Istriku Anak Kecil

Istriku Anak Kecil
Bab 79


__ADS_3

LIKE, KOMENT, RATE5, SHARE, N FAVORIT DULU GAEESS! BARU LANJUT BACA


*****


Rabu malam, pukul 19.12 WIB. Dira baru saja usai mandi. Sambil melangkah keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamar, dia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


Dilihatnya sang suami sedang duduk sambil bersandar di kepala tempat tidur. Tangannya fokus memainkan hp.


"Mas," panggil Dira.


"Hmm... Kenapa Sayang?" sahut Fahri tanpa menoleh.


Dira kini berdiri di depan meja riasnya, lalu mulai menyisir rambut panjangnya. "Dira pengen makan nasi goreng yang dijual di pengkolan itu deh. Sebelum aku hamil kan kita pernah beli ya. Mas inget gak? Rasanya juga enak,"


Fahri mengalihkan perhatiannya pada sang istri yang kini mulai mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. "Boleh Sayang. Kamu tunggu aja ya disini. Biar Mas aja yang beliin," dia meletakkan hp-nya di atas nakas dan mulai beranjak dari duduknya.


"Aku ikut ah Mas... pengen makan disana aja lagian,"


Fahri diam sejenak. "Yaudah deh terserah kamu."


"Yeeeee...!" seru Dira girang, sambil meletakkan kembali hair dryer-nya di atas meja rias karena kini rambutnya mulai kering.


Dia yang masih mengenakan jubah handuk model kimono itu, dengan lincah melesat ke arah lemari pakaian mereka. Dan meraih sebuah dress rumahan selutut bahan jersey bermotif stripe.

__ADS_1


"Mas tunggu mobil ya Sayang..." ucap Fahri sambil meraih kunci mobilnya di atas nakas.


"Okeeyy Sayaanggg...!" seru Dira semangat. Fahri pun berjalan ke arah pintu dan meraih handel nya. Kemudian berlalu keluar kamar setelah menutup kembali pintu kamar.


Beberapa menit kemudian, Dira sudah berganti baju. Lalu dengan semangat melesat keluar kamar menyusul sang suami yang sudah menunggu di dalam mobil.


"Yuk Sayang!" ujar Dira semangat setelah duduk di samping Fahri.


Fahri tertawa kecil. "Okey..." mesin mobil sudah dinyalakan daritadi, Fahri mulai menginjak pedal gas. Mobil pun berjalan pelan menyusuri jalanan kompleks. Tempat mangkal penjual nasi goreng yang dimaksud Dira itu jaraknya memang lumayan jauh walaupun masih di dalam kompleks perumahan mereka, sekitar 1,6 km dari rumah mereka.


"Padahal mah gak papa Mas aja yang beliin Sayang. Biar kamu tunggu di rumah aja... biar gak capek," gumam Fahri sambil tetap fokus menyetir.


"Aku kan udah bilang Sayang... pengen makan disana..."


"...dan juga... aku tuh ngidamnya, pengen makan nasi gorengnya tuh disana, trus Mas Fahri sendiri yang langsung masakin buat akunya gitu Sayang..." begitu enteng dan kalem Dira mengucapkannya, tapi sungguh berhasil membuat Fahri seketika menelan salivanya.


"Ma--maksud kamu... Sayang...?" tanyanya lagi mencoba memastikan, berharap dia hanya salah dengar. Menoleh sekilas ke arah istrinya yang kini hanya senyam-senyum sambil mengelus perut buncitnya.


"Masa kurang jelas sih Sayang...?" masih dengan kalem, "Dira mau Mas Fahri sendiri yang langsung masakin nasi gorengnya buat Dira!"


Glek! lagi-lagi Fahri tiba-tiba begitu sulit menelan salivanya.


"Ka--kamu yakin Sayang...? Kan kamu tau Sayang, Mas mana bisa masak? Mendingan abang nasi gorenya aja ya yang bikin. Dijamin rasanya gak bakal gagal kan... Kalo Mas yang buat, nanti kamu malah kecewa lagi..."

__ADS_1


Tiba-tiba wajah Dira berubah sendu.


"Jadi Mas Fahri gak mau...? Ini yang pengen si dedek bayi lho... Mas Fahri mau, nanti anak kita ngen--"


"Oke Sayang! Fine!" potong Fahri cepat. Kalau jurus andalan istrinya itu sudah keluar, dia tidak akan bisa berkutik lagi. Selain menuruti kemauannya.


Fahri mengembuskan napas dengan kasar. "Mas akan turutin kemauan kamu!"


Seketika mata Dira berbinar. "Yyeeeee...! Makasiihhhh Sayaaanggg...!" serunya girang sambil mengecup sekilas pipi Fahri.


Fahri hanya menghela napas pasrah.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


To be continued...


__ADS_2