
Dira sudah mengganti bajunya dengan setelan piyama satin berwarna merah maroon.
"Kamu mau berdiri disitu sampe kapan...?" tanya Fahri sambil berusaha menahan senyumnya. Diletakkannya sebuah buku yang tadi dibacanya, di meja samping tempat tidur.
Dira melangkah ke arah tempat tidur dengan ragu.
Lalu tiba-tiba, diraihnya sebuah guling, dan ditaruh di tengah-tengah tempat tidur, "Inget ya Mas Fahri, guling ini sebagai pembatas kita! Kita gak boleh sampe melewati batas wilayah kita masing-masing. Awas aja ya... Kalo sampe berani macem-macem...!"
"Udah kayak jaman perang aja, sampe segala ada batas-batas wilayah," celetuk Fahri sambil berusaha menahan tawanya.
"Biarin!" seru Dira sambil meletin lidahnya.
"Yaudah ayo cepetan tidur. Udah malem," ucap Fahri sambil menarik selimut dan tidur membelakangi Dira.
*****
Besoknya, pagi pukul 08.00 WIB.
Dira, Fahri, serta kedua orang tuanya sedang sarapan bersama di meja makan. Kebetulan, hari ini Dira tidak ada jadwal kuliah.
Bu Sekar, yang memiliki perawakan agak gemuk, meraih lagi sepotong ayam goreng. "Kapan... Kalian mau ngasih cucu ke Mama...?"
"Uhukk... uhukk..." Dira yang sedang minum, sontak tersedak.
__ADS_1
"Ya ampun, Sayang... Kamu nggak papa...? Hati-hati dong...," tanya Fahri, yang walaupun sedang memainkan sandiwara sesuai kesepakatannya dengan Dira waktu itu, betulan cemas.
"Uhuk, iya... aku nggak papa kok Mas,"
"Ma, Dira kan masih kuliah... Fahri minta, Mama bersabar dong...,"
"Lho, terus kenapa... toh Le... Wong kalian sudah resmi ini kok, jadi suami istri. Sudah halal!" sambung Bu Sekar dengan logat Jawa yang masih agak kental.
"Iya... iya... Tapi Fahri minta mama sabar ya. Emang ngasih cucu segampang beli cabe sekilo apa...?"
"Iya Ma... Biarin lah... Nggak usah terlalu ditargetkan. Biarlah mengalir apa adanya... Nanti juga kalau sudah waktunya, Gusti Allah akan memberikan mereka anak. Lagian... biarkan dulu mereka menikmati masa-masa berdua... apalagi kan, mereka nggak pake pacar-pacaran segala...," timpal Pak Wijaya.
"Iya... Tapi jangan lama-lama juga!"
"Oya Nak Dira, kamu coba lah mulai sekarang... Belajar memasak, ngurus rumah, ngurus suami yang benar. Biar suamimu betah di rumah. Dan juga, sekarang kan kamu sudah jadi seorang istri, usahakan jangan bangun siang saat hari libur,"
Dan sekarang, kuping Dira benar-benar terasa panas mendengar ocehan ibu mertuanya yang cerewet ini.
"Iya Ma... Dira akan usahain..." mau tak mau Dira menjawabnya, sambil berusaha tersenyum.
"Lagian kamu sih Le, Mama dulu sempat nggak yakin. Kamu mau menikah dengan anak kecil gini..." ucapnya lagi sambil melirik ke arah Dira dengan tajam.
Iiihhhh... Cerewet banget siihh, ni ibu-ibu gendut! Kalo nggak inget dia mamanya Mas Fahri, udah gue sumpel tuh mulutnya pake kaos kaki bekas...!
__ADS_1
"Ma... Udahlah... Fahri minta, tolong jangan bahas itu lagi. Karena Dira adalah istri pilihan Fahri,"
Bu Sekar tampak melengos.
*****
Malam hari, usai makan malam.
Dira dan Bu Sekar sedang duduk-duduk di ruang tengah sambil melihat-lihat sebuah album foto.
"Hihihi, ini waktu Mas Fahri umur berapa, Ma? Ya Allah... gumushh banget siihhh," tunjuk Dira pada salah satu foto.
"Hmm, ini kayaknya foto waktu dia masih umur 3 tahun,"
"Ya ampuunn, lucu banget siihhh,"
"Ehm, ehm... Lagi ngapain nih...?" tiba-tiba Fahri datang. Dan lansung duduk di sebelah Dira sambil merangkulnya mesra.
Kontan mata Dira membulat.
Iihhh, ni orangg... kayaknya nyari kesempatan banget sih, sama guee...!
"Eh, ini Sayang. Kita lagi liat-liat album foto jaman dulu. Lucu-lucu banget deh foto Mas Fahri jaman kecil dulu,"
__ADS_1
"Oya?" jawab Fahri singkat, lalu ikut melihat-lihat album foto itu. Lalu tak lama, terdengar tawa renyah mereka sambil bernostalgia.