Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Serangkaian Skincare


__ADS_3

Di dalam ruangan Riyan tengah sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk karena kemarin sempat tertunda.


Tak lama masuklah seorang wanita yang sebelumnya sudah mengetuk dulu pintu ruangan Riyan.


"Maaf Pak, ini berkas dari resepsionis. Ada yang meminta bekerja sama dengan Perusahaan Diamond Glow Cosmetics."


Riyan menerima berkas itu sambil mengerutkan keningnya.


"Dari Resepsionis? Jadi orang itu datang membawa berkas ini tanpa menghubungi dulu pihak dari kita, dan hanya menitip saja penawaran kerja samanya?"


"Iya betul Pak."


"Ha ha ha.."


Riyan tertawa lepas, ia merasa di kerjai hari ini. Tugasnya sudah menumpuk, dan bisa-bisanya ada orang yang menawarkan kerja sama dengan Perushaaan Radit tanpa melalui proses dari tim yang sudah di sediakan di Perusahaan Diamond Glow Cosmetics.


"Buang saja!" Cetus Riyan dengan nada datarnya.


Ia selalu ingat jika Radit akan menolak mentah-mentah Perusahaan yang meminta kerja sama dengan cara memaksa apa lagi tidak melewati Divisi Regional yang tugasnya memang mengelola aset Perusahaan dan menyepakati target kerja bersama dengan direksi.


"Tapi pak, Perusahaan ini berpesan akan menawarkan kerja sama yang membuahkan hasil fantastis." Tutur wanita itu.


Asisten Radit itu menyunggingkan senyum smirk nya. Ia terkekeh kecil, lalu menyuruh wanita itu untuk segera keluar dari ruangannya.


"Rasanya aku akan gila sekarang juga!" Riyan mengusap wajahnya dengan kasar.


Ia membaca map yang dia terima tadi, "Rainbow Corp." Lalu Riyan menaruh map itu di meja satunya yang ada di samping.


Bau masakan mulai memasuki indra penciuman Radit, pria yang asik memainkan ponsel itu merasa terusik. "Sebenarnya apa yang dia masak? Kenapa harumnya sampai ke sini?"


Tak lama Nania datang memanggil Radit yang berada di ruang tengah, tak jauh dari jarak kitchen room di apartemen itu.


"Tuan, makan siangnya sudah siap. Mari makan siang dulu."


"Hm.."


Lalu mereka duduk di kursi makan dalam ruang makan yang di lengkapi cahaya lampu dari atas meja makan.


"Ini semua kamu yang masak?" Nania pun mengangguk.


Di atas meja sudah ada cumi goreng tepung, tumis cap tjay, ayam lada hitam, dan juga ada hidangan manis seperti pisang mentega di tabur keju dan susu kental manis di atasnya.


"Ayo Tuan di makan. Saya memasak dengan bahan yang ada di kulkas."


Radit mulai menyendok nasi dan juga lauk pauk, sebelumnya Nania ingin mengambilkan untuknya. Tapi Radit mencegah dari tatapan isyaratnya.


Ia memasukan sesendok nasi beserta lauk ke dalam mulutnya, pelan-pelan Radit mengunyah. Ia merasa masakan Nania sangatlah enak. Namun ia belum mau mengatakan apa-apa.


Sedangkan Nania berkekspresi seolah ingin dapat jawaban dari Tuannya yang menikmati hidangan buatannya.

__ADS_1


"Bagaimana Tuan?" Tanya Nania, tapi Radit tidak menjawabnya.


Sampai makanan yang ada di piring Radit habis, pria itu belum menilai juga masakan Nania. "Kalau yang ini apa?" Tanya Radit menunjuk hidangan manis dari olahan pisang.


"Ah, kalau yang itu pisang mentega keju manis, Tuan."


Tanpa basa-basi, Radit langsung mengambil hidangan itu dan kembali menyantapnya. Nania mengulas senyum melihat tingkah Radit sedari tadi.


"Ah, akhirnya.." Radit merasa perutnya penuh terisi, sambil menenggak air mineral dalam gelasnya.


"Tuan sudah selesai?"


"Hm,, aku mau ke ruang kerja dulu."


Radit meninggalkan meja makan begitu saja, Nania membereskan sisa bekas makan mereka berdua. Di dalam ruang kerja, Radit merasa kekenyangan sekali. Ia duduk bersandar di kursi kerjanya yang terbuat dari kulit asli.


"Aarghh.. Rasanya perutku ingin meledak."


Pria itu memegangi perutnya, ia belum pernah makan sebanyak ini hingga kekenyangan. Makan siang yang terlalu berlebihan baginya membuat rasa begah melanda perutnya.


Radit tidak ingin Nania melihatnya jika sedang kekenyangan, makanya Radit memutuskan untuk ke ruang kerja saja. Sangat memalukan jika Nania melihat tingkahnya yang sekarang. Bersandar sambil memegangi perutnya tanpa tenaga, bak harimau yang habis memangsa buruannya.


Di dalam kamar, Nania duduk di tepi tempat tidur. Ia termenung mengingat kejadian yang habis menimpanya.


"Ibu.. Kenapa Ibu tega sekali menjualku pada orang itu" Gumamnya menitikan air mata.


"Apa artinya aku untuk Ibu.. Kenapa Ibu melakukan itu. Hiks... Ayah.." Tangisnya pecah di kamar. Nania sudah tidak bisa menahan luka di hatinya lagi.


