Istriku Anak Kecil

Istriku Anak Kecil
Bab 96


__ADS_3

Halooo kesayangan akooh... Gimana udah pada kangen sama Fahri dan Dira beluum? Mohonmaap kalau Author gak bisa janjiin Update Setiap hari karena Author juga punya kesibukan di Dunia Nyata🙏😁😁.


Tapi Author berharap kalian para Readers Teteup Setia yaa pantengin Kisah iniii. Dijamin makin Seru dan Bikin Baperr😆😆.


Tapi Author tuhh sediihh karena yang Like dan Komen tuh sedikit banget😭😭😭.


Pokoknya Author mau maksa kalian. Kalian harus Like dan Spam Komen yang banyak Biar Author makin semangat Update nyaa. Maaf ya kalo akutu banyak maunya wkwkwk.


Oke Selamat Membacaa😘😘


*****


Senin sore, pukul 16.15 WIB.


Dira dan Fahri berada di dalam mobil Fahri yang sedang melaju dengan kecepatan sedang. Kebetulan hari ini Dira memang tidak dijemput oleh Mang Dadang karena Fahri sendiri yang ingin menjemput istri tercintanya itu dari kampus.


There goes my heart beating


'Cause you are the reason


I'm loosing my sleep


Please come back now


There goes my mind racing


And you are the reason


That I'm still breathing


I'm hopeless now


I'd climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you

__ADS_1


Lagu Calum Scoot mengalun lembut dari MP4 player yang berada dalam mobilnya. Fahri ikut bersenandung kecil mengikuti irama lagu.


"Sayang," desis Fahri tiba-tiba sambil menoleh sekilas pada sang istri.


"Hmmm," hanya dibalas gumaman dari Dira sambil matanya tetap memandang jalanan di depannya.


"Kamu tau gak? Lagu ini tuh kayak mewakali perasaan aku saat ini tau." lanjutnya sambil menoleh lagi sekilas pada Dira.


Dira menoleh dan menatap suaminya sambil menautkan kedua alisnya.


"Ya aku mau bersama kamu selamanya. Dan rela melakukan apapun untuk kamu..." dengan perlahan diraihnya satu tangan Dira menggunakan tangannya yang bebas. Kemudian dikecupnya punggung tangan Dira dengan lembut dan dalam.


Dira tersenyum. "Me too honey.."


Fahri balas tersenyum sambil menatapnya.


"Mas, iih! Liat ke depan! Kalo kenapa-napa gimana coba?" omel Dira.


Fahri cengengesan sambil kembali fokus menyetir.


"Dan Papa juga udah gak sabar menanti kalian hadir ke dunia ini..." ucap Fahri lagi sambil satu tangannya mengelus perut Dira yang makin membuncit dan terbentuk jelas. Maklum usia kehamilan Dira kini sudah 4 bulan.


Dan tak lama kemudian, akhirnya mereka-pun sampai. Fahri tak langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi rumah. Melainkan memarkirkannya di depan rumah. Mereka berdua pun turun dari mobil. Kemudian Fahri menggamit lengan Dira menuju gerbang rumah.


"Halooo... Selama sore...!"


Tiba-tiba sebuah suara menyapa gendang telinga mereka sebelum mereka sempat masuk ke dalam rumah. Sontak Fahri dan Dira pun menoleh secara berbarangen.


Dan dilihatnya seorang perempuan muda dengan tubuh molek. Badannya berisi pada bagian-bagian yang sudah semestinya. Pakaian yang dikenakan di tubuhnya sangat ketat. Bahkan kurang bahan. Tank top hitam yang sangat ketat dengan tali sangat tipis, hingga membuat bagian dadanya menonjol dan tercetak sangat jelas. Sedangkan bawahannya hot pants super pendek berbahan jeans sehingga paha putih mulusnya terekspose dengan sempurna.


Perempuan muda itu berjalan menghampiri Dira dan Fahri. Yang mau tak mau membuat mereka membalikkan badan.


"Perkenalkan, saya tetangga baru kalian. Rumah saya persis di depan rumah kalian ini," tuturnya tersenyum ramah sambil menunjuk rumahnya.


"Nama saya Stella," lanjutnya sambil menjabat tangan Dira.


"Dira. Salam kenal ya Mbak," balas Dira.

__ADS_1


"Stella," kini Stella mengulurkan tangannya pada Fahri.


"Fahri." ucap Fahri tersenyum tipis menjabat tangan perempuan itu.


Dan entah seperti terhipnotis, Stella enggan melepaskan jabatan tangannya dari Fahri. Hingga membuat Fahri risih.


"Ekhemmmmm!!" Dira berdeham keras. Yang sontak membuat Stella melepaskan jabatan tangannya dari Fahri.


"Oya Mbak Stella tinggal sama siapa?" tanya Dira berusaha menutupi kesal walaupun sebenarnya hatinya panas.


Tiba-tiba raut wajah Stella berubah. "Saya... tinggal sendiri... Saya baru aja pisah sama suami saya 8 bulan yang lalu. Dan kami belum dikaruniai anak..."


"Oh, saya ikut sedih mendengarnya. Yang sabar ya Mbak." tukas Dira yang tiba-tiba saja merasa iba.


Stella tersenyum tipis, "Makasih ya Mbak Dira."


"Sama-sama..." balas tersenyum.


"Kalau begitu kita masuk dulu ya Mbak..." pamit Dira kemudian.


"Oh... iya iya silahkan!"


Dira pun menggandeng tangan Fahri masuk ke dalam rumah.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2