
Besoknya, pagi pukul 06.38 WIB.
Dira menuruni anak tangga dengan perlahan. Sudah rapi dengan atasan blouse putih lengan pendek serta celana jins hitam. Oya, dia memakai celana jins yang pinggangnya karet mengingat dia kini sedang hamil.
Ternyata sang kakak sudah duduk di meja makan sambil menyesap kopi susunya. Dia heran melihat penampilan adiknya yang sudah rapi.
"Mau kemana kamu Dek?" tanyanya begitu Dira sudah duduk di kursi makan.
"Kampus Mas." jawabnya singkat.
Adit mengangkat kedua alisnya. "Kamu yakin hari ini mau masuk kuliah...?" tanyanya yang masih mengkhawatirkan keadaan sang adik.
Dira mengangguk pelan namun pasti. "Tenang aja Mas... Dira udah sehat kok," ucapnya meyakinkan sang kakak.
"Kalo ada apa-apa langsung telpon Mas Adit ya," lanjutnya lagi protektif.
"Iyaaaa... Abangku Sayaanggg."
Adit tersenyum. "Yaudah ayo sarapan. Nanti Mas yang anter sampe kampus."
Dira mengangguk.
Lalu mulai mengambil nasi dan lauk pauk yang sudah terhidang di meja makan. Gurame asam manis, cumi goreng tepung, onion ring, serta sayur cap cay seafood.
*****
Di ruang kelas, seorang dosen sedang menerangkan mata kuliah Perencanaan Pembangunan.
__ADS_1
Sudah hampir 1 jam beliau menjelaskan panjang lebar tentang materi itu melalui slide yang dipantulkan dari infocus projector.
Dira duduk di kursinya sambil menopangkan tangan di dagunya. Matanya fokus menatap dosen di depannya. Namun pikirannya berkelana kemana-mana. Memikirkan masalah yang tengah dihadapinya.
"Nadira!" tiba-tiba sang dosen memanggil namanya dengan lantang.
Membuat ia tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya. "I--iya Pak!"
"Sebutkan siklus perencanaan pembangunan daerah!"
Dira tergagap dan merutuk dalam hati.
"Harus dibangun dengan cinta dan rasa saling percaya yang kuat mungkin Pak," jawabnya ngaco dengan wajah salah tingkah.
Yang kontan membuat satu kelas tergelak mendengar jawabannya. Sang dosen geleng-geleng kepala.
Dira hanya meringis menahan malu.
*****
Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB ketika Dira berjalan di koridor kampusnya.
Hari ini ia hanya ada satu mata kuliah. Dan dia memutuskan untuk langsung pulang saja.
Sepanjang jalan kepalanya menunduk karena sedang mengetik sesuatu di ponselnya. Rupanya dia sedang memesan taksi online.
Dia terus berjalan menuju gerbang kampusnya. Dan menunggu di halte depan kampus.
__ADS_1
Tanpa disadarinya, dari kejauhan terdapat seseorang yang memandanginya dari dalam mobilnya. Sorot matanya menyiratkan kerinduan yang begitu dalam.
Ya, lelaki itu adalah suaminya, Fahri.
Tanpa sadar kedua tangan kekar lelaki itu mencengkram kuat-kuat stir mobil. Netra nya terasa panas menahan agar buliran bening tidak jatuh.
Dia sungguh merindukan gadis yang sangat dicintainya itu. Rindu ingin memeluk tubuhnya, mencium bibirnya, merindukan semua yang ada pada gadisnya itu.
Karena kebodohannya, kini ia harus siap menerima konsekuensinya. Harusnya ia tidak mengiyakan ketika wanita itu meminta tolong kepadanya, yang kini malah menjadi duri dalam rumah tangganya.
Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya. Rasanya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan emosi yang memuncak di dadanya.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued...
__ADS_1
Minta KOMEN, LIKE yang banyak Sayang2kuuh. Rate5 dan FAVORIT juga. Apalagi kalau kalian mau kasih VOTE, aku BERTERIMA KASIH BGT sama kaleaannn. Itu pasti bikin aku makin semangat Update wkwkwk. THANK UUU😘😘😘