
LIKE, KOMENT, RATE5, SHARE, N FAVORIT DULU GAEESS! BARU LANJUT BACA
*****
Mobil Adit berdecit di depan sebuah toko besar dengan interior mewah dan elegan pada bagian luarnya. Ya, itu adalah toko cokelat import. Adit berniat membawakan sesuatu untuk Sisi.
Setelah memarkirkan mobilnya, dia pun melenggang masuk ke dalam toko itu.
Seorang karyawan toko langsung menyambutnya super ramah. Ya gimana gak ramah coba, ngeliat penampilan Adit yang necis dengan outfit dari atas sampai bawah hampir branded semua.
"Selamat siang Mas..." sambut karyawan wanita itu sambil tersenyum super lebar.
Adit mengangguk kecil.
"Saya minta cokelat paling enak disini."
"Baik mari ikut saya Mas."
Adit-pun berjalan mengekori karyawan itu. Kemudian berhenti di depan sebuah rak besar yang berisi kotak-kotak cokelat yang tersusun rapi.
"Ini adalah salah satu cokelat import paling laris disini Mas. Soal rasa, jangan ditanya." jelasnya sambil menunjukkan sekotak cokelat pada Adit. "Ini adalah cokelat asli Perancis yang pertama kali dibuat pada tahun 2000 untuk memperingati hari jadi ke 200 chocolatier Perancis. Tiga puluh lima cokelat ini disusun dalam kotak yang menyerupai sebuah buku. Dilengkapi truffle, bonbons, chip cokelat, cokelat putih dan koin emas." lanjutnya lagi panjang lebar.
"Saya ambil ini." tukas Adit tanpa basa-basi lagi.
"Baik Mas..." karyawan itu-pun tersenyum makin ramah mendengar ucapan Adit. Lalu membawa cokelat itu menuju kasir dan memberikannya pada temannya yang bertugas disana. Adit mengekornya di belakang.
"Totalnya delapan juta lima ratus ribu rupiah." ucap sang kasir wanita.
"Ok." Adit bergegas mengeluarkan dompet dan mengambil credit card-nya. Kemudian menyerahkannya pada kasir itu.
"Terima kasih Mas. Silahkan ini cokelatnya dan ini kartu kreditnya..." ucap sang kasir tersenyum ramah seraya menyerahkan kartu kredit miliknya serta cokelat yang sudah terbungkus rapi dalam paper bag berdesain mewah.
Adit-pun lantas mengambilnya. "Oke sama-sama."
Lalu melangkah sedikit cepat menuju pintu keluar toko.
*****
Resto Green Screen.
"Sory, kamu nunggu lama ya?" sapa Adit dengan raut wajah bersalah, menghampiri Sisi yang sudah duduk di sudut restoran tepat di samping jendela.
Sisi mengulas senyum. "Santai aja ih Mas Adit. Aku juga baru sampe berapa menit yang lalu kok."
Adit menarik napas lega. Kemudian menarik kursi di hadapan Sisi.
"Soalnya tadi aku mampir dulu. Makanya agak telat datengnya," imbuhnya lagi sambil nyengir.
__ADS_1
Sisi menautkan kedua alisnya. "Mampir kemana?"
"Beli ini," jawab Adit sambil mengacungkan paper bag berisi cokelat itu.
Alis Sisi makin bertaut, "Itu apa?"
"For you. Kamu buka aja, hehe..." Adit menyodorkan paper bag itu pada Sisi.
Sisi tersenyum sumringah. "Serius nih Mas? Ini buat aku?"
"Bukan, buat nenek kamu." cetus Adit asal. "Yaiyalah buat kamu!"
Sisi ngikik. Lalu dengan tak sabar mengintip isi paper bag itu. Oh, ternyata sekotak cokelat import. Dia menjerit kesenangan dalam hati. Dan dia berjanji dalam hatinya, bahwa dia tidak akan memakan cokelat itu namun akan menyimpannya baik-baik. Bahkan kalo perlu dimuseumkan! Wkwkwk.
"Makasih banyak lho Mas," ucap Sisi tak dapat menyembunyikan binar di wajahnya.
"U're welcome." balas Adit tersenyum.
"Hmm... sebenernya aku juga punya sesuatu buat Mas Adit."
"Ohya...?"
Sisi mengangguk cepat. Kemudian tangannya meraih paper bag dengan ukuran besar yang terletak di kursi di sampingnya.
"Ini cake kesukaan Mas Adit kan?" ucapnya sambil menyodorkan paper bag itu pada Adit. Kebetulan waktu itu adik kesayangannya alias Dira, pernah bercerita kalau sang kakak adalah pecinta berat dessert box.
Adit meraihnya dengan pandangan takjub. Lalu mengintip isinya. " Ya ampun Si, kamu beliin sebanyak ini. Mau nyuruh Mas Adit jualin lagi ya?"
Sisi terkikik geli. "Ide yang bagus!"
Adit tertawa kecil, kemudian menggelengkan kepalanya. "Kamu mau bikin Mas Adit diabetes ya?"
"Eh... eng-enggak kok Mas Adit, sumpah! Aku ga da maksud kayak gitu!" ucapnya panik.
Adit malah tertawa ngakak. "Iyalah Mas Adit juga tau. Mas Adit cuma bercanda!" dengan refleks dia mengacak pelan rambut Sisi.
Blush! Seketika kedua pipi Sisi merona merah. Ya Tuhan, semoga Adit tidak menyadarinya!
Adit juga ikut salah tingkah. "Sory,"
"Iya gak papa." balas Sisi berusaha menutupi kegugupannya.
"By the way makasih banyak ya Si untuk ini," tukas Adit berusaha mencairkan suasana yang mendadak kaku itu, sambil mengacungkan bungkusan pemberian Sisi.
"Sama-sama Mas Adit," angguk Sisi sambil tersenyum.
"Eh ya ampun, kita daritadi belum pesen ya?" Adit teringat sesuatu.
__ADS_1
"Ohya bener juga ya," Sisi cuma nyengir.
Adit-pun memanggil seorang pelayan. Pelayan itu memberikan masing-masing buku menu pada mereka berdua. Setelah cukup lama membolak-balikkan buku menu, akhirnya mereka berdua sudah menentukan ingin memesan apa.
Pelayan-pun mencatat pesanan mereka. Setelah selesai pelayan itu pun berlalu.
Diam-diam Adit memperhatikan penampilan Sisi siang itu. Rambut panjang kepirangannya dikuncir kuda. Wajah putihnya yang selalu segar dengan make-up tipis. Dengan setelan dress vintage ala korea dengan motif bunga pada bagian luar sedangkan bagian dalam berwarna hitam.
Ya ampun... kenapa gadis ini menggemaskan sekali sih!
Adit buru-buru memalingkan wajahnya ketika gadis itu menoleh ke arahnya.
"Mas Adit kenapa?" tanyanya polos.
"E-eh... gak papa kok!"
Sisi menahan senyum geli.
"Aku ke toilet bentar ya Mas,"
"Mau dianterin?"
Pertanyaan yang dilontarkan Adit barusan serta merta membuat kedua matanya melotot tajam.
"Hahahahahahaa... bercanda!"
Sisi pura-pura cemberut.
"Dasar Mas Adit. Yaudah bentar ya Mas," dia pun beranjak dari kursinya.
Adit mengangguk sambil tersenyum kecil.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued...
__ADS_1