
LIKE, KOMENT, RATE5, SHARE, N FAVORIT DULU GAEESS! BARU LANJUT BACA
*****
Hari Senin pagi.
Adit melirik jam dinding yang menggantung di ruang kerjanya. Pukul 08.30 WIB. Pandangan matanya beralih pada tumpukan berkas di atas meja kerjanya yang telah diserahkan para staff-nya beberapa menit yang lalu. Laporan penjualan perusahaan beserta invoice dan dokumen penjualan yang diterbitkan. Tumpukan berkas itu sudah mengantri untuk diperiksa dan ditandatangani-nya. Oya, for information, Adit bekerja di Perusahaan multinasional yang bergerak di bidang produksi barang konsumen dengan markas utama berada di Rotterdam, Belanda. Nama perusahaannya adalah Panglima Brothers Group, karena pendiri pertama kalinya adalah seorang pria berdarah Indonesia-Belanda bernama Panglima Zeepfabrieken.
Tiba-tiba saja terdengar bunyi 'kruyuk' yang berasal dari perutnya. Ya ampun pantas saja. Adit baru sadar kalau perutnya belum terisi apapun sejak pagi. Dia lantas meraih gagang telepon yang berada di atas meja kerjanya. Kemudian menekan nomor, dan tak lama telepon-pun tersambung.
"Ya halo Kang Arman. Tolong pesenin saya nasi pecel di kantin ya. Ya ya Kang, tolong diantar ke ruangan saya seperti biasa ya. Ya oke, makasih Kang," ucapnya pada salah seorang OB di kantor.
Adit pun meletakkan kembali gagang telepon pada tempatnya.
Masih ada waktu buat dia sarapan sebelum melakukan briefing dengan para staff-nya pukul 09.00 nanti.
Tangan Adit terulur lagi ke arah meja kerjanya, mengambil ponsel yang tergeletak tak jauh darinya. Dibukanya pola layar ponselnya yang terkunci. Dan seketika layar ponselnya pun terbuka. Dia masuk ke fiture galeri. Tangannya naik turun men-scroll layar ponselnya. Wajahnya tak henti mengulas senyum sembari memandangi beberapa buah foto di galeri ponselnya.
Ya, apalagi kalau bukan potret dirinya dan Sisi waktu di Taman Ria hari Sabtu yang lalu. Sisi baru mengirim foto-foto mereka berdua tadi malam ke whatsapp-nya. Ada sekitar 9 foto selfie dirinya dan Sisi waktu di Taman Ria itu. Ditambah 3 buah foto Sisi yang diam-diam Adit ambil menggunakan ponselnya ketika Sisi sedang asik selfie sendiri. Senyum Adit makin mengembang lebar.
Foto-foto itu bahkan telah dia copy dan disimpan di folder pribadi di laptop miliknya. Aaaahhh, rasanya dia memang benar-benar sudah gila! Buktinya dia seperti tak ingin berhenti memandangi wajah Sisi pada foto-foto itu. Ya ampun, rasanya kini Sisi bagai heroin yang membuatnya tak mampu mengusir bayangan Sisi dalam benaknya!
"Beb Adit!" tiba-tiba sebuah suara beriringan dengan pintu ruang kerjanya yang disentak cukup keras, menyapa gendang telinganya hingga membuat dia cukup terkejut.
"Clara! Kamu itu kebiasaan ya! Ketok dulu pintunya!" omel Adit.
__ADS_1
Gadis yang dipanggil Clara itu malah nyengir tanpa dosa mendengar omelan atasannya. Gadis bertubuh langsing dan semampai itu berjalan santai menghampiri meja kerja Adit. Kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depan meja kerja Adit. Sambil menyilangkan kaki jenjangnya.
"Dan satu lagi, panggil saya Pak! Saya ini atasan kamu, gak sopan kamu!" Adit terus mengomeli gadis berparas cantik di hadapannya itu.
