Istriku Anak Kecil

Istriku Anak Kecil
Bab 106


__ADS_3

Rabu, pukul 11.37 WIB


Mata kuliah pertama Sisi baru saja usai. Dia berjalan lesu keluar dari gedung kuliah FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik). Pancaran wajahnya seperti menyiratkan tak ada semangat hidup.


"Cewek centil...!" tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.


Sisi terkesiap beberapa saat.


Lalu orang yang memanggilnya itu menghampiri dengan raut wajah dongkol.


"Belagu banget ya yang abis ulang tahun! Sok sibuk banget lo akhir-akhir ini!" tanpa tedeng aling-aling Sisi langsung disemprot.


Sisi terkesima lagi beberapa saat.


"Sisiiiii...! Gue lagi ngomong sama loooo kok malah bengong siiiihhh...!?" seru cewek itu kesal menyadarkan Sisi.


Mau gak mau Sisi berusaha menarik kedua sudut bibirnya.


"Yuk ikut gue! Kita ke kantin!" Dira langsung menarik paksa lengan Sisi menuju kafetaria kampus.


"T-tapi Dir gue--"


"Gak ada tapi-tapian! Udah gue yang traktir!" tandas Dira sambil terus menarik Sisi menuju kafetaria. Gadis itu masih saja lincah meski perutnya sudah makin membuncit.


"Dir pelan-pelan... Inget lo tuh lagi bunting..." gumam Sisi berusaha mengingatkan.


Namun Dira tak megacuhkan perkataan Sisi. Dan akhirnya mereka berdua sampai juga di kafetaria kampus.


Dira mendudukkan Sisi di salah satu kursi. Kemudian dia berjalan dan duduk di hadapannya.


Tangannya dilipat di atas meja. Lalu kedua netra nya memicing tajam ke arah Sisi. Yang membuat gadis itu menjadi salah tingkah ditatap seperti itu oleh sang sahabat.


"Kenapa lo?" todongnya langsung.


"Kenapa apa maksud lo...?" ucap Sisi berusaha menutupi gugupnya.


"Biarpun otak gue gak encer-encer amat... Tapi gue gak **** yaaaa Sayaaanggg. Gue tuh tau akhir-akhir ini lo menghindar dari gue!" dengusnya.


Sisi tercekat untuk beberapa saat.


"Itu perasaan lo doang Dir!" elaknya.


"Gue tanya sekali lagi. Kenapa??" desaknya lagi.


Sisi mendesah putus asa. "Sumpah Dir... Gak ada apa-apa kok. Gue cuma lagi banyak tugas aja!"


Dira mengerutkan keningnya sambil memasang tampang malas, "Ooohhh c'moonn...! Sejak kapan seorang Sisi pusing cuma gara-gara TUGAS kuliahhh...??" ucapnya sarkas dan memberikan penekanan pada kata tugas.


Sisi mulai meremas jemarinya pertanda gugup.


Dira mendesah panjang. "Oke... Gue gak akan maksa kalo emang lo belum mau cerita..."


Kini Sisi menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Kita pesen makan ya. Lo mau makan apa? Biar gue yang pesenin," suara Dira melunak.


Sisi terdiam. Sementara otaknya sedang berpikir keras mencari alasan agar bisa menghindar dari Dira. Kalau semakin lama dia bersama Dira, pasti sahabatnya itu akan terus mengorek-ngorek apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.


"Eh! Bagas wa gue! Ditunggu di perpus buat ngerjain tugas kelompok!" seru Sisi tiba-tiba sambil berpura-pura melihat ke layar ponselnya. Entah darimana ide itu muncul.


"Sory ya Dir. Gue buru-buru. Byee...!" tanpa menunggu jawaban dari Dira, Sisi buru-buru beranjak dari kursi dan berlalu dengan cepat dari hadapan sang sahabat.


Membuat Dira hanya bisa melongo. Namun sedetik kemudian, dia mengerutkan keningnya sambil mengelus dagu. Seperti sedang memikirkan sesuatu.


Pasti ada yang Sisi sembunyiin dari gue...!


*****


Malamnya.


Waktu menunjukkan pukul 20.04 WIB ketika Sisi sedang berbaring dengan posisi menyamping di atas ranjangnya. Kedua tangannya dikatupkan dan dijadikan penopang kepalanya. Sedang matanya menerawang ke sembarang arah. Hingga detik ini, pikirannya masih sangat kalut.


