
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa 2 Minggu lagi, murid-murid kelas 12 SMA Pelita Bunda, tempat Dira bersekolah, akan menghadapi UAN.
Hari demi hari, Dira lalui dengan pengayaan di sekolahnya. Kadang hampir maghrib dia baru tiba di rumah.
Dan hampir seminggu ini, Dira pulang sekolah bareng Sisi. Dia dan Alif sudah hampir tidak punya waktu bersama, bahkan untuk sekedar jalan bareng, karena masing-masing sibuk mempersiapkan UAN. Namun pasangan kekasih itu tetap memberi support satu sama lain.
Dira dan Sisi sedang asyik mengobrol sambil berjalan beriringan menuju tempat parkir sekolah. Hingga tiba-tiba...
"Halo Dira...!"
Dira tercenung sesaat. Kemudian dia buru-buru tersadar. "Mas Fahri?"
"Sst... Dir, siapa tuh? Lo selingkuh... sama Om-Om...? Oh My God... gue gak nyangka Dir, lo tega bermain api gini," Sisi langsung heboh berbisik di telinga Dira, tentu dengan nada penuh keterkejutan.
"Sembarangan lo! Dia itu temen kakak gue,"
Dira buru-buru menguasai dirinya. "Ada perlu apa ya Mas Fahri datang kesini?" tanya Dira berusaha seramah mungkin.
Fahri tersenyum kecil. "Biasa, aku mendapat tugas negara dari Adit untuk menjemput Princess cantik ini,"
Dira berusaha tidak salah tingkah. "T- tapi Mas Fahri, sory ya, aku pulang bareng Si-"
"Eits... Dilarang menolak. Karena ini adalah perintah dari kakak kamu!"
Iiihhh, apaan sih ni cowok? Nyebelin banget!
"Si, sory ya. Gue gak jadi pulang bareng lo." Dira menoleh pada sahabatnya itu.
"No problem. Gak papa honey. Yaudah sana lo,"
__ADS_1
"Daah Si,"
"Daah Beb. Hati-hati ya lo,"
"Iya, lo juga hati-hati ya Beb."
Dengan setengah terpaksa akhirnya Dira berjalan mengekor langkah Fahri menuju mobilnya. Lalu dia pun masuk ke dalam sebuah mobil Jazz berwarna kuning metalik.
Sepanjang perjalanan, Dira seolah enggan membuka suara.
"Ngomong-ngomong, kamu udah makan?" akhirnya suara Fahri memecah keheningan.
"Udah... tadi siang!" jawab Dira asal.
"Yaudah, kalo gitu temenin aku sebentar ya makan. Di dekat sini ada kafe enak,"
"Mm... tapi..."
Walaupun ragu, akhirnya Dira mengangguk.
Fahri pun membelokkan mobilnya. Tanpa disadari Dira, ada segaris senyum yang tersungging di bibir Fahri.
*****
Sebuah kafe.
"Mas, saya pesan baked pasta dan macca latte ya." tukas Fahri pada seorang pelayan.
"Oya, kamu yakin nggak mau?"
__ADS_1
"Hmm... aku pesen minum aja deh. Yang sama kayak Mas Fahri,"
Entah kenapa, tumben-tumbenan Dira tidak terlalu antusias saat ada yang mentraktirnya makan.
Sebenarnya, Dira merasa malas kalau harus berlama-lama dengan teman kakaknya yang sok asik ini.
"Oya, sebentar lagi kamu mau UAN ya, Dir?" Fahri mulai membuka percakapan.
"He-eh," jawab Dira sekenanya.
"Hmm... semangat ya!"
Dira tersenyum garing, "Iya. Makasih ya, Mas Fahri."
Kemudian Fahri berusaha mengajak ngobrol lagi. Bertanya segala macam hal, ngalor-ngidul.
Dan Dira hanya menyahut sekenanya. Kadang hanya menanggapi dengan, "Oh", "Iya", "Hmm".
Ya Tuhan... Kenapa sihh... Gue harus terjebak dengan temen kakak gue yang garing dan sok asik inii...
Nggak lama kemudian, pelayan datang membawa nampan berisi pesanan mereka.
Mereka pun mulai menyantap hidangan yang telah dipesan.
"Thanks ya Mas Fahri, atas traktirannya." ucap Dira begitu mereka berdua sudah berada di dalam mobil lagi.
Mobil Fahri melaju dengan kecepatan sedang memecah jalanan yang mulai gelap.
Dia tersenyum kecil, "Iya... sama-sama."
__ADS_1
Dalam perjalanan, tak banyak lagi yang membuka suara. Yang terdengar hanya kebisingan di luar mobil. Suara klakson, deru kendaraan, suara-suara orang berteriak, dan sebagainya.