Clara memutar bola matanya jengah. "Oooohhh, c'mon! Masih kaku aja sih kamu Dit! Kita udah temenan berapa lama sih?" balasnya cuek.
"Ck, ada perlu apa kamu?" ucap Adit masih kesal.
Clara adalah salah seorang staf pelaksana. Yang bekerja langsung di bawahnya. Sehingga mau tak mau Adit memang banyak berinteraksi dengannya secara langsung. Hingga tak sengaja menciptakan keakraban antara dirinya dan Clara, ya, walaupun hanya sebatas rekan kerja. Clara yang pada dasarnya adalah pribadi yang supel dan ceria, sehingga dia mudah akrab dengan siapun, termasuk Adit yang notabene adalah atasannya.
Di keluarga, Adit memang dikenal pribadi yang iseng dan suka slengean. Tapi banyak orang yang tak tau, bahwa Adit seperti memiliki kepribadian lain di tempat kerjanya. Ya, seolah dia memiliki kepribadian ganda. Di tempat kerjanya, justru Adit dikenal oleh rekan-rekannya sebagai pribadi yang dingin dan cuek. Terlebih dengan rekan kerja wanita, dia tidak terlalu banyak berinteraksi. Itulah juga yang menjadi salah satu penyebab, mengapa sampai sekarang dia masih jadi jomblo sejati.
Clara adalah gadis berparas cantik. Tubuhnya bisa dikatakan nyaris sempurna dengan bentuk langsing dan semampai menyerupai model internasional. Kulitnya putih mulus tanpa cela. Rambut panjangnya menjuntai hampir sepinggang dengan warna kecoklatan. Aroma parfum mewahnya sudah tercium dari radius 6 meter jika dia melintas. Maka tak heran dia menjadi incaran para karyawan pria di kantornya.
Namun tak ada satupun yang berhasil mencuri hatinya. Karena ternyata, hati Clara sudah tertumpu pada satu hati, ya, siapa lagi kalau bukan laki-laki dingin yang menjadi atasannya itu. Sikapnya yang cuek dan dingin pada semua wanita betul-betul membuatnya penasaran setengah mati. Bahkan sampe klepek-klepek.
Entahlah. Adit memang hanya menganggap Clara tak lebih dari seorang teman. Walaupun dia cantik, tapi di benak Adit tak ada hal lain yang mampu membuatnya tertarik pada gadis itu. Karena menurutnya, Clara seperti kebanyakan wanita pada umumnya, manja serta hobi shopping dan dandan.
"Galak banget sih Sayang!" ucap Clara dengan nada manja.
"Stop panggil aku kayak gitu, Clar! Aku risih dengernya!" ketus Adit.
Clara malah cekikikan geli. Dia justru makin senang menggoda Adit kalau melihat atasannya itu mengomelinya.
"Iyaaaa iyaaaaa... Maaf deeeehhh Pak Adit!" godanya lagi.
__ADS_1
"Udah to the point aja. Ngapain sih kamu?" Adit berdecak kesal.
"Iiiihhh, galak banget sih!" Clara mengerucutkan bibirnya. "Nih, aku cuma mau kasih kamu sarapan! Pasti kamu belum sarapan kan?" lanjutnya sambil menyodorkan sebuah bungkusan berisi sekotak sandwich isi daging asap.
"Gak usah, tadi aku udah pesen nasi pecel." jawabnya datar.
"Iiiiihhhh, pamali tau nolak rejeki! Yaudah ini aku taro sini ya, buat makan siang kamu!" tanpa menunggu persetujuan Adit lagi, Clara bergegas meletakkan bungkusan yang dibawanya ke atas meja kerja Adit.
"Ya ya oke. Makasih," ucap Adit dengan wajah malas.
"Sama-sama Sayangkuuuu...!" balasnya sambil ngikik.
Adit mendelik kesal. Kemudian Clara buru-buru beranjak dari kursi dan melenggang dengan cepat keluar dari ruang kerja Adit sebelum atasannya itu menceramahinya lagi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continued...