Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Nania Mulai Merespon


__ADS_3

Fiona mencari tahu keberadaan Radit dan wanita yang telah merebut hati pria yang ia cintai.


"Sial, ternyata Radit membawa wanita itu ke Korea demi menyembuhkan nya!" Kesal nya di dalam mobil sambil memukul stir.


Merasa kehilangan kesempatan untuk mendekati Radit, Fiona frustasi mendengar kabar dari orang suruhan nya. Jika Radit ke luar Negeri bersama Nania.


Dia menjalankan mobil nya menuju Club malam untuk menghilangkan rasa galau di hati nya. Tentu saja Fiona datang ke Club yang memang untuk kalangan atas. Jadi tamu-tamu yang datang di sana, orang dari kalangan atas semua.


Fiona turun dari mobil, lalu masuk ke dalam Club itu dengan dress minim nya berwarna merah maroon. Dari kejauhan sepasang mata sudah mengawasi Fiona.


"Fiona, untuk apa kamu datang kesini?" Tanya seorang pria.


Pria itu adalah Dirga, orang yang selalu mengejar cinta Fiona sejak di bangku SMA. "Dirga? Kamu ada di sini." Jawab Fiona santai.


"Iya, aku habis ada undangan dari klien. Kamu sendiri?" Fiona mengangguk. "Kalau gitu, gabung di mejaku saja." Ajak Dirga, dan wanita itu menyetujui nya.


Mereka duduk bersama di sofa ujung ruangan itu. Dentuman musik yang begitu keras, membuat hati Fiona sedikit terhibur. Ia menatap Dirga dari atas hingga ke bawah.


"Sekarang sudah berubah lo ya!" Celetuk Fiona.


"Iya dong, masa aku mau culun terus kayak dulu." Balas Dirga. Ya, pria ini dulu nya sangat culun, tapi keluarga nya terkenal sangat kaya raya di Kota Bandung.


Karena dulu Fiona sempat sekolah menengah di Kota Bandung mengikuti Rahayu sang Mama yang membuka butik pertama nya di sana.


"Aku sekarang tinggal di Jakarta. Kamu main dong ke kantor aku. Aku tahu kalau kamu sudah jadi Model terkenal di tanah air. Boleh dong aku bekerja sama dengan kamu Fio." Tawar Dirga, padahal pria itu sengaja ingin mendekati Fiona lagi.


"Cih, memang nya perusahaan tempat kerja kamu di bidang apa?" Tanya Fiona yang masih saja meremehkan Dirga dari dulu.


'Kurang ajar nih cewek, kayak nya dia memang merendahkan gue terus dari dulu. Gue kerjain lo!' Sorak Dirga dalam hati.


"Perusahaan aku sih, bukan orang lain. Ya meskipun belum Go International, tapi sudah masuk kategori nomor 11 di Jakarta." Dengan bangga nya Dirga menyombongkan diri. Begitu banyak perusahaan di Jakarta. Ia tetap sudah bangga masuk dalam kategori perusahaan maju nomor 11.


Lalu pria itu memesan minuman untuk Fiona, ia sengaja menyuruh pelayan memasukan sesuatu ke dalam minuman nya. Tanpa rasa curiga Fiona menenggak habis minuman nya. Kebetulan ia sudah haus dari tadi.


"Ya elah, memang bisa perusahaan lo bayar gue untuk jadi Model di sana, palingan nanti kontrak gue sekali sudah bangkrut!" Cibir Fiona dengan santai nya.


Dirga mengepalkan erat tangan nya, benar-benar tidak ada yang berubah dari dulu. Fiona tetap sombong di hadapan nya.


"Ha ha ha, kamu bisa saja Fiona. Memang nya kamu pasang tarif berapa?" Celetuk Dirga membalas perkataan wanita di hadapan nya.


"Sialan lo!! Yang pasti nya kerja sama dengan gue itu mahal. Sudah lah, gue mau pulang saja. Bosan juga di sini."

__ADS_1


Fiona berdiri dari sofa tapi kehilangan keseimbangan nya. Ia terduduk lagi dan memijit pelipis nya.


"Ssshhh... Kok gue pusing banget ya" Gumam nya.


"Kamu nggak apa-apa Fio?" Tanya Dirga dengan seringai di wajah nya. Kemudian wanita itu pingsan dan Dirga langsung membopong nya.


Masih di dalam ruang kerja Lan, Reyhan mencoba menjelaskan dengan detail pada Lan. Ia tidak ingin menyembunyikan hal yang ia ketahui pada sang Papa.


"Pokok nya Reyhan mau cerai saja dengan Dinan, Pa. Aku sudah tidak kuat dengan tingkah nya. Dengan dia membohongi kita selama ini meminum obat pencegah kehamilan sudah membuat hati aku sakit Pa. Tapi sekarang, dia juga menyakiti orang lain. Yaitu rekan kerja kita sendiri Pa." Ujar Reyhan.


"Dinan sudah benar-benar keterlaluan Pa."


Tentu saja Lan terkejut mendengar penjelasan dari anak nya. Orang yang selama ini ia anggap wanita baik-baik ternyata melakukan hal sekeji itu.


Pria sudah berumur itu menarik napas nya dalam-dalam. Ia harus bisa mengontrol emosi nya juga saat ini.


Karena yang jauh lebih sakit adalah anak nya, yaitu Reyhan.


"Papa tidak menyangka Dinan tega melakukan hal ini semua. Bahkan dia tega mencelakai rekan kerja kita. Tapi apa hubungan Dinan dengan Nania, kenapa dia tega mencelakai nya?" Masih tidak habis pikir kenapa Dinan melakukan itu.


