Istriku Anak Kecil

Istriku Anak Kecil
Bab 125


__ADS_3

Akhirnya mereka tiba di kediaman orang tua mereka. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Adit memapah tubuh sang adik memasuki rumah karena dia masih mengkhawatirkan keadaan adiknya.


"Nanti barang-barang kamu biar Mas Adit aja yang turunin dari mobil," ucapnya ketika sudah sampai di depan pintu kamar Dira sewaktu gadis itu belum menikah dan masih tinggal di rumah papa mama nya.


Dira mengangguk pelan seraya tersenyum, "Makasih ya Mas."


Adit mengangguk singkat dan balas tersenyum.


Dia-pun membiarkan sang adik masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Dira terkesima beberapa saat memandangi ruang kamarnya. Tidak ada yang berubah ketika terakhir kali dia meninggalkan kamar ini. Ya, tepatnya kira-kira setahun yang lalu ketika ia dan sang suami menginap di kamar ini ketika orang tuanya berkunjung pulang ke Jakarta.


Namun rasanya dia bagai sudah bertahun-tahun meninggalkan kamarnya sewaktu gadis dulu. Dia begitu rindu dengan kamar ini. Kamar yang didominasi dengan warna pink dan ungu muda.


Letak perabotan dan barang-barang di kamar itu tidak ada yang berubah. Dan selalu bersih seperti biasa. Sepertinya, Bik Iroh tetap membersihkan kamar ini setiap hari walaupun sang empu sudah tidak tinggal lagi di kamar itu.


Dira memandangi pigura-pigura yang terpajang di atas nakas dan dinding kamarnya. Potret dirinya sendiri, dan beberapa dengan sang sahabat yaitu Sisi.


Dia menarik senyumnya, memorinya kembali bernostalgia ketika memandangi pigura-pigura itu.


Setelah puas bernostalgia dengan kamarnya, ia berjalan ke arah ranjang queen size nya. Lalu perlahan merebahkan tubuhnya di atas sana.


*****


Dira mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menyesuaikan mata itu dengan cahaya lampu kamarnya. Rupanya dia ketiduran.


Dia melirik jam di dinding kamarnya. Pukul 11.45 WIB.


Gadis itu berusaha mengumpulkan nyawanya yang belum menyatu semua. Lalu perlahan duduk di atas ranjangnya.


Lamat-lamat telinganya mendengar sebuah alunan lagu yang sepertinya berasal dari lantai bawah, yang disetel sang kakak melalui MP4 player yang dihubungkan dengan speaker.

__ADS_1


Tiba-tiba saja hatinya seperti dicubit. Kenapa lagu itu bisa pas sekali dengan suasana hatinya saat ini? Seolah ingin ikut menemaninya yang sedang larut dalam kesedihan.


Sandiwarakah selama ini


Setelah sekian lama kita t'lah bersama


Inikah akhir cerita cinta yang s'lalu


Aku banggakan di depan mereka


Entah dimana kusembunyikan rasa malu


Hoo...


Kini harus aku lewati sepi hariku


Tanpa dirimu lagi


Biarkan kini ku berdiri


Walau pedih hati


Namun aku bertahan...


-Glenn Fredly: "Akhir Cerita Cinta"-


*****


Jarum jam menunjukkan pukul 18.50 WIB.


Dira baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaian. Untung saja baju-bajunya disini masih banyak, jadi dia tidak perlu lagi ke rumah Fahri untuk mengambil baju-bajunya.

__ADS_1


Tok tok tok! Terdengar ketukan dari pintu kamarnya.


Tak berapa lama pintu kamarnya terbuka, dan wajah sang kakak menyembul dari balik sana.


"Makan dulu yuk Dek,"


"Iya Mas, bentar lagi aku turun." jawabnya yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Oke sip." Adit pun menutup kembali pintu kamar adiknya melangkah lagi menuju lantai bawah.


Selang beberapa menit kemudian, Dira turun ke lantai bawah dan berjalan menghampiri meja makan yang sudah ada sang kakak disana. Ia pun menarik kursi di depan kakaknya.


Bik Iroh yang sedang menata piring di atas meja makan, melirik sekilas ke arah Dira. Dalam hatinya bertanya-tanya kenapa anak majikannya itu ada disini. Namun tentu saja dia tidak berani bertanya dan hanya menyimpannya dalam hati saja.


Setelah selesai, Bik Iroh kembali ke dapur.


Kakak beradik itu pun mulai menikmati makan malam dengan suasana yang tidak seperti biasanya, lebih banyak keheningan yang tercipta. Dan sesekali hanya terdengar sendok dan garpu berdenting karena saling beradu.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


To be continued...


Minta LIKE dan KOMEN yang banyak gaeessss.


__ADS_2