
Waktu demi waktu berlalu. Tak terasa, 3 bulan kemudian...
Dira melirik jam dinding di kamar. Sudah pukul 19.00 WIB. Dia yang sedang tidur-tiduran di atas ranjang, segera bangkit. Dia harus membatu Bik Inah menyiapkan makan malam karena sebentar lagi sang suami pulang. Namun tiba-tiba, hp-nya yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur berdering, menandakan ada pesan WA masuk.
Dia segera meraih hp-nya. Dan sederet nomor tak dikenal mengirimnya sebuah pesan WA. Ternyata itu adalah pesan dari Alif. Ya, karena sudah lama Dira memang menghapus kontaknya di hp-nya.
[Malam Dira, apa kabar? Semoga kamu baik-baik aja.
Maaf aku ganggu. Aku cuma mau minta maaf kalau selama ini pernah salah sama kamu.
Bahkan, aku pernah berusaha ganggu rumah tangga kamu.
Aku juga mau pamit.
Aku mau melanjutkan kuliah ke Belanda.
Semoga kamu selalu bahagia ya, Dir.
Dan rumah tangga kamu langgeng sampai akhir hayat.
Bye, Dira.]
Hati Dira terenyuh. Biar bagaimana pun, Alif adalah seseorang yang pernah mengisi hatinya.
__ADS_1
[Aku udah lama maafin kamu kok, Lif.
Aku juga minta maaf ya kalo pernah nyakitin kamu.
Kamu orang baik, Lif.
Aku yakin suatu saat kamu akan mendapat pengganti yang lebih baik dari aku.
Semoga nanti disana, kamu juga selalu bahagia ya, Lif.]
Dan setelah itu, dia segera menghapus chat-nya dengan sang mantan kekasih.
Dira mengembuskan napas dalam-dalam. Kemudian buru-buru mengusir melow yang sempat hadir di hatinya.
Dia bergegas keluar dari kamar. Dan berjalan ke arah dapur. Dilihatnya Bik Inah tak ada di dapur. Dia menghampiri meja makan dan mulai menata alat-alat makan.
"Ih... Mas Fahri...! Nanti kalo diliat Bik Inah gimana...?" bisiknya dengan wajah bersemu merah.
"Abis kamu tuh ya... Sengaja mancing-mancing Mas Fahri ya...? Kalo pake baju yang kayak gini terus modelnya," bisik Fahri tepat di telinga Dira.
Ya, malam itu Dira memang mengenakan sebuah dress berwarna hitam dengan tali yang sangat tipis, dan berpotongan sangat pendek di atas paha.
Dira tersenyum malu, "Iih, Mas udah lepasin... Dira mau bantu Bik Inah nyiapin makan malem," ucap Dira sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya itu.
__ADS_1
Fahri tertawa geli, "Udah Mas Fahri gak laper, nanti aja makannya. Mendingan kita ke kamar yuk, Sayang..." lanjutnya nakal.
Otomatis Dira melotot dan langsung membalikkan badannya. Sehingga kini mereka saling berhadapan, "Iihhh, bener-bener yaaa!" seru Dira sambil pura-pura menjewer telinga Fahri. "Baru juga pulang. Belum mandi, belum apa. Main ajak istrinya ke kamar aja,"
Fahri tertawa geli, "Kamu nggak tau ya, Sayang? Aroma keringet suami yang baru pulang kerja itu ngalahin parfum artis yang jutaan itu, tau..."
Dira makin salah tingkah dibuatnya. Dan kini malah, tubuhnya langsung dibopong Fahri menuju kamar. "Iihhhh, Mas Fahriii....!"
*****
Besoknya.
Dira dan Sisi yang baru saja usai mengikuti mata kuliah, berjalan beriringan menuju kafetaria kampus.
"Bu, pesen nasi gila level pedas 2, dim sum, cilok kuah pake sambel yang banyak, es campur, sama es teh manis 2 ya...!" Sisi memesan makanan, lalu kembali ke tempat duduk.
Sisi dan Dira-pun ngobrol ngalur ngidul, sambil sesekali tertawa bersama.
"By the way, gue kangen banget sama Mama Papa, Si..." ucap Dira tiba-tiba.
"Ya lo hubungin lah Beb... Jaman sekarang udah canggih, bisa WA, video call, skype..."
"Gue udah coba beberapa kali hubungin mereka. Tapi susah,"
__ADS_1
"Ya mungkin karena sinyal juga. Atau mungkin Om Bian dan Tante Amanda juga masih sibuk disana,"
Dira mengangguk-anggukkan kepalanya.