
Adit tetap berusaha fokus menyetir dan tak menghiraukan repetan gadis itu yang udah persis kayak petasan cabe rawit.
Dia terus memacu mobilnya entah kemana. Lalu beberapa saat kemudian, dia menginjak pedal rem, menghentikan mobilya di pinggir jalan yang sepi tanpa mematikan mesin mobilnya.
Adit menarik napas panjang. Dia sudah bertekad untuk menyelesaikan semua salah paham ini.
Lelaki itu menoleh ke arah Sisi. Namun gadis itu malah membuang muka ke arah jendela mobil.
"Si..." panggilnya lembut.
Sisi tak menggubrisnya.
Adit menghela napas kasar.
"Maafin Mas Adit kalo punya salah sama kamu..." dia menyentuh bahu gadis itu pelan.
Sisi langsung menepisnya dengan kasar.
Beberapa saat kemudian, gadis itu akhirnya berbalik. Dan menatap Adit dengan tatapan dingin.
Adit membalikkan tubuhnya sehingga kini posisi mereka benar-benar saling berhadapan.
"Mas Adit mau jelasin semuanya sama kamu..." tutur Adit lembut.
Lelaki itu menatap gadis di depannya dengan sorot mata penuh kerinduan. Seolah-olah mengunci kedua netra milik Sisi yang masih menatapnya dengan sorot dingin.
"Gak ada yang perlu Mas Adit jelasin..." ujarnya dingin.
Adit memijat pelipisnya.
"Kamu denger dulu... Ini semua cuma salah paham..." entah harus mulai darimana ia menjelaskan pada gadis keras kepala di depannya ini.
Sisi menatap Adit dengan sorot masih sama.
"Jadi apa yang kamu liat waktu itu... Gak seperti apa yang ka--"
"Stoppp!!" potong Sisi nyaris berteriak.
"Aku gak mau denger penjelasan apapun!"
"Aku udah pernah bilang sama Mas Adit kalo kita gak usah ketemu lagi!"
"Sekarang aku pengen turun!!" Sisi bergegas membalikkan badannya, namun Adit keburu menahan lengannya dan berhasil mengunci kedua lengan itu disisi kanan dan kiri kepalanya. Lalu dengan gerakan sangat cepat dia membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya. ********** dengan kasar.
Membuat kedua mata Sisi membulat dengan sempurna. Dan dia seperti merasakan napasnya terhenti beberapa saat.
"M-Mas Adit..." Sisi berusaha berontak, namun Adit tetap mencium bibirnya semakin dalam. Bahkan Sisi bisa merasakan betapa manisnya benda kenyal itu ketika menyentuh bibirnya.
Sisi tak mampu melawan karena kedua tangannya dikunci oleh lengan kekar Adit. Walau bagaimana pun tenaga laki-laki lebih kuat daripada tenaga perempuan.
"Ma--Mas hmppphhhhh--" rasanya Sisi seperti kehabisan napas karena Adit terus saja melakukan aksinya.
Tiba-tiba Adit tersadar kalau ciumannya pada gadis itu semakin liar, akhirnya dia pun menghentikan aksinya.
Namun tubuh Sisi masih membeku. Tak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Sesaat kemudian, dia membenamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya. Tubuhnya bergerak naik turun. Ya, dia menangis sesenggukan.
Adit yang melihatnya jadi semakin frustasi. Apa sikapnya yang tadi terlalu melampaui batas?
"Huuu... Huuuu... Huuuu... Mas Adit jahat! Mas Adit tega udah ngambil keperawanan bibir aku... Huuu, huuuu, huuuu... Bibir aku udah gak perawaannn...!" tangis Sisi makin histeris.
"Aku gak nyangka Mas Adit itu seorang penjahat kelamin...! Huuuu, huuu, huuu...!"
Adit melongo.
Enak aja gue dibilang penjahat kelamin! Itu juga ciuman pertama gue tau!
Tapi dia merasa bersalah juga. Dia menyentuh bahu gadis itu pelan.
"Maafin Mas Adit Si..."
Tapi gadis itu terus saja menangis makin kencang yang membuatnya semakin pusing.
"Si!" dengan tak sabar Adit menangkup wajah Sisi hingga akhirnya gadis itu berhenti menangis dan menyingkirkan telapak tangan yang menutupi wajahnya. Matanya mengerjap menatap Adit dengan mimik lucu. Membuat Adit semakin gemas dan rasanya ingin melahap bibir itu lagi.
"Maafin Mas Adit yang gak bisa nahan diri. Habis kamu gak ngasih kesempatan untuk Mas Adit ngejelasin," dia berdecak kesal. "Dan Mas Adit bukan penjahat kelamin. Itu juga ciuman pertama Mas Adit..."
