
"Padahal saya udah bilang gak suka kekerasan. Tapi kalau kalian memaksa, terpaksa saya harus pakai kekerasan..." ujarnya pelan dan tajam.
Lalu tangannya mencengkram kerah baju lelaki jangkung itu, dan dengan gerakan cepat meninju perut lelaki itu dengan satu lututnya.
Lelaki jangkung itu tersungkur ke tanah sambil meringis kesakitan.
"Tadi saya sudah lapor polisi. Kalian mau pergi dari sini atau duduk manis menunggu para polisi datang dan menggiring kalian!?" ancam Fahri yang tentu saja hanya kebohongan untuk menakut-nakuti 2 lelaki itu.
"Ayo kita cabut man!" titah lelaki bermata sipit itu ketakutan.
Lelaki jangkung itu pun bersusah payah berdiri sambil memegangi perutnya yang masih sakit. Lalu kedua lelaki itu lari tunggang langgang dari hadapan mereka.
Fahri melirik wanita muda yang masih berjongkok ketakutan itu. Dia berjalan perlahan menghampirinya.
"Anda gak papa?" tanya Fahri memastikan keadaan wanita itu.
Wanita yang tak lain Stella itu, mengangguk pelan dengan tubuh masih bergetar.
"Mari saya antar pulang. Gak baik perempuan muda seperti kamu masih di jalanan hampir tengah malam seperti ini. Bagaimana kalau nanti ada orang jahat lagi?"
Stella terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk pelan. Dia pun bangkit perlahan-lahan.
"Ma--makasih... Mas Fahri," ucapnya terbata.
Fahri tak membalas ucapan wanita itu, dan langsung berjalan masuk ke dalam mobilnya. Stella-pun mengekornya dan masuk ke dalam mobil Fahri.
Sepanjang perjalanan, tak ada yang membuka suara. Hanya keheningan yang tercipta.
"Kenapa anda ada di jalanan larut malam seperti ini?" akhirnya Fahri tergelitik untuk bertanya. Tanpa menoleh pada wanita di sampingnya.
Wanita itu terdiam beberapa saat.
__ADS_1
"Sebenarnya... Pekerjaan sampingan saya itu seorang DJ di sebuah club malam..." jawabnya ragu-ragu.
Fahri hanya manggut-manggut mendengar jawaban wanita itu.
"Pekerjaan saya itu staff marketing di sebuah perusahaan otomotif..." lanjutnya lagi, "...dan di malam hari saya melakukan pekerjaan sampingan sebagai seorang DJ..."
Fahri mendengarkan wanita itu bercerita.
"Maaf kalau ucapan saya menyinggung anda Mbak Stella..." ucap Fahri menggantung, "...tapi alangkah baiknya anda keluar saja dari pekerjaan sampingan anda kalau itu malah mengancam keselamatan anda,"
Mendengar ucapan Fahri, wanita itu hanya terdiam sambil menggigit bibir bawahnya.
Tiba-tiba Fahri mengambil mantel miliknya yang berada di jok belakang, lalu menyodorkannya pada Stella.
Stella melihat mantel yang disodorkan Fahri dengan tatapan bingung.
"Untuk menutupi tubuh anda," ucap Fahri tanpa menoleh sedikitpun pada wanita di sebelahnya.
Stella meneguk salivanya kasar dan dengan ragu mengambil mantel yang disodorkan Fahri. Lalu menutup tubuh yang memamerkan dada dan paha nya itu dengan mantel milik Fahri.
"Ma--makasih..." ucapnya terbata.
*****
Mobil Fahri berhenti tepat di depan rumah Stella.
"Anda boleh turun Mbak," ucap Fahri yang melihat wanita itu hanya diam dan tidak turun dari mobilnya.
Stella menggigit bibir bawahnya, "Sa--saya... takut Mas Fahri. Bisakah anda mengantar saya sampai dalam...? Saya takut laki-laki tadi masih mengikuti saya..." ucapnya ragu.
Fahri memijat pelipisnya. Lalu berdecak kesal.
__ADS_1
"Ok baiklah. Ayo turun!" akhirnya dia terpaksa menuruti wanita itu. Karena memang Stella terlihat sangat ketakutan.
Mereka berdua turun dari mobil. Stella berjalan di depan dan Fahri mengekornya.
Lelaki itu mengantar Stella sampai ruang tamu rumahnya.
"Ok kalau begitu saya permisi. Jangan lupa kunci pintu rumah anda," ucap Fahri lagi.
Namun di luar dugaannya, tiba-tiba wanita itu memeluk tubuhnya. "Makasih ya Mas Fahri..." lirihnya.
Fahri terperangah bukan main. Namun dia buru-buru tersadar dan segera melepaskan tubuh wanita itu dengan kasar.
Lelaki itu mendelik menatap wanita di depannya. "Tolong anda jangan berpikiran yang aneh-aneh!" bentaknya kasar. "Saya itu murni menolong anda karena anda itu adalah tetangga saya. Tidak mungkin saya diam saja melihat orang yang saya kenal sedang dalam bahaya!" tegasnya menahan emosi.
Tenggorokan Stella rasanya tercekat.
"Saya permisi!" ucap Fahri dingin untuk yang terakhir kalinya, sebelumnya akhirnya bergegas keluar dari rumah wanita itu.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued...
Minta KOMEN, LIKE yang banyak Sayang2kuuh. Rate5 dan FAVORIT juga. Apalagi kalau kalian mau kasih VOTE, aku BERTERIMA KASIH BGT sama kaleaannn. Itu pasti bikin aku makin semangat Update wkwkwk. THANK UUU😘😘😘