
Pagi itu, Dira masih tertidur pulas dalam dekapan suaminya. Sejak subuh tadi mereka sudah mandi, menunaikan sholat. Lalu melanjutkan kembali tidur.
Dira mengucek matanya. Menatap wajah Fahri yang masih tertidur pulas. Diliriknya jam beker yang berada di atas meja samping tempat tidur. Seketika dia terperanjat.
"Ya ampuunnn...! Udah jam 8 lewat...!" pekiknya panik. Segera disingkapnya selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Lalu dia mengguncang-guncang tubuh Fahri pelan.
"Mas... Mas Fahri... Bangunn... Kita kesiangan nih..." bisiknya berusaha membangunkan sang suami.
"Hmmmmm," Fahri menggeliat malas.
"Mas, ini hari Senin, lho. Aku kan ada kuliah. Dan Mas Fahri juga kan harus ngajar...!" tuturnya lagi masih berusaha membangunkan Fahri.
Lagi-lagi Fahri malah menggeliat, "Hmmm... Biarin aja... Mas Fahri males masuk hari ini... Udah kita bolos aja..." ucap Fahri yang malah menarik Dira lagi ke dalam pelukannya, sebelum Dira sempat berontak.
Dira langsung melotot, lalu menjewer telinga Fahri gemas. "Iiihhh Mas Fahri tuuhh yaa...!"
Fahri tersenyum, lalu menatap Dira dalam-dalam. Lalu tiba-tiba dia menyurukkan wajahnya di leher Dira.
Dira langsung panas dingin lagi.
"Kita bikin bayi lagi yuk. Lanjutin yang semalem..." bisik Fahri nakal. Yang otomatis langsung membuat Dira membelalakkan matanya.
"Iiiihhh... bener-bener yaa Mas Fahriiii...! Otaknya mesum banget deeh," balas Dira berusaha menyembunyikan malunya.
__ADS_1
Fahri malah tertawa, "Ya biarin aja mesum. Orang ke istri sendiri ini kok,"
Lalu tanpa tedeng aling-aling lagi Fahri menyerangnya lagi dengan ciuman yang ganas. Lalu... You know what lah, apa yang terjadi selanjutnya, wkwkwk.
*****
Kemudian, hari-hari selanjutnya, dilalui Dira dan Fahri dengan penuh kemesraan, layaknya pasangan pengantin baru pada umumnya.
Dan Dira terus berusaha memperbaiki dirinya agar bisa menjadi istri yang baik.
Rabu itu, seperti biasa Dira tidak ada jadwal kuliah. Dia memanfatkan waktunya sebaik mungkin dengan membantu Bik Inah memasak untuk makan malam. Menyiapkan bahan-bahan, mengiris bumbu-bumbu, dan menata alat-alat makan di atas meja makan.
Lalu sebelum suaminya pulang, dia sudah selesai mandi dan berdandan secantik mungkin untuk menyambut Fahri. Mengenakan blous pink, serta bawahan berupa rok hitam sangat pendek. Tak lupa make-up tipis yang telah dipoles ke wajah cantiknya.
"Assalamu'alaikum...," ketika jarum jam menunjukkan ukul 17.05 WIB akhirnya terdengar suara salam Fahri dari luar rumah.
"Wa'alaikumsalam... Eh, suamiku udah pulang..." tutur Dira sambil segera mencium tangan Fahri dengan takzim.
Fahri tersenyum, akhir-akhir ini memang Dira memperlihatkan perubahan sikapnya yang cukup signifikan. Tentu saja hal itu membuat Fahri semakin senang dan bersyukur.
Dikecupnya kening Dira dengan lembut. "Wangi banget sih kamu, Sayang..." bisiknya yang mulai terbuai dengan aroma parfum yang dipancarkan dari tubuh Dira.
Dira tersipu malu. Segera dirangkulnya lengan Fahri dengan manja, "Mas Fahri mau mandi dulu? Atau mau aku bikinin teh anget... dulu?" mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Mas Fahri mandi dulu aja ya. Udah gerah banget nih,"
Dira mengangguk, "Yaudah gih. Dira siapin bajunya ya..."
"Makasih ya, Sayang..." ucap Fahri tersenyum.
*****
Usai makan malam, Fahri kembali ke kamar. Dan segera duduk di depan meja kerjanya sambil menyalakan laptop. Ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan malam itu.
"Mas," Dira membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar.
"Hmm," sahut Fahri tanpa menoleh, "Bentar ya Sayang... Mas ada kerjaan sedikit nih..."
Dira cemberut.
Lalu dengan sengaja dia duduk di atas pangkuan Fahri. Otomatis Fahri menghentikan pekerjaannya. Lalu dengan sabar akhirnya dia menggeser sedikit kursinya, agar dapat memeluk Dira dengan leluasa.
"Kenapa sih... Sayang...?" tanyanya lembut.
"Aku ngantuk, mau dikelonin sama Mas Fahri," rajuknya sambil memajukan bibir beberapa senti.
Fahri tertawa kecil. Lalu membenamkan wajahnya di tengkuk Dira. "Kamu nih... Udah mulai berani mancing-mancing Mas Fahri, ya...?" bisiknya.
__ADS_1
"Mas, geli... hihihi," gumam Dira karena Fahri mulai menciumi lehernya.
Lalu tanpa basa-basi lagi Fahri segera mengangkat tubuh Dira dan membawanya ke ranjang. Dia sudah tak dapat lagi menahan hasratnya yang dibangunkan Dira.