Istriku Anak Kecil

Istriku Anak Kecil
Bab 6


__ADS_3

Malam Minggu yang ditunggu-tunggu Dira akhirnya tiba juga.


Dira mematut dirinya di depan cermin kamarnya untuk yang kesekian kalinya. Setelan dress selutut berwarna soft pink, dengan sedikit aksen renda dan beberapa bordiran bunga-bunga kecil yang makin mempercantik tampilan dress itu. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah.


Wajah putihnya makin terlihat glowing dengan cushion dan sapuan bedak. Alis dibingkai natural, mascara yang makin melentikkan bulu matanya. Timpa blush on tipis-tipis. Terakhir, polesan lipstik matte perpaduan warna pink dan nude.


Dan, Taraa! Penampilannya begitu sempurna malam itu, tak kalah dengan para selebgram kekinian.


Dira tersenyum penuh percaya diri, mengagumi dirinya sendiri.


Segera dikenakannya wedges heels berwarna coklat khaki. Dan diraihnya tas jinjing berwarna senada dengan sepatunya.


Menuruni tangga perlahan-lahan, bak seorang Miss Universe.


Adit yang sedang duduk di ruang tengah sambil memainkan hp, sampai terheran-heran melihat tingkahnya.


"Kamu lagi ngapain sih, Dek? Lagi ngebayangin jadi 'Duta Anti Anak Alay dan Cabe-Cabean' ya?" ucapnya sambil menahan tawa.


"Iiihhh Mas Adit nih rese yaaa," seru Dira sambil mencubiti Adit dengan gemas.


"Aw, aw sakit tau!"


"Lagian sih! Masa cakep-cakep gini dibilang Duta Anti Cabe-Cabean?" balasnya sambil bergaya mengibaskan rambut.


Adit ngakak.


"Iya deh, sory, sory... Adek Mas yang puaaaliinggg cantik sejagad raya!"

__ADS_1


"Naah, itu baru betuul!"


Adit geleng-geleng kepala.


"Emang kamu mau kemana sih... Udah rapih gitu?"


"Iih, Mas Adit kepo yaa," balas Dira cekikikan. "Ya mau malem mingguan lah sama sang kekasih hati!" lanjutnya sok puitis.


"Kamu udah izin belum sama Mama Papa?"


"Ya udah doongg. Dari 2 hari yang lalu!"


"Hmm....oke,"


"Dira," tiba-tiba Papa muncul dari arah ruang makan. Matanya menatap Dira tajam tidak seperti biasanya.


"Siiaapp Papaku Sayaangg!" balas Dira sambil bergaya hormat.


"Yaudah ya Pa, Mas Adit. Dira berangkat. Assalamu'alaikumm," Dira mencium tangan Papa dan Adit.


Mama memang sedang menghadiri acara pernikahan anak temannya di daerah Kemang.


"Wa'alaikumsalam," jawab Papa dan Adit berbarengan.


"Hati-hati ya kamu," Papa melanjutkan.


"Iiyyaaa Paa. Yaudah ya, dadaahh. Kasian Alif udah nungguin daritadi di ruang tamu. Nanti dia digigitin nyamuk,"

__ADS_1


*****


La Madame, Salon and Spa


"Hoaammhh, masih lama Yank?" Alif membolak-balikkan sebuah majalah otomatif dengan tak berminat, di sebuah sofa tunggu.


Di hadapannya, seorang kapster masih sibuk meng-creambath rambut Dira.


"Hmm... gitu deh kira-kira. Ini aku kan baru crembath. Abis ini mau luluran dulu. Trus baru deh facial gold."


Ya Tuhan... Rasanya Alif ingin menjerit dalam hati. Beginikah rasanya nunggu seorang cewek di salon? Berjam-jam itu bagaikan berabad-abad bagi Alif. Kalau boleh memilih, mendingan dia disuruh nemenin shopping.


"Jangan lama-lama ya Sayang. Tadi kan katanya kamu mau makan di kafe favorit kita?" Alif berusaha membujuk.


"Hmm... iya..." gumam Dira sambil memejamkan mata, kepalanya sedang dipijat, sehingga dia merasa sungguh relax. "Kan kalo aku makin cantik, kamu juga yang seneng... Iya kan Sayang...?"


Alif menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh tidak tau lagi harus berbuat apa. "Iya sih..." desahnya pasrah.


"Kamu pesen minuman gih... Sambil main mobile legend,"


"Honey... Sejak kapan aku suka main mobile legend...?"


"Yaudah kalo gitu sekarang kamu download aja ya aplikasinya. Tenang Yank, disini kan ada wifi gratis. Kamu tuh yah emang, takut banget yaa aku nyuruh kamu download mobile legend pake kuota kamu...?"


"Oh My God...! Apaan sih Yank?" Alif rasanya hampir putus aja.


"Udah kamu gak usah banyak komentar. Nurut aja sama aku! Daripada kamu bengong kan, nungguin aku?"

__ADS_1


Ya Tuhan... apakah memang wanita itu selalu benar?


__ADS_2