Tok tok tok!


Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya.


Sisi buru-buru memejamkan matanya pura-pura tidur.


"Sayang...? Mama masuk ya," ternyata sang mama.


Ceklek! Pintu kamarnya terbuka.



Nyonya Raisa menghampiri ranjang Sisi. Kemudian meletakkan baki yang di bawanya ke atas nakas dengan hati-hati.


Lalu wanita paruh baya itu duduk di sisi ranjang di sebelah Sisi. Posisi Sisi memunggunginya.


Tangan wanita itu terulur mengusap rambut anak gadisnya itu. "Sayang..."


Sisi pura-pura menggeliat. Kemudian mengucek matanya. Dia membalikkan badannya. Dilihatnya Nyonya Raisa tersenyum lembut ke arahnya.


Mau tidak mau Sisi duduk perlahan dari pembaringannya. Tubuhnya disandarkan di kepala tempat tidur.


"Mama bawain cokelat panas sama martabak manis kesukaan kamu. Tadi Mama pesen lewat go food," ucap Nyonya Raisa tersenyum sambil menunjuk ke arah baki.


Sisi mengulas senyum. Menatap lamat-lamat sang mama. Ada seulas perasaan bahagia menelusup relung hatinya. Mamanya benar-benar menepati janjinya. Sekarang Nyonya Raisa memang berusaha meluangkan lebih banyak waktunya untuk di rumah. Dan tentu saja itu semua demi putri semata wayangnya itu.


"Makasih ya Ma..." dengan senyuman.


Nyonya Raisa memberi anggukan kecil seraya tersenyum.


"Jangan lupa dimakan ya...!" ucapnya lebih terdengar seperti perintah.


"Iyaaaa... Mama kuuuu...!"


Mereka saling terdiam beberapa saat.

__ADS_1


"Si..." akhirnya suara Nyonya Raisa memecah keheningan.


Sisi hanya mengangkat kedua alisnya.


"Are you ok, honey...?" tanya Nyonya Raisa dengan raut wajah seperti ada kekhawatiran.


"Maksud Mama apa sih...?" balasnya pura-pura tak mengerti.


Nyonya Raisa mendesah panjang.


"Mama tuh sering perhatiin kamu... Akhir-akhir ini kamu keliatan murung banget... Ada apa Sayang...? Kamu bisa cerita ke Mama... Siapa tau nanti setelah cerita ke Mama, hati kamu jadi lebih plong,"


Sisi terpaku beberapa detik.


"Sayang...?" tukas Nyonya Raisa yang membuat Sisi terkesiap.


Sisi memaksakan diri melengkungkan bibirnya.


"I'm ok Ma..." ucapnya pelan seraya tersenyum samar.


"Really...?" tanya mama nya lagi masih tak percaya.


Dibalas anggukan oleh Sisi.


Nyonya Raisa menghela napas panjang lagi.


"Kalau ada masalah... Jangan sungkan untuk cerita ke Mama ya..." ucapnya lembut.


Sisi mengangguk lagi sambil tersenyum.


"Oke selamat istirahat Bebi... Jangan lupa dimakan martabak-nya lho! Mama udah sengaja pesenin buat anak Mama yang paling cantik sedunia,"


Sisi terkekeh. "Siaapppp Bosss kyuuuu...!" serunya yang membuat mama nya ikut terkekeh.


Nyonya Raisa-pun beranjak dan melenggang keluar dari kamar Sisi.


Sepeninggal sang mama, Sisi kembali termenung. Dia menghela napas panjang. Akhirnya dia menggeser badannya dan meraih cangkir berisi cokelat panas yang berada di atas nakas itu. Dengan perlahan dia menyesap minuman cokelat itu. Dan itu lumayan menghangatkan hatinya yang sedang dilanda kalut luar biasa.


.


.


.


.


.


.


.


Minta KOMEN, LIKE yang banyak Sayang2kuuh. Rate5 dan FAVORIT juga. Apalagi kalau kalian mau kasih VOTE, aku BERTERIMA KASIH BGT sama kaleaannn. Itu pasti bikin aku makin semangat Update wkwkwk. THANK UUU😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2