Istriku Anak Kecil

Istriku Anak Kecil
Bab 91


__ADS_3

LIKE, KOMENT, RATE5, SHARE, N FAVORIT DULU GAEESS! BARU LANJUT BACA


*****


Adit melirik jam dinding di ruang kerjanya. Sudah hampir jam makan siang.


Tiba-tiba saja dia teringat gadis itu. Sedang apa ya dia sekarang? Aahh, tiba-tiba saja Adit punya ide cemerlang! Gimana kalau dia ajak gadis itu makan siang di luar?


Rasanya memang dia sudah gila. Ya, gila karena gadis itu! Buktinya sekarang, tiada jam, menit, bahkan detik, kecuali bayangan gadis itu yang seolah menari-nari di benaknya. Tiada hari tanpa merindukan gadis itu.


Dia akan izin pulang cepat pada Pak Presdir dengan alasan tidak enak badan. Tentu dia akan mendapatkan izin dengan mudah, karena dia memang anak kesayangan Presdir. Sudah pasti, karena dia seorang supervisor teladan dan berprestasi. Apalagi memang selama ini dia tidak pernah memakai jatah cutinya, jadi pasti mudah baginya untuk minta izin.


Adit pun bergegas bangkit dari kursi kerjanya. Kemudian melangkah keluar dari ruang kerjanya. Berjalan dengan agak cepat menuju ruang Presdir yang terletak di ujung lorong.


Setelah sampai di depan ruang Presdir, dia mengetuk pelan pintunya.


Tak perlu menunggu waktu lama, sahutan pun terdengar dari dalam. "Ya masuk!"


Adit memutar kenop pintu perlahan, lalu masuk ke dalam ruangan Presdir-nya.


"Adit?" ucap lelaki paruh baya itu sambil menurunkan sedikit letak kacamata-nya untuk memastikan penglihatannya. "Silahkan duduk," lanjutnya sambil melanjutkan pekerjaannya di depan laptop.


"Terima kasih Pak," jawab Adit lalu duduk dengan sopan di kursi yang ada di hadapan Presdir-nya.


"Ada perlu apa Dit?" tanya Pak Bram sambil mengalihkan pandangannya pada anak buahnya itu. Dia menghentikan aktifitasnya sejenak.


"Em... begini Pak. Saya minta izin pulang cepat. Karena sejak pagi sedang tidak enak badan," tutur Adit yang tentu saja bohong. Ya, itu hanya alasannya saja agar dia bisa bolos siang ini.


"Oke, silahkan kamu istirahat saja di rumah Dit. Semoga kamu cepat sehat ya,"


Tuh kan, sangat gampang baginya untuk meminta izin! Anak kesayangan gitu lho!


Tapi Adit jadi merasa bersalah pada atasannya yang sangat baik itu karena dia telah bohong demi bisa bolos siang ini. Padahal selama ini dia dikenal sebagai supervisor teladan dan berprestasi yang selalu menjadi panutan karyawan lainnya.


Monmaap ya Pak. Saya janji gak bakal ngulangin lagi deh :')

__ADS_1


"Baik, terima kasih ya Pak." balas Adit sambil mengangguk kecil.


Pak Bram tersenyum kecil, "Sama-sama... Kalau besok kondisi kamu belum fit, istirahat saja dulu di rumah. Tidak usah dipaksakan,"


"Baik Pak. Terima kasih sekali lagi."


Pak Bram mengangguk sambil tersenyum lagi.


"Kalau begitu saya permisi Pak."


"Ya."


Adit-pun beranjak dari kursi dan berjalan keluar dari ruangan Presdir. Dalam hati dia bersorak kegirangan.


*****


Kini Adit sudah berada di dalam mobilnya yang melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang tak terlalu ramai.


Segera diraihnya ponsel yang tergeletak di sampingnya. Menghubungi kontak seseorang.


"Walaikumsalam," jawab Adit dengan senyum terkembang lebar.


"Ada apa Mas Adit?"


"Posisi kamu dimana sekarang?"


"Em... aku lagi di kampus Mas."


"Ohh... kamu masih ada kuliah?" ada sebersit rasa kecewa di hatinya.


"Enggak sih Mas... Ini baru aja selesai kuliahnya sejam yang lalu."


Yeeessss... I will get you as soon as possible!


Adit bersorak kegirangan lagi dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa Mas?"


"Em... itu. Mas Adit mau ajak kamu makan siang di luar. Bisa?" Adit penuh harap dalam hati.


"Hmmm... bisa kok,"


Cihuuuyyyy...!


"Enaknya kita makan dimana?"


"Hmmmm..." Sisi tampak berpikir di ujung sana. "Serah Mas Adit aja deh, hehe..."


Adit tertawa kecil. "Yaudah kalo gitu kita ketemuan di Resto Green Screen ya. Gimana?" ucap Adit menyebut salah satu restoran western di Jakarta.


"Okey,"


"Oke. Bye Si..."


"Bye Mas Adit..."


Sambungan telepon-pun terputus. Seiring dengan senyum Adit yang merekah lebar.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2