
Sabtu pagi, pukul 09.00 WIB.
Dira sedang selonjoran di sofa ruang tengah sambil meng-scroll layar hp-nya ke atas dan bawah. Ya, dia sedang iseng menonton video resep-resep makanan di youtube.
Dia berniat belajar masak pagi ini. Siapa tau Fahri senang nanti.
"Nah... coba deh bikin ini dulu, yang gampang. Nasi goreng sosis...!" serunya bersemangat, lalu mulai beranjak dari duduknya.
Dia-pun berjalan ke arah dapur. Dan mulai menyiapkan semua bahan yang diperlukan. Lalu mulai mengupas bawang merah dan putih, mencucinya. Dan mengiris-ngirisnya.
Minyak goreng sudah mulai panas. Dira melempar bumbu-bumbu yang telah diirisnya ke dalam penggorengan. Lalu bergerak ke belakang, sejauh mungkin dari kompor. Lalu mulai menumisnya. Tak lupa tutup panci untuk menghadangnya dari cipratan minyak panas.
"Yaaahhh, kok kulit telornya ikutan masuk siiihhh?" seru Dira sambil berusaha mengambil kembali kulit telur yang ikutan masuk ke dalam wajan.
Dia mulai mengaduk-ngaduk telur di wajan dengan jarak sejauh mungkin dari kompor. "Aduuhhh, kegosongan nih kayaknya...!"
Fahri, yang semenjak tadi mengamatinya dari balik tembok dapur, tak kuasa lagi menahan tawanya. Bahkan dia sampai memegangi perutnya saking terpingkal-pingkalnya.
*****
"Taraaa, ini diaa... Nasi goreng, dengan bumbu cintaa...!" seru Dira sambil menunjukkan sepiring nasi goreng hasil jerih payahnya pada Fahri.
Fahri yang sudah dipaksa Dira duduk di kursi makan, menatap nasi goreng yang ada di depannya itu. Tampilannya sungguh tak meyakinkan.
Tapi untuk menghargai usaha Dira, akhirnya disuapnya nasi goreng itu ke mulutnya, dan... tak ada ekspresi apapun ketika Fahri mengunyahnya.
"Gimana... enak nggak...?" tanya Dira tak sabaran.
__ADS_1
"Hmm.... Lumayan...," ucap Fahri yang langsung meneguk segelas air putih di depannya.
Dira yang tak percaya begitu saja, langsung mencicipi sendiri nasi goreng buatannya itu. Lalu seketika...
"Hueekkksss, asinn bangeeettt...!" dia buru-buru melepehnya.
Fahri tak dapat menahan tawanya.
"Kok Mas Fahri bohong siihhh...?"
"Yaudah nggak papa. Kamu nggak usah kecil hati gitu. Mas Fahri seneng kok, kamu udah mau berusaha belajar masak buat Mas Fahri. Tapiii... mulai besok mendingan kamu nggak usah masak lagi ya... Biar Bik Inah aja yang masak,"
"Oohhhh, maksud Mas Fahriii, karena masakan buatan aku nggak enaakkk... Gituu?" Dira langsung melotot.
"Eh, bukan itu..." sergah Fahri buru-buru, "Coba kamu liat. Gimana kondisi dapur sekarang..."
Dira cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kan kasian... Jadi namban-nambahin kerjaan Bik Inah,"
"Iya deh..."
*****
Malamnya, usai makan malam. Dira membuatkan teh manis hangat untuk Fahri. Ya, mulai saat ini, dia ingin belajar menjadi istri yang baik.
Saat sedang mengaduk teh di meja makan, tiba-tiba ada yang memeluk pinggangnya dari belakang. Dira terbelalak tak percaya. Dia sudah tau siapa pelakunya. Ya, siapa lagi kalau bukan Fahri.
__ADS_1
Tiba-tiba wajah Dira merah padam, jantungnya berlompatan tak karuan."Duh... M-Mas Fahri, Mas Fahri ngapain, sih...?" tanya Dira risih sambil berusaha melepaskan pelukan Fahri.
"Ssttt, udah diem aja," Fahri bergumam dan malah makin mempererat pelukannya di pinggang Dira. Begitu lama.
Akhirnya Dira tak dapat berkutik lagi. Dan entah kenapa, tiba-tiba dia menikmati dan begitu nyaman dengan pelukan yang diberikan Fahri.
Fahri melepas pelukannya, lalu memutar tubuh Dira sehingga sekarang mereka berhadapan. Dira benar-benar tak mampu lagi menyembunyikan sikap salah tingkahnya.
"Makasih ya... Kamu udah mulai mau berubah... Berusaha melayani Mas Fahri... dan udah gak jutek lagi sama Mas Fahri..." Fahri menatapnya dalam dan lembut, sambil membelai pipi sang istri.
Dira tersenyum, mengangguk. "Maafin sikap Dira selama ini ya, Mas..."
Kali ini Fahri yang mengangguk, "Mas Fahri... Sayang banget sama kamu, Dir..."
"Dira juga..."
Fahri membelalakan matanya tak percaya, "Hah...? Mas Fahri... nggak salah denger...??"
Dira menggeleng, "Entah sejak kapan perasaan itu hadir... Dira juga sayang sama Mas Fahri..." walaupun lirih, namun terdengar mantap di telinga Fahri.
Rasanya dada Fahri disesaki perasaan bahagia yang bertubi-tubi. Sampai rasanya tak mampu berkata-kata lagi.
Diraihnya Dira ke dalam pelukannya. Dira memejamkan matanya, rasanya seperti mendapat perlindungan saat berada dalam pelukan dada bidang itu.
Perlahan Fahri melepas pelukannya. Kini mereka berpandangan, begitu lama. Sampai akhirnya, kedua bibir mereka saling bertautan lagi. Melepaskan gelora cinta yang menanam kuat. Fahri semakin menarik Dira mendekatinya, sehingga kini tidak ada lagi jarak diantara keduanya. Dira melingkarkan lengannya di leher Fahri. Dan mereka berciuman semakin dalam.
"Ihh, Mas Fahri... Nanti kalo diliat Bik Inah gimana...?" Dira tiba-tiba melepaskan ciumannya sambil tersipu malu.
__ADS_1
Akhirnya Fahri menggendong tubuh Dira. Lalu berjalan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Akhirnya, setelah hampir 5 bulan lamanya, Dira rela menyerahkan tubuhnya, untuk suaminya yang telah halal itu. Hasrat yang selama ini berusaha dipendam Fahri dalam-dalam, akhirnya dapat tersalurkan malam itu. Menjadi bukti penyatuan cinta sepasang anak manusia...