Sisi terpana beberapa saat.
Adit melepaskan tangannya dari wajah Sisi. Lalu beralih meraih kedua tangan Sisi ke dalam genggamannya.
"Mas Adit sayang sama kamu... Mas Adit cinta sama kamu Si..." ucapnya nyaris berbisik.
Dan lagi-lagi sukses membuat Sisi terpana.
Sisi masih berusaha mencerna tiap kata yang keluar dari mulut Adit. Hingga akhirnya dia berhasil membawa kembali kesadarannya ke dunia nyata.
"Aku baru tau kalo anak buah itu bisa mesra-mesraan sama atasannya..." sahutnya pelan terdengar begitu menyindir kuping Adit.
Adit mengembuskan napas kasar.
"Mas Adit berani sumpah. Mas Adit gak ada hubungan apa-apa sama dia." ucapnya berusaha menjelaskan lagi.
"Iya Mas Adit akuin. Clara emang udah lama suka sama Mas Adit. Tapi sumpah! Mas Adit gak punya perasaan apa-apa sama dia!"
Adit pun menceritakan kembali malam minggu itu, ketika dia dipaksa bertemu diluar oleh Clara untuk urusan pekerjaan. Dia menceritakannya secara gamblang dan detail, tanpa ada yang terlewat satu pun.
Sisi mendengarkannya dengan sabar.
Sisi menggigit bibir bawahnya. Jadi selama ini yang terjadi antara dirinya dan Adit, hanya sebuah kesalahpahaman? Oh Tuhan... Dia jadi merasa bersalah kepada Adit karena tidak mau mencari tau dulu informasi yang sebenarnya. Bahkan dia tidak mau mendengarkan penjelasan dari Adit.
"Maafin aku ya Mas Adit..." ucapnya pelan sambil menunduk.
Adit tersenyum. "Kamu gak salah kok,"
Sisi mengangkat kepalanya. Dan kini mata keduanya saling bertemu beberapa saat.
Sisi menjadi gugup dan buru-buru mengalihkan wajahnya.
"Jadi?" tanya Adit sambil menahan senyum.
__ADS_1
"Jadi apa?" ucap Sisi gugup sambil tetap memalingkan wajahnya.
Adit tertawa kecil.
Perlahan dia menangkup kedua pipi Sisi dengan lembut sehingga kini wajah gadis itu menghadap ke arahnya. Membuat Sisi makin gugup tak karuan.
"Kamu juga punya perasaan yang sama kan...?" ucapnya seperti menggoda.
Rasanya kini jantung Sisi hampir melompat dari tempatnya saking gugupnya dia.
"Ge-er!" sahutnya berusaha menutupi gugup.
Yang kontan membuat Adit tersenyum lebar dan malah mengecup kening Sisi sekilas.
Otomatis Sisi membeku lagi beberapa saat karena perlakuan cowok itu.
"Love you..." bisiknya tersenyum lebar.
Membuat Sisi rasanya hampir mimisan. Ya Tuhaannn... Ini bukan mimpi kaannn...??
Adit mengembalikan posisi tubuhnya ke semula, menjauh dari Sisi.
"Jadiiii..." Adit menggantung ucapannya "...gimana jawaban kamu...?" ucapnya seraya menatap lembut ke arah Sisi.
Rasanya jantung Sisi hampir melorot ke lutut saking lemasnya. Namun sesaat kemudian dia buru-buru tersadar.
Dengan perasaan yang sudah disesaki bunga-bunga, dia memajukan tubuhnya ke arah Adit, lalu mengecup pipi Adit dengan lembut. Dan kini gantian Adit yang membeku beberapa saat.
Sedetik kemudian, pipinya langsung merona dan tak dapat lagi menahan malu.
"Love you too..." ucapnya nyaris seperti bisikan.
Membuat wajah Adit mendadak sumringah lalu dengan girang menarik kepalan tangannya di udara dari atas ke bawah seolah menyiratkan "yesssss!"
Sisi hanya tersenyum malu-malu.
Sedetik kemudian, Adit membawa tubuh Sisi ke dalam pelukannya. Membuat gadis itu terperangah lagi.
Namun akhirnya, Sisi membalas pelukan Adit. Hatinya dipenuhi perasaan bahagia.
.
.
.
.
.
.
.
Istirahat dulu ya gaeesss pegel ngetiknya wkwkwkwkwkk😂😂😂😂. Tekan Tombol Like yang banyak dan Komen apa ajaa
__ADS_1