Istriku Anak Kecil

Istriku Anak Kecil
Bab 18


__ADS_3

Seminggu kemudian...


Di sebuah mesjid, di kawasan Jakarta.


"Saya terima nikah dan kawinnya Nadira Khansa Salsabila Binti Bian Saputra, dengan maskawinnya yang tersebut di atas tunai." Fahri melantunkan Ijab Kabul dengan lancar dan mantap, dalam satu tarikan napas.


Para saksi yang hadir pun mengatakan 'sah'. Dilanjutkan dengan lantunan doa yang dibacakan oleh seorang ulama yang turut hadir dalam prosesi akad nikah yang sakral itu.


Dira yang hari itu tampil begitu cantik dan anggun, dalam balutan kebaya putih, tetap tak mampu menyembunyikan kesedihan di wajahnya.


Ya, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dan bersejarah untuk semua wanita pada umumnya. Karena mengucap janji suci di hadapan Tuhan, dalam sebuah ikatan yang suci. Bersama dengan orang yang dicintai. Berjanji sehidup semati.


Namun tentu hal ini tak berlaku bagi Dira. Baginya, justru inilah awal malapetaka baginya. Masa-masa remajanya akan terenggut. Kebebasannya akan terbelenggu. Dan terlebih, dia harus hidup seatap, dengan lelaki yang sama sekali tak dicintainya...


Mama dan Papa menangis terharu. Begitu juga dengan sang sahabat yang hadir di prosesi akad nikahnya, Sisi.


Dira meraih tangan Fahri, yang kini telah sah menjadi suaminya itu, lalu menciumnya dengan takzim. Dan Fahri membalas dengan mengecup lembut kening Dira.


*****

__ADS_1


Setelah prosesi akad nikah selesai, siangnya diadakan resepsi yang cukup meriah di sebuah ballroom hotel.


Namun, keluarga besar dari kedua pihak memang sengaja tidak terlalu banyak mengundang tamu. Hanya tamu-tamu penting dan kerabat dekat saja.


Dira begitu cantik dan memukau dalam balutan gaun pengantin merah modern yang sangat elegan. Begitu pas bersanding dengan Fahri yang mengenakan setelan jas. Fahri-pun tak kalah tampan siang itu. Kharisma dan aura kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya.


"Nak Fahri, Om dan Tante minta, tolong jaga Dira baik-baik. Dira adalah salah satu kebahagian kami," ucap Papa begitu pesta resepsi hampir usai.


"Tentu Om, eh, maksud saya, Papa. InsyaAllah... Saya akan menjaga dia, dan berusaha membahagiakan dia semampu saya,"


Papa tersenyum, "Terima kasih ya Nak,"


Fahri membalas dengan tersenyum sambil mengangguk kecil.


"Bro, gue minta. Tolong jaga adek kesayangan gue ini baik-baik ya. Jangan sampe dibikin lecet," kali ini Adit yang berbicara.


Adit tertawa kecil, "Motor kali Bro, lecet."


Kedua sobat itu tertawa serempak.

__ADS_1


Lalu nggak lama kemudian, Sisi berlari kecil menghampiri Dira. "Sayangkuuu... Honey... Selamat yaaa... Lo akan memulai hidup baruu. Gue selalu mendoakan kebahagiaan untuk lo..." berondongnya sambil memeluk Dira erat.


Akhirnya Dira tak kuasa menahan tangisnya, "Makasih ya Sayang..."


*****


Malamnya, Fahri langsung memboyong Dira ke rumahnya di kawasan Jakarta Selatan. Setelah sebelumnya mereka sempat ke rumah mama papa Dira selepas resepsi.


Ya, Fahri memang sudah memiliki rumah sendiri. Rumah mungil bergaya minimalis. Di usianya yang masih 25 tahun, dia terbilang sudah mapan secara finansial. Sudah menjadi dosen, punya rumah dan kendaraan sendiri.


Dira menyeret kopernya. Dia baru membawa sebagian baju-bajunya.


"Dir, Mas mau ngomong sebentar," ucap Fahri sambil menggamit lengan Dira dan mengajaknya duduk di ruang tamu.


"Sebenernya udah hampir setahun ini, di rumah ini ada Bik Inah yang bantu Mas Fahri. Masak, bebenah, nyapu, ngepel, dan ngurus keperluan rumah lainnya. Jadi... Kamu nggak usah khawatir. Mas nggak akan nyuruh kamu ngelakuin itu semua. Karena udah ada Bik Inah. Mas juga gak akan nuntut kamu, untuk mengurus keperluan Mas Fahri,"


"Dan terakhir, kamu tenang aja. Mas Fahri gak akan pernah ngekang kamu. Walaupun kamu udah nikah sama Mas, kamu tetap boleh jalan-jalan sama temen kamu, atau yang lainnya. Karena Mas juga sadar, di umur kamu yang masih sangat muda ini, emang itu masa-masanya kamu. Mas juga gak akan melarang kamu untuk mengejar karir kamu. Tapi tetap ingat, Mas ini kan sekarang suami kamu, yang artinya adalah pemimpin keluarga. Tetap izin sama Mas, kalau kamu mau melakukan sesuatu,"


Dira terdiam. Tetap saja semua ini rasanya bagai mimpi baginya. Ya, mimpi buruk.

__ADS_1


"Ok," sahut Dira akhirnya. "Aku juga punya permintaan. Aku minta, kita tidur di kamar yang terpisah! Karena Mas Fahri tau kan, aku ini baru masuk kuliah. Dan juga, aku belum siap..."


Fahri tersenyum, berusaha menyembunyikan kekecewaannya. "Mas Fahri ngerti kok. Mas akan tunggu sampai kapanpun, sampai kamu benar-benar siap..."


__ADS_2