Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Ujian Dalam Hubungan


__ADS_3

Dokter telah memeriksa Nania yang sudah bangun dari koma nya. Dokter melayangkan beberapa pertanyaan. Mengenai kepala nya yang masih terasa sakit atau tidak, lalu bagian tubuh mana yang terasa sakit, semua Nania menjawab kalau diri nya baik-baik saja.


Tapi Nania tidak mengingat kalau Radit adalah kekasih nya. Yang ia tahu hanya, Radit adalah atasan nya yang selalu menghina Nania.


"Dokter, bagaimana? Kenapa Nania tidak mengingat kalau saya adalah kekasih nya?" Radit merasa cemas. Ia begitu takut kehilangan Nania.


"Sabar Tuan, saya akan memeriksa lagi kondisi Nona Nania. Karena pasien baru saja sadar dari koma nya. Mungkin pasien masih mengalami traumatis dan melupakan beberapa ingatan nya." Jelas Dokter.


Pria itu mendadak gelisah, ia harus memikirkan cara bagaimana Nania akan mengingat lagi momen kebersamaan nya.


"Baiklah Dokter, terima kasih."


"Sama-sama Tuan, saya pergi dulu." Dokter pun pamit bersama asisten di belakang nya. Radit kembali masuk ke kamar inap Nania.


"Nana.. Apa kamu perlu sesuatu?"


Ia melihat Nania duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Sambil melamunkan sesuatu.


Hati nya merasa senang sekali, Nania sudah bisa sadar kembali. Puji Tuhan, Radit bersyukur dengan sangat.


"Nana?" Nania merasa bingung.


"Ah, maksudku Nania. Apa kamu perlu sesuatu?" Radit tidak ingin memaksa kekasih nya untuk mengingat semua momen itu sekarang.


"Tidak Tuan, tapi kenapa saya ada di sini? Memang nya saya kenapa?" Ia masih menerka-nerka. Radit menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. Bagaimana cara ia menjelaskan semua nya, kalau Nania saja tidak mengingat sebagian memori nya.


"Cerita nya panjang. Nanti aku akan jelaskan, bagaimana kalau kamu makan saja? Nania, kamu baru saja bangun dari koma." Radit tidak mau menutupi kebenaran nya, ia rasa Nania harus tahu.


"Apa? Saya koma Tuan? Separah itu kah keadaan saya hingga koma di rumah sakit?" Radit cuma mengangguk pelan.


"Iya, kamu sudah koma selama 10 hari Nania. Kamu habis kecelakaan, maka nya kamu bisa ada di sini."


"Aaakhh.. Sshhh," Nania mencoba ingat kejadian apa yang Radit katakan, namun dia malah merasakan sakit di bagian kepala nya.


"Nana, sudah jangan di paksa. Jika kamu tidak mengingat kejadian sebelum nya, jangan berusaha untuk mengingat nya. Lebih baik kamu istirahat dulu." Jawab Radit, pria itu sangat pengertian.


Membuat Nania jadi canggung, dan sudah dua kali ia mendengar Radit menyebut nya dengan panggilan, Nana.


"I-iya Tuan, terima kasih karena Tuan sudah mau merawat saya di sini."


"Tentu saja aku merawat kekasihku sendiri." Guman nya pelan.


"Ya Tuan?"


"Ah, tidak. Maksudku kamu itu kan sekertaris aku. Jadi sudah sepantas nya aku membawa kamu kesini." Nania mulai mengerti.


Nania ingin meraih gelas yang ada di atas nakas, tangan Radit lebih dulu menyambar gelas itu dan memberikan nya ke Nania.

__ADS_1


"Terima kasih Tuan."


Gadis itu menenggak habis air yang ada di gelas, mungkin terasadar dari koma. Ia merasa dahaga yang luar biasa.


"Apa kamu perlu sesuatu lagi?"


"Tuan, saya ingin ke toilet. Apa ada suster yang akan membantu saya? Seperti nya kaki kanan saya sulit di gerakan."


"Ah, iya itu... Kaki kanan kamu masih masa penyembuhan. Jadi biar aku saja yang bantu kamu untuk ke toilet."


"Em, itu Tuan. Tidak usah, saya tidak mau merepotkan Tuan." Nania mendadak canggung. Entah kenapa gadis itu semakin membuat Radit merasa gemas.


"Suster lagi sibuk, butuh waktu lama untuk mereka jalan kesini. Lebih baik aku saja yang membantumu, dari pada kamu menunggu. Hanya ada aku juga di sini, tidak ada orang lain."


"Tapi Tuan__"


Radit sudah berdiri dan memapah Nania ala bridal style. "Aaaaakk.." Gadis itu berteriak kala Radit menggendong nya tanpa izin.


"Apa ada yang sakit?"


"T-tidak Tuan,, saya hanya kaget saja." Wajah Nania berubah merona. Bagaimana bisa ia di bantu ke toilet dengan atasan nya sendiri. Yang kenyataan nya adalah calon suami.


"Kamu bisa pegang infusan nya? Nanti di toilet sudah ada penyangga kantong infusan nya."


"Iya bisa Tuan."


Hampir setengah jam Nania berada di dalam kamar mandi. Tidak ada sahutan dari dalam, membuat Radit merasa khawatir.


"Nana.."


"Em, Nania kamu sudah selesai atau belum?" Ulang Radit memanggil nya.


