonya dan Tuan silakan kembali datang kesini jika ingin mengetahui jenis kelamin calon bayi kalian..."
"Walaupun sebagian besar kembar monozygotic itu memiliki jenis kelamin yang sama, namun tak menutup kemungkinan calon bayi kembar kalian akan berbeda jenis kelamin yaitu bayi lelaki dan perempuan..."
__ADS_1
Dira dan Fahri manggut-manggut lagi.
"Ok, sudah jelas ya." Dokter Anastasya menutup kembali pakaian Dira yang tadi tersingkap menyembulkan perut buncitnya. "Boleh kembali duduk Nyonya,"
Dira pun perlahan bangkit dari ranjang. Lalu dituntun Fahri kembali duduk di hadapan dokter Anastasya.
"Sejauh ini perkembangan janinnya bagus dan normal. Tetap jaga pola makan sehat ya Nyonya. Dan harus tetap menghindari aktifitas yang terlalu berat..."
"Vitaminnya masih yang seperti biasa. Silakan nanti tebus di apotek." sambil menulis di kertas resep. "Kemudian yang terakhir, jangan lupa tetap minum susu hamil yang rutin..." tukasnya tersenyum, menyerahkan kertas resep pada Dira.
Dira tersenyum lebar, "Baik Dok. Terima kasih banyak..." sambil menerima kertas resep yang diberikan dokter Anastasya.
Sang dokter balas tersenyum ramah, "Sama-sama Nyonya,"
"Terima kasih Dok..." kini Fahri yang berucap tersenyum tak kalah lebar.
"Sama-sama Tuan..." ulang dokter Anastasya tersenyum kembali.
Sebelum pamit mereka pun bersalaman dengan dokter Anastasya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued...