
LIKE, KOMENT, RATE5, SHARE, N FAVORIT DULU GAEESS! BARU LANJUT BACA
*****
Akhirnya mereka tiba di pengkolan kompleks dimana abang penjual nasi goreng tersebut mangkal, yang berseberangan langsung dengan sebuah minimarket yang ada di kompleks itu. Walaupun tu abang nasi goreng hanya berjualan dengan gerobak sederhana, tapi pembelinya lumayan bejibun sehingga mereka rela ber-antri ria demi menikmati lezatnya nasi goreng buatan si abang.
Si abang nasi goreng juga menyediakan beberapa meja dan kursi untuk pembelinya yang ingin makan disana.
Keraguan Fahri jadi hadir lagi mengingat sang abang penjual nasi goreng sedang kedatangan banyak pembeli. Dia tidak yakin apakah si abang mau sedikit diganggu olehnya yang sedang kerepotan melayani para pembelinya itu, untuk menggantikan dirinya memasak seporsi nasi goreng untuk istri ajaibnya itu.
Dira duduk di kursi plastik yang ada di dekatnya. Sedang Fahri berdiri di sampingnya.
Dira menarik pelan ujung kaos yang dipakai Fahri. "Mas... ayo ngomong sama si abang..." bisiknya.
Fahri menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lalu akhirnya mengembuskan napas perlahan.
Dengan mengumpulkan segenap keberanian dan rasa percaya dirinya, dia mulai menghampiri si abang nasi goreng yang sedang sibuk mengaduk-aduk nasi goreng di wajan besar yang ada di atas gerobaknya.
"Bang," bisik Fahri pada si abang yang ditaksir umurnya sekitar 30-an itu.
"Ya Pak? Mau berapa porsi? Makan disini atau dibungkus...?" balasnya sambil terus mengaduk nasi goreng di wajan.
"Emm, anu gini lho Bang," ucap Fahri ragu. "Istri saya lagi hamil. Dan pengen nasi goreng abang ini, tapi saya sendiri yang langsung masakin buat dianya..." bisiknya berharap tidak ada pembeli lain yang mendengar.
Seketika si abang nasi goreng menghentikan aktifitasnya. Lalu dia malah ketawa terbahak-bahak. Membuat Fahri rasanya ingin segera menyembnyikan wajahnya di dalam gua hira.
"Boleh Pak boleh kok... Tapi ndak papa kan kalau nunggu sekitar 6 antrian lagi...?" lanjut si abang sambil berusaha menahan senyum geli. Kini dia mulai mengangkat wajan berisi nasi goreng buatannya yang sudah jadi. Lalu mulai menaruhnya ke atas piring yang sudah disediakan sebanyak 5 buah. Berusaha membagi rata nasi goreng di dalam wajan besar itu.
"Ok," ucap Fahri akhirnya, meringis menahan malu. Lalu dia berjalan ke arah sang istri dan duduk di kursi plastik yang ada di samping istrinya.
Dengan cekatan si abang nasi goreng mulai memberikan piring berisi nasi goreng yang sudah jadi, kepada para pembelinya yang sudah menunggu di meja masing-masing. Setelah itu, dia kembali ke gerobaknya dan membuatkan pesanan selanjutnya.
"Sabar ya Sayang. Masih ngantri..." ucap Fahri lembut sambil mengelus pelan kepala Dira.
Dira mengangguk sambil tersenyum.
Setelah menunggu kira-kira 20 menit, abang nasi goreng akhirnya menghampiri Fahri.
"Pak, gimana jadi gak...?" tanya si abang dengan senyum penuh arti.
Fahri terkesiap. "Iya Pak!" sahutnya mantap, sambil berusaha menyembunyikan senyum kecut.
"Monggo..." si abang mempersilakan dengan sopan.
__ADS_1
Mau gak mau Fahri pun beranjak dari duduknya. Dan mulai berjalan ke arah gerobak si abang dengan segenap rasa percaya diri yang dimilikinya.
Inget Fahri. Ini demi istri. Singkirin semua rasa malu, ok...!!?
"Bang, sambil ajarin ya. Biar rasanya enak..." bisik Fahri pada si abang yang berdiri di sampingnya.
"Siiiiiippp Booss...!"
Fahri pun mulai menyiapkan bahan-bahan yang sudah tersedia sambil si abang nasi goreng yang baik hati itu memberikan instruksi.
Para pengunjung yang sedang makan di meja mereka masing-masing maupun mereka yang masih menunggu antrian, mulai berbisik-bisik sambil cekikikan geli melihat ada seorang pria tampan yang tiba-tiba beralih profesi menggantikan posisi si abang.
Fahri yang mulai menyadari kasak-kusuk para pengunjung itu, berusaha menulikan telinganya. Kini dia sudah tidak peduli lagi dengan anggapan orang. Ataupun misalkan mereka menganggap dia adalah seorang pria yang takut istri. Pokoknya dia tidak peduli!
