
Usai melakukan check in dan mendapatkan boarding pass, Dira menunggu di ruang tunggu sebelum boarding.
Gadis itu termenung dengan mata menerawang ke sembarang arah.
Dengan perlahan diembuskannya napas. Lalu mengambil ponselnya dari dalam tas jinjingnya.
Tak berapa lama dia sudah terlihat meng-scroll hp nya ke atas dan ke bawah.
"Dira...!" sebuah teriakan yang nyaris tercekat tiba-tiba menyapa gendang telinganya.
Dira mengangkat kepalanya. Dan tiba-tiba saja tubuhnya membeku beberapa saat.
Sosok yang selama ini dirindukan dan
berhasil memporak-porandakan hatinya itu, tengah berdiri di dekat pintu boarding room.
Jantungnya seolah berhenti berdetak beberapa saat. Dia menajamkan penglihatannya untuk memastikan bahwa sosok yang dilihatnya itu bukan halusinasi.
Beberapa saat kemudian matanya berkaca-kaca, ia meraup sebanyak-banyak udara di sekitarnya untuk memutus sesak di dadanya.
Sosok itu kini tengah berjalan menghampirinya.
Hati gadis itu rasanya bagai dipenuhi kupu-kupu yang berterbangan. Ia bangkit berdiri perlahan-lahan.
__ADS_1
Dan kini sosok itu sudah berdiri sejajar di hadapannya. Netra mereka saling bertemu, seolah melampiaskan rindu yang selama ini menggebu.
Mereka mengikis jarak diantara mereka berdua, sampai akhirnya tangan itu meraih tubuhnya dan mendekapnya erat dalam pelukan. Pelukan itu seolah tak mau terlepas, bak ingin mengikis nestapa yang selama ini menggerogoti kedua insan itu.
Tak dipedulikannya tatapan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Yang seperti mendapat tontonan gratis bak adegan-adegan drama di sinetron.
Setelah puas berpelukan untuk menyalurkan rindu, mereka menarik tubuhnya untuk mengurai pelukan. Sosok laki-laki yang tak lain adalah Fahri itu, menatap sang istri tepat di manik matanya. Sorotnya menyiratkan kerinduan yang mendalam. Kalau saja sekarang mereka bukan sedang berada di tempat umum, ia pasti sudah ******* habis bibir ranum itu.
"Ma--Mas Fahri kemana aja selama ini...? Hiks, hiks..." ujar Dira terbata dengan mata yang sudah basah.
Lelaki itu menatapnya sayu. "Maafin aku ya Sayang," sahutnya sendu. "Aku gak ngabarin kamu karena aku kira kamu masih marah..."
Fahri kemudian menjelaskan bahwa ia ditunjuk secara mendadak untuk mengikuti studi banding di salah satu universitas ternama yang berada di Singapura, selama 3 minggu. Dan selama studi banding, penggunaan ponsel dibatasi.
"Sssttt," sela Fahri sambil menaruh telunjuknya di bibir sang istri. "Gak usah dibahas lagi ya Sayang... Aku udah maafin kamu kok,"
Gadis itu terdiam beberapa saat. Sedetik kemudian bola matanya memandang Fahri dengan mimik lucu. "Mas Fahri tau darimana kalo aku ada disini?"
"Mas Fahri tadi ke rumah Mama Papa. Niatnya untuk jemput kamu, tapi Bik Inah bilang kamu ke bandara mau nyusul Mama Papa ke Batam. Mas kaget banget, dan langsung ngebut nyusul kamu kesini. Untung aja Mas gak telat,"
Dira terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya meraih satu tangan sang suami ke dalam genggamannya. "Maafin Dira ya Mas..."
Fahri mengulas senyum. "Udah jangan minta maaf terus ya Sayang..."
__ADS_1
Dira tersenyum kikuk.
Fahri meraih lengan istrinya dan menggandengnya menuju pintu keluar boarding room.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued...
gimana gimana, udah puass kan kaleaannn? wkwkwk
Jangan lupa KOMEN, LIKE yang banyak Sayang2kuuh. Rate5 dan FAVORIT juga. Apalagi kalau kalian mau kasih VOTE, aku BERTERIMA KASIH BGT sama kaleaannn. Itu pasti bikin aku makin semangat Update wkwkwk. THANK UUU😘😘😘
__ADS_1