"Iya Pa, Papa benar juga. Ini ada yang aneh. Untuk apa Dinan mencelakai wanita yang menjadi rekan kerja kita, akhir-akhir ini Dinan juga mencurigakan Pa. Reyhan jadi penasaran kenapa dia melakukan itu semua." Jawab Reyhan.


Kedua pria itu merasa ada yang janggal, dan entah kenapa setiap menyebut nama Nania, hati Lan merasa berdesir seperti perasaan yang tidak biasa nya muncul. Seakan tidak terima, tapi dia bukan siapa-siapa.


"Iya Pa, Reyhan sudah yakin dengan keputusan ini. Reyhan akan segera mengurus gugat cerai Dinan ke pengadilan."


Lan mengangguk-angguk. Ia tidak mau bicara lagi, belum lagi kejadian siang tadi membuat Lan sudah menunda banyak pekerjaan.


Reyhan keluar dari ruangan kerja sang Papa. Ternyata Dinan masih menunggu nya di ruang keluarga. Pria itu membuang wajah nya, tidak ingin melihat Dinan.


"Reyhan,,, Reyhan.. Kamu mau kemana?"


"Reyhan, tolong maafin aku sayang.. Aku memang salah, aku akan memperbaiki kesalahan aku. Aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi." Dinan terus mengekor di belakang Reyhan dan memohon.


Tapi pria itu sama sekali tidak merespon nya, dan masuk ke dalam mobil nya yang berada di teras rumah.


"Aku akan tetap menceraikan kamu Dinan, sekali berbohong akan terus berbohong! Aku sudah tidak percaya lagi dengan kata-katamu. Aku juga tidak tahu masih berapa banyak lagi kebohongan kamu yang belum terungkap, tapi cukup di sini. Aku tidak mau mendengar yang lain nya!"


Itulah kalimat terakhir yang di ucapkan Reyhan, pria itu meninggalkan Dinan. Entah kenapa ia merasa masih banyak yang di tutupi Dinan, betapa bodoh nya dia selama ini di bohongi oleh sang istri.


"Reyhan...." Teriak Dinan.

__ADS_1


Mobil Reyhan bahkan sudah tidak terlihat, penampilan Dinan benar-benar kacau.


"Ini semua karena Nania!!!! Aku benci wanita itu !!! Dia dari dulu selalu merebut kebahagiaanku, Aaaargghhhh!!!" Dinan begitu histeris di depan kediaman Lan.


"Awas saja kamu Nania!! Aku tidak akan buat hidup kamu tenang!"


Rasa benci nya semakin menjadi, darah yang mengalir di Dinan sudah berubah menjadi penuh dendam.


Sudah satu minggu berlalu, belum ada tanda-tanda Nania sadar dari koma nya. Riyan masih melakukan tugas nya dengan baik di kantor bersama Delisha.


Devan dan Reyhan tinggal bersama di apartemen, karena Reyhan masih tidak ingin bertemu dengan Dinan sampai perceraian nya selesai. Wanita itu akan pergi dari rumah nya, baru Reyhan akan kembali. Lan juga sibuk mengurus beberapa anak perusahaan nya.


Yanti masih terus mengawasi Wati di rumah sakit. Karena wanita itu masih di rawat, dan belum di izinkan keluar dari rumah sakit. Wati bahkan belum tahu siapa yang sudah menolong nya dan membiayai pengobatan nya.


Radit tidak pernah meninggalkan Nania sendirian, ia tetap memantau pekerjaan nya dari laptop yang ia bawa.


Pria ini sedang melakukan meeting online dengan panggilan video bersama grup rekan kerja nya.


"Okay, kalau gitu produk baru nya kita undur lagi selama satu bulan. Saya akan memberi tahu perkembangan selanjut nya akan seperti apa. Semoga saja produk baru ini tetap bisa kita kerjakan sampai launching." Tutur nya dengan menatap layar laptop nya.


Radit duduk di sofa dengan pemandangan Nania di depan nya yang masih terbaring.


"Baik Pak, tapi saya yakin kalau produk baru kita akan di sukai banyak orang jika sudah meluncur." Ujar salah satu rekan nya.


"Hm, semoga saja. Saya juga sangat yakin seperti itu. Okay, sampai di sini dulu, thank you." Radit memutus layar panggilan itu. Ia menutup laptop nya dan mendekati Nania.


"Nana sayaang,,, aku habis bekerja. Aku akan tetap melanjutkan project baru kita, meskipun harus tertunda dulu selama satu bulan. Karena aku ingin melanjutkan nya nanti bersamamu Nana." Radit menceritakan semua kegiatan nya selama di rumah sakit.


Gadis itu seakan merespon, ia sering mengeluarkan air mata, tapi ketika Dokter periksa keadaan nya masih sama saja.


"Nana.. Cepatlah bangun sayang, kamu tidak kangen dengan wajah tampan kekasihmu ini, hmm?" Ia menuntun tangan Nania untuk menyentuh pipi nya. Agar Nania merasakan wajah Radit yang selalu setia menunggu nya.


Kemudian detik itu, jari manis Nania bergerak. Radit melihat nya dan merasa ada respon dari Nania. Ia mencoba bicara lagi.


"Sayang,,, kamu bisa mendengar aku?"


Tapi jemari Nania tetap diam saja, Radit masih terus berusaha. "Nana sayang, kalau kamu mendengar aku, kamu angkat jari kamu ya. Ayo sayang.." Ucap Radit penuh harap.


Benar saja, gadis itu menggerakkan lagi jari manis nya.


"Nana... Sa-sayang kamu..." Ia tidak mampu berkata-kata lagi.

__ADS_1


Radit langsung menekan tombol di ujung ranjang Nania. Ia ingin Dokter cepat datang dan memeriksa nya.


__ADS_2