Istriku Anak Kecil

Istriku Anak Kecil
Bab 84


__ADS_3

LIKE, KOMENT, RATE5, SHARE, N FAVORIT DULU GAEESS! BARU LANJUT BACA


*****


Besoknya...


Sebuah Mini Cooper berwarna kuning metalik memasuki gerbang sebuah rumah megah dengan perlahan. Lalu setelah berhasil memarkirkan mobil itu di garasi rumahnya, sang empu mobil itu pun bergegas turun dari mobilnya dan memasuki rumahnya.


Ya, dan seperti biasa. Kondisi di dalam rumah mewah nan megah itu tampak sangat sepi bagai di kuburan dan seolah tak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya para asisten rumah tangga di dalam rumah itu yang tampak berlalu-lalang seperti biasa.


Dengan perasaan yang begitu sedih, hampa, dan kecewa, Sisi bergegas naik ke kamarnya yang berada di lantai 2.


Lalu setelah sampai di kamarnya, seperti biasa dia mengempaskan tubuhnya dengan kasar di atas ranjangnya. Tas jinjing-nya dilempar begitu saja ke sembarang arah. Kedua netra-nya memandang langit-langit kamarnya dengan nanar. Air matanya seolah sudah kering untuk meratapi nasib hidupnya!


Dia memejamkan kedua matanya dengan perlahan. Sejurus kemudian, terdapat buliran bening yang menggenang di kedua sudut matanya. Dan tak lama, dia pun terlelap ke alam mimpi seolah ingin menghindari realita hidupnya yang baginya sungguh menyakitkan...


*****


Ketukan di pintu kamar Sisi memaksanya untuk membuka matanya lebar-lebar dan bangun dari mimpi indahnya.


Tok tok tok tok tok! Suara ketukan di pintu kamarnya terdengar makin keras.


"Nooon...! Noonn Sisiiii...! Ada tamu nyariin Non Sisi tuuhh...!" suara nyaring Bik Tuti seiring ketukan pintu kamarnya.


"Iyaaa... Iyaaaa... Biiikkk...! Bentaarrrrrr...!" sahut Sisi dengan suara serak khas bangun tidur.


"Yaudah Bibik tinggal yaa Nooonnn...!"


"Iyaaaaa...!"

__ADS_1


Sisi beranjak dari tidurnya perlahan-lahan. Mengerjap-ngerjapkan matanya sambil berusaha mengumpulkan nyawa.


Diseretnya langkahnya dengan malas menuju kamar mandi di kamarnya untuk cuci muka. Lalu setelah selesai, dia pun bergegas turun ke lantai bawah.


Dan dia sangat terperanjat begitu melihat 2 orang yang sedang menunggunya di ruang tamu rumahnya. Ya, orang itu adalah Adit! Dan satunya lagi, sepertinya sih montir kantornya itu.


Shit! Tampang gue gak acak-acakan kaann, abis bangun tidur giniii??? Oh God... Untung tadi gue sempet cuci muka dulu! Ck, kenapa tadi gue gak pake alis sama lipstik dulu ya!!??? Tampang gue gak jelek kan...?


Sisi buru-buru merapikan rambutnya yang pasti berantakan karena dia baru bangun tidur dan tadi dia belum sempat merapikannya.


Dia tersenyum canggung begitu Adit menyadari kehadirannya dan tersenyum tipis ke arahnya.


"H--hai... Mas," sapanya berusaha menutupi gugupnya. Dengan perlahan dia berjalan mendekat dan duduk di hadapan Adit dan montir kantornya.


Adit tersenyum tipis, "Hai Si..."


OMG...!!!!! Kenapa gue jadi deg-degan bangett yaaaa...!!!???


Lagi-lagi Adit tersenyum tipis, "Gak kok..."


Dibalas Sisi dengan senyum kecil.


"Oya Si. Langsung aja ya. Mas Adit kesini mau anterin mobil kamu. Udah bener kok mobilnya alhamdulillah," sambil tersenyum tipis.


Sisi terkesiap. "Ya ampun. Makasih banyak lho Mas Adit! Sampe harus dianterin gini! Pasti ngerepotin banget ya!?"


Lagi-lagi Adit tersenyum tipis. "Ah, berlebihan banget sih kamu Si. Gak ngerepotin sama sekali kok!"


Sisi nyengir.

__ADS_1


"Lagian harusnya kamu bukan berterima kasih sama Mas Adit. Tapi sama Bang Jarwo nih. Dia yang udah betulin mobil kamu!" ucap Adit tersenyum lebar sambil menyikut pelan lengan lelaki di sebelahnya yang membuatnya jadi tersenyum salah tingkah.


"Hehehe... Bisa aja Pak!"


Ucapan Adit mau nggak mau membuat Sisi nyengir lagi. "Makasih banyak lho Bang Jarwo!"


Bang Jarwo cengengesan, "Sama-sama Mba!" timpalnya sambil mengangguk sopan.


Sisi tersenyum lebar. Lalu dia mengalihkan padangannya lagi pada Adit. "Iihhhhh... tapi beneran lho Mas Adit... Ini semua juga berkat Mas Adit. Kalo waktu itu Mas Adit gak nolongin aku... Gak tau deh gimana nasib aku sekarang!" ucap Sisi sedikit lebay.


Membuat Adit terkekeh geli. "Bisa aja kamu Si. Berlebihan banget sih!"


"Hehehe... Tapi bener kok Mas Adit! Makasih banyak lho sekali lagi!"


Adit tersenyum tipis lagi. "Sama-sama..."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2