
Malam itu, Dira sedang berada di dalam kamar sambil mencari sesuatu di dalam lemari. Ya, sekarang sudah menjadi rutinitasnya setiap malam, menyiapkan baju kerja yang akan dipakai suaminya untuk besok pagi.
Tiba-tiba, dia dikejutkan oleh pelukan Fahri dari belakang.
"Iihh, Mas Fahri tuh kebiasaan deh... Ngagetin orang aja..." gumamnya menyembunyikan wajah yang bersemu merah.
"Rajin banget sih, istriku..." goda Fahri berbisik di telinga Dira.
Dira tersenyum malu. Lalu tiba-tiba saja, diraihnya tubuh Dira, sambil belum dilepaskan pelukannya, dan dibawa ke tepi ranjang. Kemudian sambil duduk di tepi ranjang, Fahri memangkunya sambil terus melingkarkan lengannya di pinggang Dira.
"Mas Fahri, mau ngapain sih...?" tanya Dira salah tingkah dan sudah mulai berpikiran macam-macam.
Fahri menggeleng pelan, "Nggak papa. Cuma mau peluk kamu aja." jawabnya tersenyum.
Jantung Dira makin dibuat tak karuan olehnya. Namun beberapa saat kemudian, dia ikut terhanyut dalam pelukan Fahri. Dan tak lama kemudian, secara kebetulan, dari layar TV yang sedang menyala di kamar mereka, mengalun lembut sebuah lagu dari grup band papan atas Indonesia, Kotak...
Tak pernah terlintas di khayalku
Takdir hidup menuntunku menemukanmu
Engkau permataku sang kekasih
Yang kucinta bersamamu jalani hidup
Engkau adalah pemberian terindah
Dan akan kujaga hingga nafas terakhir
__ADS_1
You are the perfect love rains over me
You have the perfect song singing for me
You are the perfect dream I ever wanted
You are the perfect love
Engkaulah cintaku yang pertama dan terakhir
Jelajahi ruang dan waktu
Engkau adalah pemberian terindah...
*****
Fahri dan Dira sudah berada di dalam perjalanan menuju kampus Dira. Ya, untunglah kampus tempat Fahri mengajar dan kampus Dira kuliah, masih searah.
"Makasih ya, Mas. Dira berangkat. Assalamu'alaikum," ujar Dira sambil mencium tangan Fahri.
"Wa'alaikumsalam. Oya, Dir. Tunggu sebentar."
Dira mengurungkan niatnya turun dari mobil Fahri, "Kenapa Mas?"
Fahri mengambil sesuatu dari dasbor mobilnya, "Ini, kamu pegang ya." ucapnya sambil menyodorkan sebuah kartu ATM pada Dira.
Dira mengernyitkan dahi, lalu meraihnya.
__ADS_1
"Mulai sekarang, kamu pegang ya. Itu kartu ATM Mas Fahri. Ini kan udah kewajiban Mas, untuk nafkahin kamu. Kamu boleh gunain kartu itu, buat beli keperluan pribadi kamu, atau buat makan dan jalan-jalan sama temen kamu kek. Pokoknya terserah kamu deh. Tapii... Inget, tetep bijak gunainnya. Jangan terlalu boros juga, dan jangan menghamburkan uang berlebihan,"
"Mas Fahri juga nyimpen satu lagi kartu ATM. Buat makan, transport, dan operasional lainnya. Dan juga untuk tabungan masa depan...kita berdua," sambungnya sambil tersenyum.
Mata Dira berbinar-binar. Lalu memeluk suaminya erat, "Makasih yaaa Sayangg,"
"Iya... Sama-sama... Itu udah kewajiban Mas Fahri kok," balasnya sambil tersenyum.
Dira melepas pelukannya. "Yaudah ya Mas, daah... Mas Fahri hati-hati di jalan ya," baru saja Dira hendak membuka pintu mobil, Fahri mencegahnya lagi, "Eh, tunggu."
Dira mengernyitkan dahi, "Kenapa lagi?"
Lalu tanpa basa basi Fahri mengecup bibir istrinya itu sekilas.
"Iihhhh, Mas Fahri kebiasaan deehh... Gak bilang-bilang dulu," seru Dira dengan wajah bersemu merah.
Lalu tiba-tiba saja, Dira meraih leher Fahri agar mendekat, "Bilang-bilang dong, kalo mau cium istrinya..." kemudian tanpa basa-basi lagi diciumnya bibir Fahri dengan lembut dan dalam.
Yang kontan membuat Fahri cukup terperangah. Namun segera dibalasnya ciuman sang istri, semakin lama dan dalam.
"Kamu sekarang makin berani ya..." bisik Fahri sambil melepas ciumannya.
"Abis sih... Mas Fahri duluan yang suka agresif," balas Dira sambil tersipu malu.
Fahri tertawa kecil, "Yaudah gih, nanti terlambat lho."
"Yaudah, bye... Sayangku,"
__ADS_1