
LIKE, KOMENT, RATE5, SHARE, N FAVORIT DULU GAEESS! BARU LANJUT BACA
*****
Sisi melangkah masuk ke dalam rumahnya. Ya, dan seperti biasa. Rumah yang begitu besar dan mewah itu tampak begitu sepi. Hanya beberapa asisten rumah tangga yang tampak mondar-mandir.
Ya, di rumah itu terdapat 3 asisten rumah tangga dengan tugasnya masing-masing.
"Mama kemana Bik?" tanya Sisi datar sambil meletakkan tasnya asal ke atas sofa.
"Tadi sih jam 11-an udah pulang dari butik. Terus pergi lagi Non," jawab Bik Tuti hati-hati. Bik Tuti ini salah satu asisten rumah tangga yang umurnya paling muda diantara 2 asisten rumah tangga lainnya, yaitu sekitar 38 tahun.
Sisi membuang napas kasar. "Ya pasti Mama ngumpul-ngumpul lagi sama temen-temen sosialitanya!" ucapnya sinis lalu tanpa bicara apa-apa lagi segera naik ke lantai 2 menuju kamarnya.
Bik Tuti hanya terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Namun sebenarnya jauh di lubuk hatinya itu, dia begitu iba melihat anak majikannya itu.
*****
Sisi mendaratkan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang besarnya. Matanya menerawang menatap langit-langit kamarnya.
Dan tiba-tiba saja, hp-nya berdering menandakan ada pesan WA masuk. Sisi segera mengeceknya.
[Halo Sisi! Siang๐.
Ini Mas Adit. Aku cuma mau bilang kalo mobil kamu udah bener.
Besok biar aku anterin ke rumah kamu bareng montir kantor aku]
Dengan gerakan secepat kilat Sisi langsung bangkit dari tidurnya. Lalu seperti orang gila dia menari-nari kegirangan begitu tau ternyata Adit yang mengiriminya pesan WA.
Dengan semangat dia segera membalasnya.
[Makasih banyak ya Mas Adit. Tapi apa gak ngerepotin nih kalo sampe dianterin gitu ke rumah aku?]
[Santai aja lagi Si. Gak ngerepotin sama sekali kok, hehe.
Tapi sorean gak papa kan Mas Adit anterinnya? Soalnya bisanya paling abis pulang kerja]
Gak papa kok Sayang! Gak papa banget!
Pengen... gitu. Rasanya dia bales kayak gitu! Hahahahaaa...!
__ADS_1
[Iya, gak papa kok Mas Adit. Sekali lagi makasih banyak lhoo Mas!]
[Iya sama-sama...๐]
Dan chatting-an pun selesai.
Sisi meletakkan kembali hp-nya di atas ranjangnya asal. Lalu berjoget-joget lagi dengan sangat riang percis orang gila.
*****
Sementara itu di tempat lain...
Dira yang baru saja pulang dari kampus melangkah masuk ke dalam rumah. Jarum jam menunjukkan pukul 16.12 WIB kala itu.
"Assalamu'alaikuuummm...! Biikk... Biikkk... Mas Fahri udah pulang Biiikkkkk...????" teriaknya nyaring sambil berjalan ke arah dapur.
"Wa'alaikumsalam...! Belom Non...!" sahut Bik Inah yang sedang mencuci piring.
Dira manggut-manggut. Lalu berjalan ke arah kulkas dan membukanya, mengeluarkan sebuah botol kaca berisi air putih. Membawanya ke meja makan, dan dia duduk di kursinya. Tangannya meraih gelas bersih yang ada di dekatnya dan mulai menuangkan air putih yang tadi diambilnya ke dalam gelas. Kemudian mulai meneguk segelas air putih itu dengan perlahan.
"Yaudah ya Bik aku ke kamar dulu. Mau mandi gerah!" ujarnya sambil meletakkan kembali gelas yang dipakainya tadi di atas meja.
"Iya Non!" sahut Bik Inah di sela aktifitasnya.
*****
"Emmmm... seger banget..." Dira bergumam sendiri sambil melangkah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang dilapisi jubah handuk. Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.
Sambil bersenandung kecil dia menghampiri lemari pakaian besar yang ada di kamar dia dan Fahri. Kemudian membukanya dan mulai memilah pakaian yang akan dikenakannya.
"Wanginya..." tiba-tiba sepasang tangan kekar melingkari pinggangnya dari belakang sehingga membuatnya sangat terkejut. Tanpa menoleh pun dia sudah tau siapa pemilik tangan kekar itu.
"Ngagetin ih kebiasaan!" gemas Dira sambil menelengkan kepala ke arah Fahri, tepukan kecil didaratkan di lengan kekar itu.
Fahri malah cengengesan dan tetap melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Udah mandi ya Sayang...?" bisiknya lembut di telinga Dira.
Dira langsung merinding karena embusan napas Fahri di salah satu area sensitif itu. "Pake nanya lagi? Emang menurut Mas aku abis nyangkul sawah gituu...?" ucapnya kalem.
Fahri terkekeh geli.
__ADS_1
"Mas kangen banget sama kamu Sayang..." bisiknya lagi dan kini mulai mengecupi leher putih Dira dengan penuh gairah.
Dira sangat memahami kondisi suaminya itu. Bayangkan, Fahri hampir berpuasa selama 3 bulan lamanya!
Fahri membalikkan tubuh istrinya sehingga kini mereka saling berhadapan. Dia menarik pinggang Dira sehingga kini tak ada lagi jarak diantara mereka berdua. Dira pun melingkarkan kedua lengannya di leher sang suami.
Fahri mulai meraup bibir sang istri dengan rakus seperti singa yang sedang kelaparan. Dira pun membalasnya. Mereka pun saling *******, menghisap, menggigit, bak sudah berabad lamanya tak saling melepaskan gairah cinta.
Namun di tengah aksi panas sepasang insan manusia itu, tiba-tiba Fahri melepas ciumannya.
"Kenapa Sayang?" tanya Dira heran.
"Gak papa Sayang. Aku mau mandi dulu ya," ucap Fahri dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Tunggu Sayang," Dira pun langsung memeluk suaminya itu dari belakang ketika dia hendak melenggang ke kamar mandi.
"Dira tau apa yang ada di pikiran Mas Fahri..." bisik Dira sangat pelan hingga nyaris terdengar seperti desisan. "Mas pasti takut kan kalo nanti kandungan Dira kenapa-napa...?"
"Mas tenang aja. Kemaren Dira sempet konsultasi kok lewat WA sama dokter Anastasya... Dan... beliau bilang... Berhubungan suami istri masih aman dilakukan asal frekuensinya jangan terlalu sering..."
Fahri tetap tak bergeming. Lalu sedetik kemudian, dia memutar badannya dengan perlahan sehingga kini mereka saling berhadapan.
Fahri menangkup wajah Dira dan menatapnya dengan lembut. "Serius... kamu... Sayang...?" bisiknya.
Dira mengangguk mantap.
Tiba-tiba Fahri langsung berjoget-joget kegirangan seperti orang gila. Kontan Dira menautkan alisnya sambil tertawa geli dan geleng-geleng kepala.
Lalu dengan gerakan cepat tiba-tiba saja tubuh Dira dibopong oleh suaminya itu ala bridal style menuju tempat tidur mereka. "Aawwww... Mmaaassss...!! Sabaarr doooonngggg...!!!!"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continued...