
Sudah hampir seminggu lamanya, Dira tidak pulang ke rumah suaminya. Dan malah tidur di rumah Mama Papa. Fahri sudah beberapa kali mencoba menghubunginya, untuk membujuknya pulang. Mencoba menelepon, mengirim pesan WA. Tapi tak pernah digubris oleh Dira.
"Dir," Adit mengetuk pintu kamarnya, dan ngeloyor masuk.
"Hmm?" hanya itu balasan sang adik.
Adit menghampiri Dira yang sedang duduk sambil menyandarkan badannya di kepala tempat tidur. Lalu dia duduk di tepi ranjang.
"Kamu kapan mau pulang...? Kasian suami kamu, Dek."
Dira tidak menjawab.
"Udah cukup lah kamu ngehukum dia. Lagian itu kan cuma salah paham. Mas Adit tau Fahri itu lelaki seperti apa. Nggak mungkin dia tega selingkuhin kamu,"
"Iya... Dira juga tau Mas Fahri tuh gak selingkuh...! Cuma kan tetep aja... Dira kesel. Maksudnya apa coba, pake curhat-curhat segala ke cewek lain...? Ngomongin istri sendiri lagi...!"
"Iya... Mas Adit ngerti. Tapi toh dia juga udah mengakui salahnya dan minta maaf sama kamu..."
Dira diam dan tidak menjawab lagi.
"Yaudah kamu tidur gih. Udah malem..." dan Adit pun bergegas keluar dari kamar Dira.
*****
Besoknya, hari Minggu. Pagi pukul 10.00 WIB.
__ADS_1
Fahri datang ke rumah orang tua Dira. Berniat menjemput Dira untuk pulang.
"Iihh, pokoknya Dira belum mau pulang, Mas...! Dan bilangin juga ke dia, Dira nggak mau ketemu dia. Dan nggak usah dateng-dateng lagi kesini...!" seru Dira sambil menutup mukanya dengan bantal.
Adit menarik napas panjang. Benar-benar keras kepala banget adiknya itu. Akhirnya dia menyerah dan terpaksa keluar dari kamarnya. Dan menghampiri Fahri yang menunggu di ruang tamu.
"Sory ya, Bro. Gue belum berhasil bujuk dia. Tapi lo tenang aja, Insya Allah nanti gue akan berusaha bujuk dia lagi."
Wajah Fahri terlihat sendu, "Yaudah gak papa, Bro. Mungkin dia masih mau nenangin diri. Yaudah ya Bro. Thanks. Gue pamit dulu..."
"Sama-sama Bro. Hati-hati ya."
*****
Hari demi hari berlalu. Dan akhirnya, hampir 2 minggu lamanya Dira sudah tidur di rumah orang tuanya.
"Hei..."
Dira mendongak, dan betapa terkejutnya dia Fahri sudah berdiri di gerbang rumahnya. Baru saja dia mau membalikkan badan, namun Fahri sudah berhasil meraih tangannya.
Akhirnya Dira tidak melawan. Fahri menariknya lebih dekat. Lalu mebalikkan badannya agar dia bisa memandang wajah Dira.
Perlahan Dira akhirnya mendongakkan wajahnya, dan menatap wajah Fahri.
"Kamu mau sampai kapan, disini...? Mas Fahri udah kangen banget sama kamu..." ucap Fahri lirih, dengan sendu yang tak dapat disembunyikan dari wajah tampannya.
__ADS_1
"Kamu... Masih marah... sama Mas Fahri...?"
Dira tak menjawab.
"Mas Fahri udah nge-WA Suhay dan bilang untuk jangan chat apapun lagi ke Mas. Dan, Mas-pun udah blokir dan hapus kontak dia..."
"Maafin Mas Fahri ya..." ucapnya lagi lirih.
Akhirnya, Dira mengangguk.
"Maafin Dira juga ya, Mas..."
"Mas Fahri kangenn bangeett... sama kamu, Sayang."
"Dira juga..."
Akhirnya mereka berpelukan erat. Dan lama. Lalu Fahri mencium bibir Dira sekilas.
"Buseettt... Baikan sih baikan. Tapi jangan ciuman juga keleus di depan rumah gitu. Ntar kalo tetangga ngeliat gimana...?" seru Adit tiba-tiba.
Fahri dan Dira saling berpandangan, lalu cekikikan geli.
"Iihhh, Mas Adit sirik aja nih...! Makanya cepetan cari pacar, jangan kelamaan jomblo...!"
"Eehh, awas yaaa... Malah ngatain Mas, lagi!"
__ADS_1
Mereka tertawa keras bersama.