
Dira mengerjapkan matanya perlahan. Ketika efek obat bius itu mulai perlahan menghilang. Nyeri masih tersisa di kepalanya. Samar-samar ia melihat cairan bening menetes satu-satu melewati selang infus di lengannya.
Saat kesadarannya mulai berangsur-angsur pulih, ia mengedarkan pandangan pada ruangan serba putih itu.
"Dir, lo udah sadar?" ucap Sisi dengan raut wajah khawatir. Di sebelah gadis itu juga berdiri Adit sang kakak.
Dira memegangi kepalanya sesaat. Lalu dengan susah payah mencoba untuk beranjak dari tidurnya. Sang sahabat langsung membantunya untuk duduk.
Dira menyenderkan tubuhnya pada kepala ranjang.
Saat dia menyadari ada sesuatu yang berubah pada bagian tubuhnya, dengan blingsatan dia langsung memegangi bagian perutnya.
"Bayi aku kemana??? Bayi aku baik-baik aja kan???" pekiknya nyaring sambil meraba perutnya yang mengempis.
Sisi dan Adit memandangnya dengan sorot tak terbaca.
"Bayi aku mana Si???" teriaknya lagi begitu menyayat hati.
"Dir, lo tenang dulu ya..." ucap Sisi dengan pandangan terenyuh, seraya mengelus pelan bahu sahabatnya.
"Mana bayi aku Si??? Manaaa!??" Dira mengguncang kedua tangan Sisi dengan teriakan makin tak terkendali.
Sisi dan Adit tetap membisu.
"Aku mau liat bayi aku!!" Dira bersikeras ingin bangkit berdiri, namun Adit buru-buru mencegah tubuhnya. Membuat gadis itu berontak bak orang yang sedang kesurupuan.
Adit susah payah menenangkan sang adik. Sampai akhirnya gadis itu seperti tidak punya kekuatan lagi dan pasrah dipeluk oleh kakaknya.
Dia tak dapat lagi menahan isak tangisnya. Tangisannya memenuhi ruangan di rumah sakit itu.
Dan lambat laut tangisannya makin kencang, membuat siapapun yang mendengarnya merasa hatinya seperti tersayat.
Lalu tak berapa lama kemudian, gadis itu beberapa kali tak sadarkan diri. Membuat Sisi dan Adit panik lalu langsung memencet tombol nurse call bel.
*****
__ADS_1
Flashback, ruangan dokter Anastasya.
"Tuan Fahri, mohon maaf. Bayi anda tidak dapat diselamatkan..."
Penuturan dokter Anastya membuat Fahri bagai disambar petir di siang bolong. Seketika tubuhnya meluruh di kursi, jantungnya bagai merosot ke dengkul.
"I--itu gak benar kan Dok?"
"Mohon maaf Tuan Fahri..." lirih dokter Anastya.
Sekarang Fahri merasa dunianya benar-benar runtuh. Tanpa sadar dia menangkup wajah dengan kedua tangannya sambil terisak lirih.
Dokter Anastasya memandangnya dengan iba. Membiarkan lelaki itu menumpahkan kesedihannya.
Kekuatannya seperti menghilang. Menguap ke atas bersama asanya. Kehadiran bayi kembar yang selama ini dinanti-nantikan olehnya dan sang istri, hanya tinggal sebuah harapan.
Setelah lelaki di depannya sudah mulai bisa menenangkan diri, dokter Anastasya menegakkan tubuhnya di kursi.
"Bayi kembar Tuan dan Nyonya, meninggal saat di dalam rahim..." tutur dokter Anastasya dengan wajah menyesal.
"Itu akibat dari sebagian plasenta yang lepas, solusio. Disebabkan preeklamsia yang disebabkan mirror syndrome, itu salah satu penyebab preeklamsia," lanjut beliau lagi.
"Mirror syndrome biasanya disebabkan sesuatu yang disebut hidrops janin. Hidrops janin ini merupakan kondisi dimana cairan meninggalkan aliran darah dan menumpuk di jaringan janin. Biasanya, hidrops janin muncul dari komplikasi yang mengganggu kemampuan alami janin untuk mengatur cairan. Dalam kasus yang dialami Nyonya Dira ini, tekanan darah yang naik (preeklamsia) inilah yang menyebabkan aliran darah tidak lancar ke bayi."
"Tekanan darah naik dan membuat plasenta lepas hingga aliran darah tidak lancar ke bayi. Plasenta lepas dengan cepat. Untuk kehamilan kembar, plasenta satu tali pusat dua. Bayi kembar donor resipien ini namanya TTTS (Twin To Twin Transfusion Syndrome). Twin To Twin Transfusion Syndrome ini menjadi salah satu penyebab mirror syndrome yang dialami Nyonya Dira,"
Fahri seperti sulit mencerna setiap kata yang keluar dari mulut dokter Anastasya.
Ia masih sulit menerima kenyataan ini. Bayi kembar yang begitu dinantikan oleh ia dan istrinya kini sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Tanpa terasa satu bulir bening lolos lagi dari kelopak matanya.
"Saya turut berduka cita Tuan Fahri..." ujar beliau lagi dengan sorot mata pilu.
Fahri hanya membisu di tempatnya dengan hati yang begitu terpukul.
__ADS_1
*****
Fahri melangkah masuk ke dalam ruang rawat sang istri.
Dilihatnya sang istri sedang duduk termenung di atas ranjang sambil melihat ke arah jendela dengan tatapan kosong.
Hatinya terenyuh.
Ia berjalan perlahan menghampiri istrinya. Segera dibawanya sang istri ke dalam pelukannya.
Membuat Dira menangis sesenggukan lagi. Tangis itu membuat hati Fahri seperti tersayat-sayat lagi.
"Kita harus ikhlas ya Sayang..." lirih Fahri yang membuat isak tangis sang istri makin jelas terdengar.
"Ini udah takdir dari Allah,"
Dira terus menangis, membuat hatinya semakin perih.
Digenggamnya erat satu tangan istrinya, "Kita akan ngelewatin ini semua sama-sama..."
.
.
.
.
.
.
.
To be continued...
__ADS_1