
LIKE, KOMENT, RATE5, SHARE, N FAVORIT DULU GAEESS! BARU LANJUT BACA
*****
Sementara itu di tempat yang berbeda..
Sisi menuruni anak tangga rumahnya perlahan. Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 WIB kala itu.
Dia berjalan menuju ruang makan. Namun langkahnya terhenti saat kakinya belum sampai di ruang makan. Dilihatnya sang mama dengan gerakan tergesa sedang berjalan menuju pintu utama rumah.
"Mama!" panggil Sisi putus asa sambil menatap nanar sang mama.
"Iya Sayang. Mama buru-buru ya harus ke butik dan udah ditungguin klien Mama juga," jawab mama-nya sambil lalu tanpa menoleh sedikitpun pada anak semata wayangnya itu.
"Mama, tunggu!" pekik Sisi menahan amarah.
"Apalagi sih Si!?" akhirnya Nyonya Raisa menghentikan langkahnya dan membalikkan badan menatap putri semata wayangnya itu. Dari raut wajahnya terlihat jelas kalau dia kesal.
"Ini hari libur Ma. Setiap hari Mama selalu sibuk dengan urusan-urusan Mama. Butik, klien, teman-teman sosialita Mama. Lalu kapan Mama ada waktu buat aku, Ma???? Sedangkan Papa juga sibuk di luar negeri. Gak pernah ada waktu buat keluarga." Sisi menumpahkan semua isi hatinya yang selama ini dia pendam rapat-rapat. Air mata sudah menggenang di kedua pelupuk matanya. "Ma, aku juga butuh kasih sayang dan perhatian kalian! Bukan hanya uang dan fasilitas dari kalian yang aku butuhkan. Bahkan saat Mama dan Papa ada di rumah pun, aku lebih sering melihat pemandangan kalian bertengkar..."
"Cukup Sisi!" seru Nyonya Raisa emosi. "Mama dan Papa selama ini bekerja untuk kamu juga! Kamu merasakannya kan sekarang? Kamu hidup penuh dengan fasilitas yang mewah dari kami,"
"Tapi Ma-"
"Sudah cukup Sisi! Jangan seperti anak kecil begitu! Ini bukan masanya lagi kamu menuntut kasih sayang dan perhatian seperti itu dari Mama dan Papa. Kalau kami gak sayang sama kamu, kamu gak akan hidup bergelimang kemewahan seperti sekarang ini. Ok mengerti kan? Udah Mama buru-buru!" tanpa berucap apa-apa lagi, Nyonya Raisa bergegas keluar rumah.
Tinggalah Sisi yang terpaku seorang diri.
__ADS_1
Dia berjongkok perlahan. Kemudian melipat kedua tangannya di atas lututnya dan membenamkan wajahnya disana. Menangis sesenggukan.
*****
Sisi memacu Aston Martin Vantage-nya dengan kecepatan kencang. Air mata mengalir dari kedua matanya membentuk anak sungai. Rasanya ia ingin pergi jauh entah kemana, dimana di tempat itu tak ada seorang pun disana. Dan dia bebas berteriak dan menangis sekencang-kencangnya.
Mungkin selama ini orang-orang yang mengenalnya, melihat hidup Sisi begitu enak. Apalagi selama ini memang ia selalu ceria seperti tak ada beban di hidupnya.
Padahal yang sebenarnya justru, dia begitu rapuh. Walaupun hidup dengan bergelimang harta dan penuh kemewahan, tapi dia seperti tak punya tempat bersandar dan mencurahkan isi hatinya. Seperti layaknya orang-orang yang menjadikan orang tuanya sebagai sahabat atau partner yang dapat diajak bersenda gurau, bercerita, atau bahkan sekedar berbicara hal-hal yang tak penting.
Sisi tak pernah mendapatkan itu semua bahkan sedari ia kecil!
Air mata Sisi bertambah deras. Dia terus memacu mobilnya dengan kecepatan kencang tanpa tau mau dibawa kemana laju mobilnya.
*****
Matanya bengkak dan sembab. Entah sudah berapa lama dia menangis.
Tiba-tiba handphone-nya berdering. Menandakan ada telepon masuk. Sisi meraih benda mungil yang tergelatak di dashboard mobilnya itu.
Kontak yang tertera di lcd handphone-nya cukup menghibur hatinya yang kini sedang kalut.
"Hey, assalamu'alaikum..."
"Walaikumsalam," jawab Sisi.
"Kamu lagi dimana?" tanya Adit di seberang sana.
__ADS_1
"Emm... aku... aku lagi di jalan Mas Adit," jawab Sisi sedikit ragu.
"Oh... Lagi di jalan ya. Hmm... padahal Mas Adit mau ajak kamu jalan,"
Tiba-tiba hati Sisi begitu diliputi perasaan berbunga-bunga.
"Emm... Kalo gitu kita ketemuan aja Mas. Gimana?" ucapnya berusaha menutupi perasaan bahagianya.
"Oh... Oke. Posisi kamu dimana sekarang?"
Sisi-pun memberitahukan pada Adit posisi dia berada sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued...
__ADS_1