
Kamis sore, pukul 16.35 WIB.
Dira meraih sebuah cangkir di dalam lemari gantung yang terdapat di dapur. Lalu mulai menuangkan sesaset kopi susu kesukaan suaminya ke dalam cangkir itu. Dan menyeduhkan air panas ke dalamnya, kemudian diaduknya agar merata.
"Mas... ini kopi susunya," ujar Dira melangkah menuju ruang tengah dimana Fahri sedang fokus mengerjakan pekerjaan di laptopnya seperti biasa. Dia segera meletakkan secangkir kopi susu buatannya itu di atas meja ruang tengah, tepatnya di samping laptop Fahri.
"Hmmm, iya makasih Sayangku..." ucap Fahri tetap fokus pada aktifitasnya.
Dira ikut duduk di samping suaminya, "Mas..."
"Mm, kenapa Sayang?"
"Ng... Ayo, katanya Mas Fahri mau anterin aku nyari dress buat acara hari Sabtu nanti...? Sekarang kan udah hari kamis, Sayang." rajuk Dira manja sambil gelendotan di lengan suaminya.
Fahri mau tak mau menghentikan aktifitasnya, lalu mengalihkan perhatiannya pada sang istri. "Iya Sayang... Yaudah 15 menitan lagi ya... Tanggung nih kerjaan Mas. Sebentar lagi selesai kok," ucapnya lembut.
"Yaudah... Tapi janji yaa jangan lama-lama..." tutur Dira yang bibirnya udah mulai maju beberapa senti.
"Iya... Iya... Tapi ya itu bibir biasa aja juga, Sayang... Minta dicium kali yaa itu bibir,"
Dira melotot, "Iihhh, Mas...!" gemasnya sambil mencubit lengan Fahri.
Fahri meringis sambil menatap nakal ke istrinya, "Yaudah, iya... iya... Yaudah sana kamu siap-siap gih. Kamu kan dandannya suka lama,"
Akhirnya mata Dira berbinar-binar, "Okeeehhh, Sayangkuuu." lalu dengan semangat dia setengah berlari menuju kamar.
Fahri tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.
*****
Setelah bersiap-siap hampir 20 menit lamanya, Dira keluar dari kamar. Mengenakan setelan dress ala Korea, dengan panjang selutut berbahan cotton dan korean velvet, serta berwarna peach.
"Sayaaanggg... yuk. Dira udah siap," serunya nyaring sambil berjalan kembali ke ruang tengah.
Dilihatnya Fahri sedang memasukkan kembali laptop yang telah dipakainya ke dalam tas khusus-nya.
"Iyaa... Yuk. Oya, tolong ambilin konci mobil Sayang. Di dalem kamar, di atas meja samping tempat tidur,"
"Okeeeyyy." dengan semangat Dira melesat lagi ke arah kamar.
Fahri cekikikan geli.
Dasar yaa cewek. Giliran mau belanja aja semangatnya minta ampun...
"Nih, Mas." Dira sudah kembali lagi dan menyerahkan kunci mobil ke Fahri.
__ADS_1
"Ok, yuk." ucap Fahri sambil merangkul mesra istrinya itu dan berjalan keluar rumah.
*****
Nadira Khansa Salsabila
*****
Muhammad Fahri
*****
Gunawan and Shireen Boutique, Jakarta Pusat.
Dira dan Fahri melangkah masuk ke dalam butik itu. Ya, Gunawan and Shireen Boutique ini memang salah satu toko langganan Dira dari zaman Dira masih duduk di bangku SMA. Maklum, karena memang papanya yang seorang CEO itu, selera Dira dalam hal barang-barang high class jangan diragukan lagi. Sebab orang tuanya juga memanjakannya dengan berbagai barang dan fasilitas mewah sejak dulu.
Ya, Gunawan and Shireen Boutique. Memang salah satu dari sekian banyak boutique terkenal di kawasan Jakarta. Dan tak jarang menjadi langganan beberapa artis ibu kota. Karena memang bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan busana-busana di boutique itu, rata-rata di import dari luar negeri. Dan yang paling diminati para pelanggan adalah gaun-gaun pesta berbahan satin atau rayon, yang permukaannya begitu halus dan berkilau bagai permata. Selain bahan mewah dan berkualitas, yang membuat busana-busana di boutique itu menjadi berkelas adalah busana tersebut notabene bertabur hiasan langka berupa batu-batu berlian warna pink, biru, kuning, yang sangat jarang ditemukan. Atau juga hiasan berupa batu kaca kristal yang secantik namanya yaitu Swarovski, yang didatangkan langsung dari Austria. Maka tak heran, harga busana-busana di boutique itu selangit. Biasanya hanya para kalangan atas yang mampu merogoh kocek untuk membawa pulang salah satu busana di boutique itu.
"Selamat sore... Kak Dira... Waahh, tumben nih baru keliatan lagi kesini," salah seorang karyawan yang sudah sangat mengenali Dira, langsung menyambutnya begitu ramah.
