Istriku Anak Kecil

Istriku Anak Kecil
Bab 11


__ADS_3

Hampir sebulan lamanya, para siswa kelas 12 SMA Pelita Bunda menanti pengumuman kelulusan dengan perasaan harap-harap cemas.


Sampai akhirnya, hari yang dinanti itu pun tiba. Para siswa kelas 12 berdesakan di sebuah papan pengumuman. Berusaha mencari nama mereka dalam daftar kelulusan.


"Alhamdulillah ya Allah...! Yeee... Gue luluss Siiii...! Eh, ini ada nama lo. Lo juga lulus Siiii...!" pekik Dira girang. Lalu kedua sobat kental itu pun berpelukan erat. Dengan disesaki perasaan bahagia.


Dan nggak lama kemudian, semakin banyak terdengar seruan dan pekikan girang para siswa kelas 12 itu. Mereka berselebrasi begitu mengetahui nama mereka ada di daftar kelulusan.


Dan yang paling membuat bahagia, bisa dipastikan semua siswa kelas 12 SMA Pelita Bunda ternyata lulus dengan hasil yang tidak mengecewakan.


"Hei, Sayang. Selamat ya." tiba-tiba Alif muncul di hadapan Dira.


Wajah Dira tampak bersemu merah. Maklum, sudah lama sekali dia tidak bertatap muka dengan Alif kecuali lewat WA. "Makasih ya. Kamu juga selamat ya, Yank."


Lalu mereka berdua-pun berpelukan sesaat saling melepas rindu.


"Ehem, ehemm... Nggak ada yang ngasih selamat niihh ke gue...? Ya Allah... Malang nian nasib seorang jomblo," ucap Sisi ngenes.


Alif dan Dira berpandangan sesaat. Lalu tertawa geli.


"Selamaaattt... Untuk kita semuaaa...!" seru Dira girang, dengan suara lantang.


*****


Acara wisuda dan pelepasan seluruh siswa kelas 12 SMA Pelita Bunda sudah dilangsungkan 2 hari yang lalu.


Dan kini, masa-masa perjuangan mereka belum selesai sampai disini. Yup, betul sekali. Masih ada waktu sebulan untuk mereka mempersiapkan diri masuk ke Universitas impian mereka.


Begitu pula dengan Dira dan Sisi. Kedua sobat kental itu sudah merencanakan sejak lama untuk mendaftar di kampus yang sama. Ya, tentunya kampus impian mereka.


Tak heran mereka giat belajar bersama. Kadang di rumah Dira, kadang juga di rumah Sisi. Atau kadang di kafe favorit mereka.

__ADS_1


*****


Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul 21.15 WIB.


Namun Dira masih berkutat di depan sebuah laptop dengan buku cukup tebal di sampingnya. Waktu persiapan untuk masuk perguruan tinggi tinggal 4 hari lagi.


Kriett. Tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya.


Ternyata itu Adit. Dia melangkah masuk ke dalam dengan sebuah cangkir di tangannya.


"Mas salut banget deh dengan adek Mas yang satu ini," ucapnya. "Nih, hot chocolate buat kamu." lanjutnya sambil meletakkan cangkir yang di bawanya di sebelah laptop Dira.


"Tapi jangan terlalu diforsir juga ya. Kamu kan juga harus istirahat yang cukup. Jangan tidur terlalu larut juga. Nanti kamu sakit," nasehatnya lembut.


"Hmmm," Dira menyahut dengan gumaman yang tak terlalu jelas.


"Thanks ya Mas, hot chocolate-nya."


"Iya... Masku...,"


Adit-pun berjalan keluar dari kamar Dira sambil menutup pintu.


"Hoaaahmmmm..." dia menguap lebar sambil merentangkan kedua tangan lebar-lebar. Lalu diraihnya cangkir berisi hot chocolate itu dan menyesapnya perlahan.


*****


Dan akhirnya, 2 hari lagi adalah hari ujian masuk perguruan tinggi. Ya, perguruan tinggi dambaan Dira dan Sisi sejak lama, Universitas Isaac Newton. Salah satu kampus ternama dan bergengsi di Jakarta. Serta difavoritkan banyak orang.


Sedangkan sang pacar, Alif, memilih daftar di sebuah kampus di bilangan Depok.


Malam itu jam menunjukkan pukul 19.10 WIB ketika Dira sedang rebahan di kamarnya usai makan malam.

__ADS_1


Ya, dia sedang bertelepon ria dengan Alif.


"Awas aja ya... kalo kamu macem-macem disana. Kalo sampe genit-genit ke cewek-cewek disono, gak akan aku maafin kamu!"


"Duilee... pake ngancem-ngancem segala. Biasanya tuh yang suka kayak gitu, justru dia yang niat pengen ganjen ke cowok-cowok temen kampusnya,"


"Iiihhh, aku serius...!" ucap Dira pura-pura marah.


"Kamu tuh lagian ada-ada aja sih. Gak mungkin lah aku macem-macem. Aku kan sayang banget sama kamu,"


"Hueekks, gombal!"


"Tuh kan, malah dibilang gombal," kata Alif serba salah.


"Ya emang gombal..."


Alif menarik napas. "Terus maunya apa...?" sambungnya berusaha bersabar.


"Mau bakso, siomay, cilok..."


"Yee... Dasar tukang jajan!"


Mereka tertawa nyaring bersama.


"Yaudah kamu bobo gih. Jangan tidur malem-malem..." lanjut Alif di ujung sana.


"Hmm... iya... Kamu juga yaa, jangan bobo malem-malem..."


"Iya Sayang... Yaudah ya honey, bye. Miss you..."


"Miss you tooo... Honey,"

__ADS_1


Mereka-pun memutus sambungan telepon.


__ADS_2