Istriku Anak Kecil

Istriku Anak Kecil
Bab 49


__ADS_3

Fahri menggamit lengan sang istri menuju sebuah ruangan yang bertuliskan "Ruang Kaprodi (Ketua Program Studi)" di depan pintu masuknya.


Dira membelalakkan kedua matanya. Ini bagaikan sebuah surprise yang ditujukan untuk Dira namun sebenarnya tidak ada dalam isi kepala sang suami. Tapi sungguh, ini semua benar-benar membuatnya terkejut. Ya Tuhaann... Kenapa di umur pernikahan yang sudah masuk usia 2 tahun ini, dia baru mengetahui kalau suaminya seHEBAT itu?? Bahkan Fahri sama sekali tidak pernah menceritakan semua ini.


Bagaimana tidak hebat pemirsah sekalian...? Di usia Fahri yang masih terbilang muda itu, ya, 27 tahun. Dia sudah menduduki jabatan sebagai seorang KAPRODI. Menyingkirkan sederetan dosen lain bahkan yang sudah senior darinya entah itu dari hal umur maupun lama waktu mereka telah mengabdikan diri di kampus itu. Bahkan bisa menyingkirkan dosen senior yang telah bergelar Profesor sekalipun. Gimana nggak KEREN cobaaa, suaminya itu...?


"Mas... Mas yakiinn, kita gak salah ruangan...?" ucap Dira masih ragu.


Dan Fahri hanya tersenyum simpul sambil terus menggamit lengan sang istri dan menduduki-nya di sebuah sofa minimalis bercorak monokrom.


Lalu dengan gaya sok pongah Fahri mengibaskan kerah kemejanya, "Kamu baru tauu yaa, Sayang? Kalo suami kamu ini bukan sembarang dosen. Tapi salah satu orang HEBAT dan PENTING di kampus ini... Kudeettt siiihh kamu,"


Dira memutar kedua bola matanya dengan mimik lucu. Lalu dengan gemas melempar sebuah bantal sofa ke arah Fahri. "Gayaa bangettt sih, Mas!"


"Hehehe."


Dira mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Ruang kerja suaminya itu sangat luas. Bahkan dekorasi dan interiornya begitu mewah dan elegan. Terdapat sebuah meja kerja utama dengan sebuah kursi ergonomis khas kursi eksekutif berdesain mewah. Lalu di depannya lagi ada sebuah kursi putar yang disediakan bila ada tamu datang. Di sudut lain terdapat sofa, kursi, dan meja khusus meeting dalam skala kecil (1-4 orang). Juga terdapat berbagai perangkat elektronik kantor di beberapa sudut, dan bahkan tersedia corner room yang tampak begitu comfy untuk tempat beristirahat sejenak. Lalu juga terdapat rak buku, rak khusus untuk file storage dan bahkan juga rak untuk meletakkan barang-barang pribadi. Dan terakhir, kesan mewah ruangan itu juga tercipta dari lantainya yang dilapisi perpaduan kayu parket dan marmer.




Dira tak henti-hentinya berdecak kagum memuji kemewahan ruang tempat Fahri bekerja.


Fahri berjalan pelan menghampiri Dira, lalu diraihnya pinggangnya dan dibawa menuju kursi utama yang merupakan kursi kebesarannya. Fahri duduk dan memangku Dira di atasnya.


"M... Mmass... Mau ngapain sih...?" tuh kan belum apa-apa Dira udah dibuat panas dingin sport jantung gitu.


Fahri menatapnya dalam sambil cengengesan. "Kamu tuh takut banget sih... Udah kayak lagi berhadapan sama Om-Om yang doyan pedofil aja,"


Dira tertawa ngakak. "Tuh Mas Fahri sadaaar...!"


Fahri ikutan ngakak, "Ya kalo sasaran pedofil-nya senge-gemesinn kamu giniii... Gimana Om gak klepek-klepek cobaa tiap saatt...?"


Wajah Dira bersemu merah, "Mulaiiii deeehh... Gak usah natap pake tatapan mesum gituu...!"


