
Seminggu telah berlalu sejak Dira memulai harinya sebagai seorang mahasiswi.
Malam itu, usai dia dan keluarganya makan malam bersama seperti biasa, dia kembali ke kamarnya. Lalu tidur-tiduran di atas tempat tidur sambil sibuk meng-scroll hp-nya ke atas dan bawah. Sesekali dia memantau grup WA kampusnya.
Tok, tok, tok. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Dan wajah Adit menyembul di balik pintu kamarnya, "Dir, ke ruang tengah sebentar ya. Mama Papa mau ngomong sama kamu,"
Dira mengernyit, "Ngomong? Ngomong apaan, Mas? Gak biasanya deh. Penting banget kayaknya ya?" ucapnya sambil beranjak perlahan dari tidurnya.
Adit hanya mengedikkan bahu, "Mas juga nggak tau. Makanya kamu turun dulu ke bawah,"
Mau tidak mau Dira segera menuruti kakak satu-satunya itu.
"Haii Ma... Pa. Ada apa sih? Tumben-tumbenan banget. Kayak ada sesuatu yang serius aja,"
Papa diam sesaat. "Duduk dulu Sayang."
Dira-pun menuruti papanya dan langsung duduk di hadapan mereka.
Dira mengamati wajah mamanya sekilas. Raut wajahnya tidak seperti biasa, seakan ada suatu kecemasan yang ditutupi. Hal itu membuat dia jadi semakin penasaran. Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan kedua orang tuanya?
"Ehm," Papa berdeham. "Jadi, begini Sayang..." rasanya tenggorakan Papa seperti tercekat untuk memulai pembicaraan.
__ADS_1
Dira semakin heran.
"Papa... Ingin... menjodohkan kamu dengan... Fahri,"
Dira seperti tersambar petir di siang bolong.
"Papa... bercanda... kan...?"
"Tidak Sayang. Papa serius!"
Dira menoleh kepada sang Mama, "Ma... ini maksudnya apa siih...?"
Mama tidak berani menatap anak gadis satu-satunya itu. Wajahnya terlihat gugup dan cemas.
"Nak, tolong dengarkan sebentar. Sebenarnya, sudah sejak lama kami merencanakan ini semua. Nak, sebulan lagi Papa harus dimutasi ke Batam. Untuk mengurus salah satu cabang restoran disana. Sebenarnya, bagian pusat sudah merencanakan sejak setengah tahun yang lalu. Tapi Papa minta untuk ditunda. Karena tidak mungkin Papa dan Mama meninggalkan kamu yang masih sekolah. Sedangkan sekarang, tidak mungkin juga kalau kamu ikut kami ke Batam. Karena kamu baru saja mulai kuliah. Dan ini mimpi kamu sejak lama kan...? Kuliah di kampus dambaan kamu."
"Jadi, kalau kamu tetap di Jakarta, harus ada seseorang yang menjaga kamu. Agar Papa dan Mama bisa tenang meninggalkan kamu. Dan, kami rasa, Fahri adalah orang yang paling tepat. Karena kami sudah sangat lama mengenalnya. Selain baik, dia juga bertanggung jawab. Papa yakin dia bisa menjaga dan membahagiakan kamu. Apalagi kami juga sudah mengenal keluarganya dengan baik,"
Dira seolah tidak dapat mengeluarkan kata-kata. Lidahnya seakan kelu.
"Tapi Pa... disini kan ada Mas Adit!"
__ADS_1
"Dira, tapi tidak mungkin selamanya juga Mas Adit bisa menjaga kamu. Suatu saat dia juga pasti menginginkan punya sebuah keluarga, memulai kehidupan baru... Apalagi usianya sudah matang. Karena mungkin Mama dan Papa juga akan tinggal disana untuk waktu yang sangat lama, entah sampai kapan..." kali ini Mama yang berbicara.
"Papa dan Mama mohon Dir, karena ini semua juga demi kebaikan kamu. Tidak akan ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya sendiri..."
Dira terdiam lagi. Semua ini benar-benar bagaikan mimpi baginya.
"Tapi Pa... Ma. Dira masih 18 tahun! Baru kemarin Dira lulus sekolah. Dan sekarang, baru juga seminggu Dira mulai kuliah. Dira nggak mau nikah muda Ma, Pa. Dira mohon sama kalian. Masa depan Dira masih panjang. Mama dan Papa tau kan... Dira lagi semangat-semangatnya menjadi seorang mahasiswi... Kalau Dira menikah, otomatis kebebasan Dira akan terenggut. Karena bila telah menjadi istri orang, pasti Dira gak akan bisa sebebas waktu gadis. Terikat dengan banyak hal... Dira sama sekali nggak siap...!" ucap Dira hampir menangis.
"Dira... Fahri itu orang yang baik. Mama bukan baru mengenalnya dua atau tiga bulan. Mama yakin, kalau kamu menikah dengan dia, dia tidak akan melarang kamu untuk tetap mengejar mimpi, atau karir kamu... Percayalah, Dira."
"Dan juga, kuliah kamu tidak akan terganggu. Percaya sama Mama, Dir..."
Dira makin terdiam. Kali ini air matanya benar-benar telah tumpah.
"Jangan-jangan... Selama ini... kalian memang telah merencanakan semuanya sejak lama...? Termasuk dari awal pertemuan aku dengan Mas Fahri... Itu semua skenario Mama, Papa, juga Mas Adittt...???" ucap Dira hampir berteriak, matanya semakin basah.
Mama dan Papa terdiam, cukup lama.
"Maafin Mama... dan Papa, Sayang..." ucap Mama yang juga hampir menangis.
Dira menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya. "Mama, Papa, Mas Adit. Kalian semua jahatt...! Dira nggak akan mau nikah sama dia!" Dira bangkit dari duduknya dengan cepat. Kemudian berlari menaiki anak tangga. Dan tak lama terdengar suara pintu dibanting keras.
__ADS_1
"Diraaaa...!" seru Papa lantang. Tapi Dira tak bergeming.
Adit, yang sejak tadi sebenarnya menguping pembicaraan mereka dari balik tembok, mengembuskan napas panjang. Wajahnya menampakkan kesedihan.