
"Si," tiba-tiba wajah Dira berubah serius. Kedua netra nya menatap sang sahabat begitu tajam.
Membuat Sisi jadi salah tingkah.
"Ada... yang pengen... Lo ceritain... sama gue...?" ucapnya dengan memberikan penekanan pada setiap kata.
Sisi tertegun beberapa saat. Sebelum akhirnya menggeleng dengan ragu.
Dira mendesah kasar.
"Lo masih utang cerita lho sama gue!"
Sisi berusaha menutupi gugupnya.
"Maksud lo apa sih Dir? Kan gue bilang gak ada apa-apa,"
Mata Dira memicing lagi menatap sang sahabat yang mulai gelisah itu.
"Lo gak bisa bohongin gue Sayang..." pelan tapi begitu tajam setajam silet.
"Gue tau pasti ada sesuatu yang lo tutupin dari gue. Karena belakang ini tuh sikap lo beda!"
Sisi menunduk, tak berani memandang wajah sang sahabat.
Dira menyentuh lengan Sisi perlahan. "Lo bisa sampe masuk rumah sakit... apa ada hubungannya dengan masalah yang lo sembunyiin dari gue...?" lanjutnya mencoba menganalisa.
Tenggorokan Sisi rasanya tercekat.
Melihat sang sahabat masih terus saja membisu, Dira berdecak kesal.
"Si..." panggilnya nyaris berbisik.
Sisi mendongak menatap wajah gadis di depannya. Namun tetap saja tak ada jawaban keluar dari mulutnya.
"Sisi!" gemas Dira. "Kalo lo gak mau cerita juga, gue pecat lho dari keluarga gue!" kesalnya.
Sisi terdiam, namun sedetik kemudian dia ketawa terbahak-bahak. "Sejak kapan gue jadi keluarga loo...??"
"Sejak nenek dari buyut gue yang punya keponakan dari kakaknya nenek buyut gue nikah sama kakek dari buyut lo yang punya keponakan dari kakaknya kakek buyut lo!" balasnya asal.
Yang membuat Sisi makin tergelak. Bisa-bisanya Dira ngelawak disaat dirinya lagi kesal!
__ADS_1
"Sisiiiiiiiii... Gue seriussss iiihhhh...!" ambeknya.
"Kalo lo gak mau cerita, gue pecat lho jadi sahabat! Gue serius nih!" katanya sok galak.
Sisi mendesah frustasi. Dia menghirup oksigen yang ada di sekitarnya sebanyak-banyaknya, kemudian membuangnya perlahan.
"Oke..." ucapnya akhirnya.
"Tapi lo janji jangan ngetawain gue ya!" titahnya.
Dira hanya mengerutkan kening.
"Lo bener Dir... Gue sampe drop dan masuk rumah sakit gini... salah satu penyebabnya karena masalah yang selama ini membebani gue belakangan ini. Dan itu membuat gue jadi terus kepikiran dan stress... Gue jadi sering susah tidur, jarang makan, dan lain sebagainya..."
Dira berusaha menyimak dengan seksama penjelasan sang sahabat.
"Dan ini semua ada hubungannya sama..." Sisi menggantung ucapannya penuh keraguan, "...abang lo..."
Dira masih belum paham kemana arah cerita Sisi. Dahinya berkerut-kerut. "Mas Adit maksud lo?"
Ya iyalah! Emang lo punya abang lagi selain Mas Adit? Pake nanya lagi! namun itu hanya diucapkan Sisi dalam hati.
Sisi mengangguk.
Namun sukses membuat kedua mata Dira membola sempurna. Bahkan mulutnya menganga yang membuat dia menutupnya dengan satu tangannya.
"Pertemuan kita... yang pada akhirnya membuat gue jatuh cinta dengan Mas Adit... Sampe akhirnya kita menjadi sangat dekat... Bahkan kita juga intens komunikasi lewat wa..."
Kemudian Sisi-pun menceritakan dari awal bagaimana pertemuannya dengan Adit. Sampai akhirnya dia dan Adit menjadi sangat dekat. Sering jalan bareng. Bahkan tak pernah putus komunikasi lewat wa. Sisi menceritakan semuanya dengan gamblang.
"Gue kira... Mas Adit punya perasaan yang sama seperti yang gue rasakan ke dia..." lanjutnya lagi lirih. "Ternyata gue salah. Cinta gue cuma bertepuk sebelah tangan. Ya, sejak malam itu. Ketika gue melihat dengan mata kepala gue sendiri... Mas Adit bermesraan sama cewek lain. Gue rasa itu adalah pacar Mas Adit..." mata Sisi mulai berkaca-kaca ketika memorinya flashback ke masa itu.
"Tapi yang bikin gue sangat kecewa... Kenapa Mas Adit tega kasih harapan palsu ke gue...? Kalo pada akhirnya dia memilih wanita lain..."
"Rasanya... Sakit banget Dir... Patah hati itu ternyata sangat sakit..." akhirnya Sisi tak dapat menahan isaknya.
Dira terenyuh memandang sang sahabat. Dia beranjak dari duduknya dan meraih pundak Sisi ke dalam pelukannya. Membiarkan Sisi meluapkan tangisnya.
"Kenapa lo selama ini gak pernah cerita sama gue Si...?" ucapnya lembut.
"Gue malu Dir! Gue takut lo ngetawain gue kalo lo tau gue jatuh cinta sama kakak lo..." dia terus terisak.
__ADS_1
"Itu gak mungkin Sayang..." Dira mengusap lembut punggung sang sahabat.
Lalu beberapa saat kemudian, mereka saling mengurai pelukan.
"Lo yang sabar ya..." hanya itu yang bisa Dira ucapkan.
"Tapi... Gue rasa... Mas Adit itu bukan tipe lelaki kayak gitu. Yang suka ngasih harapan palsu ke cewek. Apalagi nyakitin cewek... Gue tau banget dia..." dia mencoba berasumsi.
"Mudah-mudahan ini semua cuma salah paham doang antara lo dan Mas Adit..." lanjutnya berusaha menenangkan sang sahabat.
Sisi tak menjawab.
"Udah lo jangan mikirin macem-macem dulu ya... Biar lo bisa cepet sehat lagi..." ucapnya lembut seraya mengusap pundak Sisi.
Sisi mengangguk sambil tersenyum tipis.
.
.
.
.
.
.
To be continued...
Minta KOMEN, LIKE yang banyak Sayang2kuuh. Rate5 dan FAVORIT juga. Apalagi kalau kalian mau kasih VOTE, aku BERTERIMA KASIH BGT sama kaleaannn. Itu pasti bikin aku makin semangat Update wkwkwk. THANK UUU😘😘😘
.
.
.
.
.
__ADS_1
Mohon maaf kalo terkadang aku Up nya cuma sedikit... ini juga aku usahain untuk Up tiap hari di sela-sela kerjaan aku... demi biar aku gak ngecewain kaliann huhuhu...
jadi Author minta jangan pelit untuk tekan tombol LIKE nya yaaa. karna itu sangat mengapresiasi kami banget. Trus komentar kalian walaupun cuma ketik lanjut atau next aja udah bikin Author seneng banget. eehh kok jadi curhat maap yak wkwkwkk.