"Uuh... mau doongg... dibuatin nasi goreng sama abang ganteng..." tiba-tiba seorang mbak-mbak yang setelannya udah mirip kayak cabe-cabean, yang sedang duduk bersama temannya sambil menikmati nasi goreng, nyeletuk dengan gaya genit.
Dira yang mendengarnya, otomatis langsung melototin tuh mbak-mbak dengan tatapan horor melebihi tatapan malaikat pencabut nyawa. Si mbak sontak langsung salah tingkah dan buru-buru menghindari tatapan mematikan Dira.
Sedangkan Fahri memang tidak ngeh karena dia masih berjibaku di atas gerobak si abang nasi goreng.
"SUAMIKU... masih lama yaaa...???" teriak Dira lantang dengan sengaja menekankan pada kata suamiku.
Si mbak-mbak itu makin salah tingkah. Lalu kini dia malah beranjak dari duduknya sambil memberi gesture pada teman di depannya untuk buru-buru pergi. Padahal nasi goreng mereka belum habis.
"Lima puluh ribu Mbak,"
Si mbak itu buru-buru menyerahkan uang yang sudah disiapkannya kepada si abang nasi goreng. Setelah itu tanpa bicara apa-apa lagi ngibrit bersama temannya menggunakan sebuah sepeda motor matic.
Dira tertawa puas dalam hati.
Rasain lo dasar cabe-cabean...!! Makanya jangan suka keganjenan sama laki orang...!!!
Setelah kira-kira hampir 30 menit lamanya Fahri bertempur di gerobak si abang nasi goreng, akhirnya dia berhasil menyelesaikan misinya. Walaupun tampilannya tidak sama dengan yang biasa dibuat oleh si abang, namun sepertinya itu masih layak disebut dengan nasi goreng.
Fahri menyeka peluh yang membasahi pelipisnya. Lalu tersenyum puas dengan hasil masakannya yang dipandu langsung oleh si abang nasi goreng. Dengan semangat dia segera memindahkan nasi goreng buatannya ke atas piring yang sudah disediakan. Lalu menambahkan acar dan taburan bawang goreng serta kerupuk di atasnya.
Kemudian dengan senyum puas berjalan ke arah istri tercinta yang sudah menunggu sejak tadi sambil menenteng piring berisi nasi goreng buatannya itu.
"This is it...! Nasi goreng spesial dengan bumbu cinta. Untuk istri tercintaku...!" tutur Fahri dramatisir sambil meletakkan piring berisi nasi goreng itu di atas meja di hadapan Dira.
Mata Dira berbinar-binar. "Oh God...! Makasih honey...!"
Fahri ikut duduk di hadapan Dira. "Ayo cepetan cobain," lanjutnya tak sabaran.
__ADS_1
Dira mengangguk penuh semangat. Segera disendoknya nasi goreng yanh tersaji di hadapannya. Lalu perlahan menyuap ke dalam mulutnya.
Fahri menunggu dengan perasaan berdebar. "Gimana Sayang...?"
"Hmmmm..." Dira masih mengunyah tanpa ekspresi. Yang membuat Fahri makin tak sabar untuk mendengar komentar istri tercintanya itu tentang rasa nasi goreng buatannya.
"Aku gak nyangka ternyata Mas ada bakat jadi tukang masak katering...!" tutur Dira berapi-api sambil berdecak penuh kekaguman.
Kontan Fahri membulatkan kedua matanya. "Sriusan kamu Yank...????" tanyanya seakan tak percaya.
Dira mengangguk pasti.
"Yuhuiiiiiiii...!!! Mas berhasil dong kali ini...!" Fahri menarik kepalan tangannya dari atas ke bawah dengan satu gerakan cepat seolah mengisyaratkan 'yessss'.
Dira tertawa kecil.
"Makasih yaaa Sayangggg...!!" ulang Dira lagi sambil memberikan senyum termanisnya pada sang suami yang telah bersusah payah itu.
Fahri nyengir, kemudian mengacak rambut Dira dengan gemas. "Sama-samaaa... Istriku yang sangat merepotkan ini...!" ucapnya pura-pura menggerutu.
Yang dibalas Dira dengan tawa keras.
"Bang, makasih banyak lho! Kapan-kapan bisa kayaknya nih saya les privat masak nasi goreng ke Abang...!" canda Fahri berseru nyaring pada si abang yang sedang membuat pesanan selanjutnya di gerobaknya.
Si abang hanya tertawa sambil terus melakukan altifitasnya, "Sama-sama Pak...!"
Fahri tersenyum kecil. Dira-pun melanjutkan menyantap dengan lahap nasi goreng buatan suaminya itu. Fahri memandanginya sambil tak hentinya menyunggingkan senyum.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued...
__ADS_1