Istriku Anak Kecil

Istriku Anak Kecil
Bab 16


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu, hari-hari dilalui Dira dengan murung dan tak bersemangat seperti biasanya. Sang sahabat, Sisi, sampai heran melihatnya.


"Jadii... Lo belum mau ceritaa...?" tanyanya untuk yang kesekian kali, sambil melahap bakso bulat-bulat.


Saat ini mereka berdua sedang di kafetaria kampus. Setelah sejam yang lalu baru saja selesai mengikuti mata kuliah di kelas.


Dira menarik napas dalam-dalam. Wajahnya kian murung. Segelas jus alpukat yang ada di depannya hanya diaduk-aduk dengan sedotan.


"Gue... mau dijodohin..."


"Whhaaattt...?" Sisi hampir tersedak. Buru-buru diteguknya air mineral yang ada di hadapannya.


"Lo gak lagi... bercanda... kaann, Diirr...?" tanyanya masih belum yakin.


Dira hanya menggeleng lemah.


"Oh My God... Tapi kenapa, Dir...? Dan sama siapa, lo mau dijodohin...?"


Akhirnya, Dira-pun menceritakan semuanya. Sesekali bulir air mata jatuh dari kedua matanya.

__ADS_1


Sisi, yang duduk di sampingnya, mencoba menenangkan sambil merangkul dan mengusap lembut bahunya. "Yaudah, lo yang sabar ya... Mudah-mudahan Tante Amanda dan Om Bian berubah pikiran..."


Dira memeluk sahabatnya itu. Kemudian terisak pelan.


"Cup, cup... Sabar ya Sayang... Udah... jangan sedih lagi... Nanti gue ikutan sedih...," ucap Sisi lembut sambil terus mengelus bahu sang sahabat.


*****


Dira dan Sisi berjalan beriringan menuju tempat parkir kampus. Jadwal kuliah telah usai.


"Dira...!" tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang.


Sontak mereka berdua menghentikan langkah dan menoleh secara serempak. Dan, Dira cukup terkejut dengan siapa yang dilihatnya di belakang.


Sisi yang merasa tau diri, pamit pada Dira untuk menunggu di mobilnya.


Dira membuang wajahnya.


Fahri berjalan menghampirinya perlahan.

__ADS_1


"Mau ngapain Mas Fahri dateng kesini...?" tanyanya dengan nada tak bersahabat sama sekali, bahkan tanpa menoleh sedikitpun pada Fahri.


Fahri diam tidak menjawab.


Dira mengarahkan pandangannya pada Fahri. Lalu menatapnya nanar, " Aku mau tanya. Apa selama ini, Mas Fahri udah tau... Tentang perjodohan ini...?" tanyanya begitu tajam.


Fahri terdiam, sampai akhirnya, dia mengangguk pelan.


Dira memicingkan matanya tak percaya. "Terus... Mas Fahri setuju... dengan perjodohan ini...?"


Lagi-lagi, Fahri mengangguk.


Dira benar-benar tidak percaya. "Tapi kenapa Mas Fahrii...?" nada suaranya penuh dengan penekanan. "Kenapa Mas Fahri mau!? Padahal bisa aja kan Mas Fahri menolak? Apa yang Mas Fahri harapkan dari aku...?? Aku cuma seorang bocah yang baru masuk kuliah! Manja, nggak bisa masak, nggak bisa bebenah rumah! Dan masih banyak lagi! Kalau Mas Fahri mau, Mas Fahri pasti bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku! Di luar sana banyak perempuan yang udah matang, cantik, punya karir bagus, atau bersikap keibuan...!" Dira benar-benar marah.


Fahri diam, lidahnya seakan kelu. "Mas Fahri nggak ada maksud apa-apa. Percayalah, Dir. Karena dari awal melihat kamu lagi, setelah 5 tahun berlalu... Mas Fahri udah suka sama kamu! Cuma itu..."


"Mas Fahri nggak peduli. Mau kamu manja, nggak bisa masak, atau apapun itu. Karena yang Mas Fahri liat bukan itu semua. Mas Fahri jatuh cinta sama kamu, nggak ada alasan yang lainnya..."


Dira terdiam, berusaha menutupi keterkejutannya.

__ADS_1


"Denger ya Mas Fahri, aku tetap nggak akan pernah setuju dengan perjodohan ini...!" ketusnya. Lalu bergegas meninggalkan Fahri yang mematung seorang diri.


"Ayo Si, kita cabut!"


__ADS_2