Fahri ngakak lagi.


"Eh Mas. Ngomong-ngomong... Dira gak nyangka lho, Sayang... Kalau suami Dira tuh ternyata seHEBAT iniiii... MUHAMMAD FAHRI, seorang KAPRODI gitu looohhh..." Dira tak henti berdecak kagum.


Fahri menjawil hidung Dira, "Yaa kaann, KEREN kaann suaminyaaa...? Suami siapa dulu gitu looohhh? Hehehe..."


Dira tersenyum lebar menatap sang suami, "Iyyaaaa... Makanya kan Dira BANGGAAAAA banget punya suami kayak Mas Fahriii giniiii,"


Tuh kan... Senyumnya ngegemesinnn gitu. Duhh, jantung gue langsung nggak bisa diajak kompromi lagi kan...


Fahri ngebatin dalam hati.


"Sayang..." tiba-tiba Fahri menatapnya dalam.


"Hmmm...?" Dira balas menatapnya.

__ADS_1


Dan... cup. Diciumnya bibir sang istri dengan lembut dan dalam. Dan Dira menikmatinya sambil memejamkan mata.


Kriieett, "Fahri."


Kontan kedua pasangan suami istri yang sedang dimabuk cinta itu melepaskan ciumannya dengan kaget.


Seseorang yang baru saja masuk ke ruangan Fahri itu pun tak kalah kagetnya menyaksikan sebuah adegan seperti itu di siang bolong gini.


"Ck, Suhay! Kamu itu kebiasaan, ya! Saya kan sudah sering bilang, ketok pintu saya dulu kalau mau masuk...!" seru Fahri kesal.


Ck... Dia lagi...! Si nenek lampir. Ngapain sih dia kesini? Gangguin orang lagi enak-enak aja. Hmmm, sekalian aja gue panas-panasin nih nenek lampir, biar tau rasa...!


"Tau ih, Sayang. Kok dia nggak sopan banget sih? Masuk tanpa ketok pintu dulu," ucap Dira yang masih berada di pangkuan suaminya itu dengan tatapan jahat, malah kini tangannya sengaja dirangkulkan ke leher Fahri.


Wajah Suhay tampak salah tingkah, kemudian dia berjalan menghampiri meja Fahri. "Sory. Aku cuma mau kasih ini. Hasil notulen rapat pagi tadi. Udah aku ketik," ujarnya sambil meletakkan sebuah tumpukan kertas yang sudah disatukan dengan rapi menggunakan paper clip, di atas meja Fahri.


"Oke, makasih." ucap Fahri tampak acuh tak acuh.


"Sama-sama. Oke aku keluar dulu." sambungnya lagi dan membalikkan badannya menuju pintu, lalu tiba-tiba saja dia memutar badannya lagi menghadap kedua pasangan suami istri itu. "Oya ngomong-ngomong. Aku mau minta maaf dan klarifikasi semuanya. Biar ga ada lagi salah paham diantara kita, Dira. Mungkin dulu aku salah. Sering berusaha mendekati Fahri bahkan sampai mengajaknya makan siang segala. Padahal aku tau dia itu udah menikah..."


Naaahh tuu tauuu, kalo perbuatan lo itu salaahh...? Udah tau suami orang, tapi masih aja berusaha deketin. Mau jadi bibit pelakor ya loo??


"...tapi asal kamu tau aja. Fahri itu gak pernah sama sekali nanggepin aku. Dan perlu kamu tau aja, kita ini memang gak ada hubungan apa-apa, hanya sebatas rekan kerja. Biar kamu gak salah paham lagi. Ng... Fahri itu sangat setia dan cinta mati banget sama kamu. Jaga dia baik-baik, Fahri itu lelaki yang sangat sempurna. Sekali lagi, aku minta maaf ya atas sikap aku dulu. Semoga kalian selalu bahagia," Dira dapat menangkap senyum getir pada wajah Suhay. Lalu tanpa bicara apa-apa lagi, wanita itu bergegas pergi meninggalkan ruangan Fahri.