Setelah meeting itu selesai, pria tampan itu lebih dulu keluar dari ruang rapat untuk kembali ke ruangannya. Tidak lupa dengan sosok wanita yang selalu setia di sampingnya. Siapa lagi wanita itu kalau bukan, Nania.


"Tuan, nanti pukul 12.30 anda ada jamuan makan siang bersama dengan Mr.Zafran di Restoran Jepang Xx." Ujar Nania sambil mengejar langkah Radit.


"Hm, okay."


Sebelum masuk ke ruangannya, Radit menoleh ke arah Sekertarisnya itu. "Nania, ikut aku!" Titahnya.


Gadis itu pun masuk ke dalam ruangan Radit, ia berdiri di depan meja kerja Radit. "Ini, untukmu." Pria itu mengeluarkan satu paperbag berwarna putih.


"Apa ini Tuan?"


"Buka saja."


Nania membuka paperbag itu, menampilkan isi di dalamnya. Sebuah satu set skincare dari brand Perusahaannya sendiri. Ya, Nania di berikan satu paket skincare dari Diamond Glow Cosmetics.


"Ini bukannya produk keluaran terbaru dari Diamond Glow, Tuan?"


"Hm, kamu benar sekali." Ia bersandar di kursi kebesarannya.


"I-ini untuk saya? Tapi ini mahal sekali Tuan."

__ADS_1


Harga serangkaian skincare yang terbaru dari Diamond Glow berkisar Tiga Juta Lima Ratus Ribu Rupiah. Itu adalah harga yang fantastis bagi Nania bila untuk skincare saja.


"Itu untukmu, kamu harus mencobanya. Biar kamu juga merasakan sendiri hasil dari produk Diamond Glow." Jelas Radit lalu berdiri dari kursinya.


Ia mendekat ke arah Nania, lalu memegangi kedua bahu gadis itu. "Aku tidak mau mempunyai Sekertaris, yang tidak cantik. Karena itu sebagian dari imets Perusahaan. Sebab itu kamu harus memakainya." Bisiknya tepat di telinga Nania.


Membuat gadis itu bergidik mendengar kalimat Radit, yang spontan terdengar mengkritik Nania. "Baik Tuan. Terima kasih untuk semua ini."


Nania menegaskan kalimat terima kasihnya pada Tuannya. Pria itu menyeringai lalu keluar dari ruangannya.


'Apa maksudnya? Maksud dia, aku ini jelek begitu? Ini sama saja dia mengataiku. Dasar pria aneh!'


Ia mengumpat Tuannya dalam hati. Lalu keluar dari ruangan Radit dengan membawa paperbag itu. Padahal Radit memang sengaja ingin memberikan itu pada Nania, tapi ia tidak mau terlihat perhatian. Makanya ia berbicara seperti tadi.


Sore hari setelah bekerja seharian, Nania pulang menggunakan ojek online yang sudah ia pesan. Ia pergi ke suatu tempat, dimana hatinya bisa merasa tenang.


"Terima kasih bang, ini uangnya."


"Kembaliannya neng."


"Sudah tidak usah bang, ambil saja kembaliannya."


"Wah terima kasih neng."


Setelah turun dari motor, Nania berjalan menuju danau yang tidak terlalu ramai. Danau yang di kelilingi dengan pepohonan yang hijau, juga ada beberapa orang disana yang sedang menikmati pemandangan sore hari.


Ia duduk di bangku yang ada di tepi danau itu, Nania menghela nafasnya. Ia menatap ke air yang ada di danau. Matanya mulai berkaca-kaca, tanpa permisi air mata itu jatuh dari pelupuk matanya.


"Tuhan.... Peluklah aku sejenak. Aku sedang lelah.." Ucapnya lemah.


Ia merindukan Ayahnya, ia merindukan masa kecilnya bersama sang Ayah. Ayah yang selalu menyayangi dirinya hingga akhir hayat. Sosok pria yang selalu melindunginya, bahkan selalu ada di sampingnya. Kini hanya kenangan yang membekas, tidak bisa di ulang kembali.


"Ayah... Hiks.." Ucapnya lirih.


Hidup seorang diri, mempunyai Ibu yang tidak pernah ada bersamanya, memiliki seorang Kakak yang juga pergi meninggalkannya. Percintaanya yang gagal, bahkan hidupnya yang selalu di terjang cobaan bertubi-tubi. Tidak mudah melewati semua itu bagi Nania. Ia lelah dengan keadaan, rasanya ia ingin berteriak, namun tidak bisa. Hanya tangis yang dapat ia keluarkan.


"Menangislah... Jika itu membuatmu lebih tenang."


Suara pria yang membuat Nania menghapus air matanya dan menengok ke arah suara itu.


"Kamu siapa?"


"Kenalin, aku Devano." Pria itu mengulurkan tangannya.


Tapi Nania tidak membalas uluran tangannya. Ia merasa resah jika berkenalan dengan seorang pria di luar, dan di tempat asing baginya.


"Aku bukan orang jahat kok." Kekehnya merasa penasaran dengan Nania.


Pria berkulit mancung, berbadan tinggi, berkulit putih, rahang yang keras, dan pakaian yang rapi bukan terlihat dari kalangan biasa.

__ADS_1


Devano duduk begitu saja di sampingnya. Ia menatap danau yang sama di tatap Nania. "Kenapa nangis? Tenang.. Beban kamu sudah berkurang 20% sejak tadi kamu menangis."


Gadis itu hanya mendengar pembicaraan pria di sampingnya.


__ADS_2