
4 hari kemudian, Bandara Internasional Soekarno Hatta.
Dira menangis sesenggukan sambil memeluk erat mamanya. "Mama... hu...hu...hu... Kenapa sih Dira harus terpisah gini sama kalian... Dira... Dira nggak bisa hidup tanpa kalian..." tangis Dira semakin menjadi, ucapannya menjadi terbata saking lumayan lamanya dia menangis.
Mama yang berada dalam pelukannya ikut menangis, "Kamu yang sabar ya Sayang. Mama dan Papa juga sebenernya nggak mau semua ini terjadi. Kita juga berat kalau harus terpisah sama kalian... Kamu sabar aja ya... Kalau kamu bosen, kamu minta Fahri anterin ke rumah kita, ketemu Mas Adit..."
Dira melepas pelukannya. Matanya sudah sangat sembab. Hidungnya merah.
Kini gantian Papa yang memeluknya, dan lagi-lagi tangis Dira pecah lagi. Sehingga papa-pun jadi tidak bisa membendung air matanya. "Kamu yang sabar ya, Sayang. Sekarang kan, sudah ada Fahri di sisi kamu. Papa yakin, dia bisa menggantikan Papa Mama. Untuk selalu menjaga kamu, menghibur kamu, bahkan membahagiakan kamu. Pesan Papa, hormatilah dia, Sayang. Karena sekarang dia adalah imam kamu..."
Tangis Dira semakin menjadi-jadi.
"Sayang... Kamu nggak usah khawatir. Kita ini mungkin hanya berpisah sementara waktu. Kalau suatu saat Papa dapat jatah cuti, pasti Papa dan Mama akan pulang ke Jakarta..."
Dira melepas pelukannya.
Kini gantian Adit memeluk papa mama nya bergantian.
"Kamu jaga diri baik-baik ya Dit," pesan papanya.
Adit mengangguk, wajahnya pun tak mampu menyembunyikan kesedihan.
Lalu kini giliran Fahri yang memeluk Papa Mama bergantian. "Baik-baik disana ya, Pa, Ma."
__ADS_1
Papa dan Mama mengangguk, "Titip Dira ya, Nak." pesan Papa untuk yang terakhir kalinya.
Fahri mengangguk.
*****
Sepulang dari bandara, Dira terus-terusan mengunci diri di dalam kamarnya. Entah sudah berapa jam dia menangis.
Fahri sudah berusaha membujuknya, namun hasilnya nihil.
"Dir, makan dulu yuk. Dari tadi siang kamu belum makan lho," Fahri berusaha membujuk lagi sambil mengetuk pelan pintu kamarnya.
"Aku gak laper...! Udah sana Mas Fahri aja makan duluan! Jangan gangguin aku, aku mau sendiri...!" sahutnya nyaris berteriak.
Letak kamar Dira di lantai atas. Sedangkan kamar Fahri di lantai bawah, yang memang merupakan kamar utama.
*****
Pukul 21.15 WIB.
Dira akhirnya benar-benar merasakan perutnya keroncongan luar biasa. Cacing-cacing di perutnya sepertinya mulai berdemo karena memang dari siang belum ada apapun yang masuk ke perutnya, bahkan air putih sekalipun.
Akhirnya dia berjalan keluar dari kamarnya yang dikunci sejak tadi. Lalu mengendap-endap turun ke lantai bawah udah persis kayak maling entog takut ke-gap warga.
__ADS_1
Dia-pun berjalan menghampiri meja makan yang menyatu dengan sebuah dapur minimalis. Diangkatnya tudung saji. Dan seketika matanya berbinar. Ada ayam goreng kremes lengkap dengan sambel ijo, tempe goreng, bakwan jagung, dan cah kangkung. Seketika dia menelan liurnya. Lalu dengan tak sabar, segera diraihnya piring dan mengambil nasi hangat di magic com. Dan mulai menyantap makanan yang terhidang di meja makan itu dengan lahapnya.
Tanpa dia sadari, seseorang diam-diam mengamati gerak-geriknya dari balik tembok. Dia tertawa kecil melihat tingkah Dira. Ya, siapa lagi kalau bukan Fahri.
*****
Besoknya, hari Senin.
Dira memekik kencang ketika melihat jam di hp-nya sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Ya Tuhan... dia kesiangan! Padahal jam setengah 8 pagi ini dia ada kuliah.
Dia buru-buru berlari ke kamar mandi di kamarnya. Dan mandi singkat tak seperti biasanya, yang kadang hampir memakan waktu 45 menit untuk dia mandi doang.
Lalu dengan grasak-grusuk turun ke lantai bawah. Dilihatnya Fahri sedang sarapan seorang diri di meja makan. Ya, dia memang masih ada jatah cuti menikah 4 hari lagi dari kampus tempatnya bekerja.
"Iihhh, Mas Fahri tuh gimana siihhh...? Kok gak ngebangunin aku...? Aku jadi telat gini, kan...!" sungutnya sebal.
"Lho, kok kamu nyalahin Mas Fahri?" Fahri berusaha tetap bersikap tenang, "Kamu kan udah gede. Harusnya udah bisa lah... bangun sendiri. Kecuali kamu itu anak TK, wajar kalo masih harus dibangunin," ucapnya masih tenang sambil mengoles roti dengan selai cokelat.
Iiiihhhh nyebelinn bangett siihhh... niii cowookkk...!
"Yaudah ayo cepetan, Mas Fahri anterin kamu ke kampus. Mau sarapan dulu, gak?"
"Gak usah!" balasnya jutek.
__ADS_1