Di balik pintu ruangan Fahri, Suhay menahan rasa sakit di dadanya. Ya, dia memang pernah memendam rasa pada rekan kerja yang sudah dikenalnya bertahun-tahun itu. Bahkan jauh sebelum Fahri menikah. Makanya dia sempat sakit hati setelah tau Fahri menikahi gadis lain. Padahal selama ini dia memendam rasa padanya, namun ternyata cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Ya, dia sudah KALAH TELAK. Oleh bocah kecil itu. Namun sekarang setelah sudah mengutarakan semuanya pada Fahri dan Dira, dia sudah merasa lega. Dan ikhlas menerima semuanya. Karena walau bagaimana pun, tindakan dia yang pernah berusaha mendekati Fahri padahal dia tau Fahri telah menikah, adalah SEBUAH KESALAHAN YANG BESAR.


Perlahan Suhay berjalan menjauh dari ruangan Fahri.


"Hmmm... Gimanaaa... Jadii, kamu masih nganggep kalo Mas ada apa-apa sama Suhaay...???"


Wajah Dira tampak salah tingkah, "Iyyaaaa... Enggaaakk koook." dia mencubit kedua pipi Fahri dan menggoyangkannya ke kanan dan kiri.


"Gemesh ya sama Mas?" bisik Fahri sambil memegang pipinya yang memerah akibat ulah Dira.


"Hihihii, iya." lalu Dira malah mencium pipi sang suami dengan gemas.


"Lagi dong Sayang... Sekarang disini..." kata Fahri ketagihan sambil menunjuk bibirnya sendiri.


Dira langsung melotot, "Iihhh bener-bener yaaaa...! Entar kalo ada yang masuk lagi gimanaaa...???"


"Ya tinggal dikonci Sayang pintunya. Malah enak kan, bisa puas mantap-mantap disini kita..." Fahri mulai melancarkan tatapan mesumnya.


Dira ngakak sambil mencubiti pinggang Fahri dengan gemas.


"Aaaww, aaw. Sakit Sayaangg!" Fahri malah cengengesan.


"Eh Mas."


"Kenapa?"


"Lapeer tau. Ih, Mas sih di otaknya cuma ada mantap-mantap doang. Sampe lupa kalo sekarang tuh udah hampir lewat jam makan siang tauu...!" Dira cemberut.

__ADS_1


Fahri tertawa, "Yaa ammpuuunn, Mas sampe lupa belum kasih makan anak kucing ini. Hahahahaha,"


"Eeehh, sembarangan. Dibilang anak kucing lagi,"


"Hahahahaa. Yaudah anak marmut."


"Iihhhh, Mas...! Gak lucu. Lapeerr...!"


"Hehehe. Yaudah iya... iya... Tunggu bentar. Mas telepon OB dulu. Minta pesenin makanan di kantin,"


.


.


.


.


.


.


.


Haloo Para readers setiaakuu..!😊😊


Mudah-mudahan masih ada yang menanti kelanjutan cerita Dira dan Fahri yaa😁😆


Oya, ngomong-ngomong ini Karya pertamakuu.


Minta dukungan kalian yaa. Terus tinggalin jejak...!!


Like, komen, vote, rate5, and share...!!


Ayooo dong dukung penulis, minimal tinggalin like sama rate5, gak nyampe 1 menit kook sayang2 kuh😍😘


Dan juga kritik n saran yg membangun juga aku tungguu yaaa...!


Terima kasiiihhhh❤❤


.


.


.


.


Sedikit pengumuman lagii Sayang2 kuuh😍.


Teruntuk readers setiaku, maaf kalo selama bulan Ramadhan ini, author gak bisa up date terlalu banyak episode per harinya.

__ADS_1


Harap dimaklumi, karena keadaan author yang agak lemes ini saat puasa, jadi nggak terlalu bisa banyak berpikir untuk mendapatkan ide-ide😂😆😆


__ADS_2