Dira tersenyum simpul, "Iya nih Mba..." balasnya singkat.
Senyum Dira makin lebar, "Oh... bukan Mba. Tapi ini suami saya," lanjut Dira mantap sambil merangkul lengan Fahri mesra.
Dira sempat menangkap raut wajah terkejut dari karyawan perempuan itu. Lalu, biar tu karyawan gak makin kepo mengenai urusan pribadinya, Dira buru-buru berkata lagi, "Mba, tolong tunjukkin gaun pesta bagus yang paling baru di butik ini..."
"O...Oh, iya Kak Dira. Mari ikut saya." lanjut karyawan itu. Dira dan Fahri-pun mengekor langkah karyawan itu.
"Nah... Ini yang paling terbaru Kak Dira. Memang dirancang khusus untuk gak dijual banyak, alias limited edition. Jadi kalau ini sudah sold out, ya butik kami tidak akan mengeluarkan lagi model seperti ini..." tutur sang karyawan sambil memamerkan sebuah rancangan gaun pesta warna hitam dan peach. Gaun pesta itu dirancang ala mini dress Korea yang berpotongan di atas lutut. Dengan bahan satin mewah, dan ditaburi beberapa kristal Swarovski. Lengannya panjang, namun bagian belakangnya bermodel backless. Serta ada aksen brukat di bagian dadanya. Begitu elegan.
Tentu saja Dira langsung jatuh cinta dengan gaun yang dipamerkan oleh karyawan itu. Dan akhirnya pilihan dia jatuh pada yang berwarna hitam.
Dira tersenyum simpul, "Ok deh Mba. Aku mau yang ini."
"Eh, tapi tunggu sebentar Mba. Saya mau tanya dulu pendapat suami saya gimana." Dira langsung menoleh pada Fahri, "Sayang... gimana? Bagus kan kalo aku pake yang ini...?" tunjuk Dira pada gaun itu.
"Terserah kamu kok, Sayang... Kamu kan pake apa aja bagus-bagus aja di badan kamu..." jawabnya yang memang jujur dan tidak bermaksud menggombali istrinya itu.
Fahri iseng melihat bandrol harga gaun itu. Seketika matanya langsung melotot, "Lima belas jutaa... ini Mbaa, harganyaa...??"
"Iya benar sekali, Mas."
__ADS_1
"Mba yakin...? Mungkin nol nya kelebihan 2 kali," dan seketika Dira menyikut perut suaminya itu. "Aw, sakit Sayang!"
"Mas sih abisnya malu-maluin aja deh. Emang Mas kira ini lagi di ITC apa...?"
"Ya tapi kamu, yakin... Sayang?? Mau beli gaun dengan harga segituu...??" dia masih shock
Tiba-tiba wajah Dira berubah sendu. "Hiks... Hiks... Mas Fahri jahat... Jadi Mas gak mau beliin ya...?"
Eeeeeeh... Ni bocah kok malah nangis...?
"Eeh, i... iya Sayang. Nggak masalah kok. Gak papa. Siapa bilang Mas Fahri gak mau beliin...? Apa sih... yang nggak buat kamu, Sayang...?"
Pasrah deh pasrah gueee... Ampuunnn, daripada golok melayang. Fahri, mulai besok lo harus lebih kerja keras lagii... Buat bahagiain Dira lo tersayang...! Inget Fahri, semakin lo royal dan baik sama istri lo, rejeki lo makin berlimpah. Kan gitu kata Pak Ustadz. Aamiinnn...
"Yaudah Mba, kita jadi ambil yang ini ya." ucap Fahri lagi akhirnya.
"Oke Mas." tentu saja wajah si mba karyawan sumringah beud. Gimana nggak coba? Dia berhasil jual gaun seharga 15 juta itu tanpa perlu ada negosiasi yang berbelit-belit.
Fahri segera mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dompetnya, lalu diberikan kepada istrinya itu, "Sayang, kamu yang bayar ke kasir ya. Mas tunggu di lobby aja gak papa, kan...?"
"Iyyaaa... Yaudah nggak papa. Yaudah sana gih, Mas Fahri nunggu aja di lobby nggak papa kok,"
Hadeuhh... bocah gemes, tadi nangis sekarang udah girang lagi aja... Ckckck.
.
.
.
.
.
Haloo Para readers setiaakuu..!😊😊
Mudah-mudahan masih ada yang menanti kelanjutan cerita Dira dan Fahri yaa😁😆
Oya, ngomong-ngomong ini Karya pertamakuu.
Minta dukungan kalian yaa. Terus tinggalin jejak...!!
Like, komen, vote, rate5, and share...!!
Ayooo dong dukung penulis, minimal tinggalin like sama rate5, gak nyampe 1 menit kook sayang2 kuh😍😘
__ADS_1
Dan juga kritik n saran yg membangun juga aku tungguu yaaa...!
Terima kasiiihhhh❤❤