"Iya sudah Tuan, baru saja selesai."


"Baiklah, aku masuk ya."


Pria itu kembali menggendong Nania dan mengembalikan nya ke tempat tidur. Dengan telaten Radit membenarkan posisi dan kantong infusan Nania.


"Hmm,, itu- terima kasih Tuan."


"Sama-sama. Jika perlu sesuatu lagi, katakan saja padaku." Balas Radit, pria itu duduk di samping Nania.


"Tuan, kenapa menjaga saya di sini, apa Tuan tidak sibuk di kantor?" Nania mulai menanyakan nya, "Ah, iya Tuan. Saya minta maaf karena keadaan saya begini, saya jadi tidak bisa bekerja."


"Tidak masalah, aku memang sengaja menunggumu di sini."


"Sengaja?" Nania masih heran.

__ADS_1


Pria itu menganggukkan kepala nya, "Iya, soal pekerjaan kamu tidak perlu banyak memikirkan nya sekarang. Jika kamu sudah sembuh, kamu bisa kembali bekerja lagi." Jelas Radit panjang lebar.


Nania mendekat ke arah Radit, membuat pria itu sedikit mengernyitkan kening nya. Mungkinkah Nania sudah mengingat nya, atau hanya ingin menggoda nya seperti dulu. Hati nya sudah merasa senang duluan.


"Tuan, apa ini rumah sakit mahal? Kenapa kamar nya sangat bagus sekali, Dokter di sini juga seperti orang korea." Bisik nya pelan.


'Haduh Nania, aku kira kamu bakal menggodaku seperti dulu. Aku sudah senang duluan, kalau kamu menggodaku, aku tidak akan memberi ampun.'


"Kita memang berada di Korea Selatan sekarang."


Manik mata Nania membelalak. "Apa Tuan? Di Korea?" Ia kaget bukan main. Radit hanya mengangguk lagi.


Pasal nya Radit tadi berbicara bahasa inggris dengan Dokter nya, jadi Nania pikir Dokter itu memang datang dari Korea dan bekerja di rumah sakit Indonesia. Namun siapa sangka, ternyata memang Nania berada di Korea bersama Radit.


Ia menutup mulut nya dengan satu tangan. Nania masih tidak percaya, ingin sekali Radit memeluk kekasih nya saat ini juga.


"Kenapa Tuan membawaku sampai ke Korea?" Tanya Nania pelan.


"Karena aku ingin kamu sembuh, dan mendapatkan perawatan terbaik agar bangun dari koma." Mata Radit menatap kekasih nya dengan penuh cinta.


Nania yang di tatap sedikit merasakan gelenyar aneh, lalu ia mengedipkan mata nya dan membuang wajah ke sembarang arah. Nania jadi gugup di waktu seperti ini.


"Hmm, T-tuan baik sekali. Bagaimana saya bisa membayar semua ini, sedangkan saya saja masih punya hutang dengan Tuan."


'Ya ampun sayang, hutang kamu sudah aku anggap lunas. Kamu itu calon istriku Nana...' Sorak Radit dalam hati nya.


Terlintas ide dalam benak Radit. Ini kesempatan untuk nya bisa menggoda Nania seperti dulu. "Ya, kamu kan bisa mencicil nya seperti biasa." Jawab Radit santai. Tapi manik mata nya menatap Nania dengan tatapan yang berbeda.


'Jangan bilang Tuan Radit masih akan menagih nya di saat seperti ini.' Batin Nania.


"I-itu.. Saya akan mencicil nya dengan gaji saya Tuan."


"Bukan itu, tapi ini.."


Radit bangun dari kursi nya dan menarik tengkuk Nania, lalu pria itu mencium kekasih nya. Sudah lama ia merindukan momen ini, yang sudah menjadi candu dalam diri nya.


Nania gelagapan, mendapat perlakuan Radit yang memagut nya dengan lembut dan penuh perasaan. Hati Nania merasa berdebar, ada perasaan aneh yang seakan ia masih tidak mengerti. Tapi ia menikmati sentuhan bibir Radit. Nania seolah terhipnotis hingga memejamkan mata. Radit terus melahap nya dengan lembut.


'Untung saja tadi aku di kamar mandi sudah gosok gigi dengan alat lengkap yang sudah ada di sana. Kalau tidak, aku tak bisa membayangkan betapa rasa nya tidak gosok gigi selama 10 hari lalu di cium oleh nya, tapi tunggu... Kenapa aku menikmati ini semua, ah tidak..' Seru Nania dalam hati, berperang dalam pikiran nya sendiri.


Radit melepaskan pagutan nya, ia tersenyum dan menghapus bekas jejak nya menggunakan ibu jari di bibir Nania.


"Aku merasa kamu harus mencicil nya dari sekarang. Bukan begitu?"


Bukan menjawab Nania malah menunduk, ia merasa malu dan tidak tahu harus menjawab apa.


'Ya ampun sayang, kamu gemas banget sih. Aku jadi kangen masa kita dulu. Semoga kamu bisa cepat mengingat aku, kalau aku adalah kekasih kamu. Aku akan biarkan seperti ini dulu. Anggap saja ini ujian dalam hubungan kita. Yang aku syukuri pada Tuhan, kamu masih tetap mengingatku.. Meskipun tidak semua.' Batin Radit menangis.

__ADS_1


__ADS_2