
Seminggu kemudian.
Hari ini hari Minggu. Waktu menunjukkan pukul 10.09 WIB.
Hari ini Adit mengundang Dira dan Fahri untuk datang ke rumah untuk makan siang bersama. Bilangnya sih, untuk merayakan hari jadiannya dengan Sisi.
Gadis yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu berkata lewat telepon beberapa menit yang lalu, kalau dia sudah dalam perjalanan menuju rumahnya.
Bik Iroh sudah memasak berbagai makanan lezat dan menatanya di meja makan. Ada ikan asam manis, sayur sop kimlo, ayam bakar madu, sop iga, cumi pedas isi tahu telur, dan bihun goreng seafood.
Adit juga memesan dim sum, boba brown sugar, pizza, tapoki, sushi goreng, serta aneka dessert box.
20 menit kemudian, gadis pujaan hatinya itu tiba di rumahnya. Di tangannya terdapat banyak tentengan yang berisi makanan yang dibelinya di jalan.
"Hai Sayang," Adit meraih pinggangnya dan mengecup pipi gadisnya sekilas.
"Aku bawa zuppa soup sama iga bakar Mas,"
"Udah aku bilang juga gak usah bawa apa-apa kesini..." ucapnya seraya mengacak pelan rambut Sisi.
"Gak papa iiihhhh..." balasnya dengan nada manja.
"Yaudah aku taro di piring ya Sayaaang,"
"Makasih ya Sayang..." Adit menatapnya sambil tersenyum lembut.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk seraya tersenyum. Lalu dengan gesit berjalan ke meja makan dan mulai menata makanan yang dibawanya ke atas piring.
Sementara itu di waktu yang bersamaan. Terdengar suara berisik dan derap langkah dari arah pintu depan.
Ya, tak lain dan tak bukan itu adalah Dira dan Fahri.
"Yuhuuu Mas Adiiittt... Adiknya yang cantik jelita ini dataaanggg... Assalamu'alaikuummm...!" pekiknya dengan gaya petakilan khas-nya.
Fahri yang berada di belakangnya hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Tak lama, Adit muncul dengan wajah berseri dan langsung memeluk adik kesayangannya itu. Lalu mengecup puncak kepalanya sekilas.
"Hai Brooo...!" kemudian gantian dia ber-high five dengan Fahri dengan gaya khas lelaki.
"Mas aku bawa roti john sama buah-buahan nih," ujar Dira sambil mengacungkan bungkusan yang dibawanya.
"Makasih yaa cinta. Tolong tata di meja yaa," tersenyum simpul.
"Ciyeeee, ciyeee... Penganten baru!" goda Dira usil.
"Penganten baru mata lo!" sahut Sisi berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Huahahahahahaaa"
Setelah itu Sisi pun membantu Dira menata makanan yang dibawanya ke atas meja makan.
Tepat jam 11 siang, mereka berempat mulai menikmati makanan yang sudah tersaji di meja makan. Adit duduk di samping Sisi, dan Dira duduk di samping Fahri.
Mereka bercakap-cakap sambil sesekali tertawa renyah.
"Hmm... Dira tuh bener-bener gak nyangka. Sahabat Dira bakal jadi calon kakak ipar Dira," celetuk Dira sambil cekikikan.
__ADS_1
Membuat sepasang kekasih yang baru resmi jadian itu menjadi salah tingkah.
"Si, makasih ya! Berkat lo, sekarang kakak gue udah gak jadi jomblo lapuk lagi!" ocehnya lagi yang membuat semuanya tertawa terbahak-bahak. Kecuali Adit.
"Sembarangan kamu bilang Mas Adit jomblo lapuk! Gini-gini juga banyak yang ngantriin Mas Adit!" protesnya tak terima.
"Iya, ngantri buat nagih utang yak!" ledeknya lagi yang sukses membuat semuanya tertawa terbahak-bahak lagi. Sedang Adit hanya bisa berdecak kesal karena sang adik terus saja meledeknya.
"Pokoknya congrats yaa buat kalian berdua...! Mudah-mudahan langgeng," sambungnya lagi yang diaminkan oleh semuanya.
"Si, lo jangan mau dipacarin lama-lama sama Mas Adit. Minta cepet-cepet dikawinin sama dia,"
"Kawin, kawin... Kamu kira anak kucing dikawinin!" balas Adit yang mengundang gelak tawa mereka semua lagi.
Mereka terus menikmati santap siang mereka. Hingga akhirnya perut mereka sudah tidak mampu menampung lagi aneka makanan yang sangat banyak di atas meja makan itu.
Mereka kemudian memilih berbincang-bincang santai di gazebo taman belakang. Setelah selesai menunaikan sholat dzuhur.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued...