Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Memori Lama


__ADS_3

Nania tidak tahu harus menjawab nya apa, jni terlalu mendadak untuk nya. Ia benar-benar bingung sampai tidak bisa bicara.


"Nania.."


"I-iya Tuan.."


"Kenapa diam saja?"


Gadis itu menunduk, "Saya tidak tahu harus menjawab apa, Tuan. Sa-saya.. Ini tidak mungkin. Tuan sudah salah memilih orang. Maaf saya permisi dulu."


Setelah jujur mungkin Radit bisa mengetahui isi hati Nania, tapi malah gadis itu pergi saat sudah mendengar pernyataan dari nya.


Saat ingin menaiki tangga, Nania tidak begitu fokus. Kaki nya tersandung dan tergelincir di anak tangga ke tiga.


"Aakkh.."


Radit yang mendengar teriakan Nania langsung menghampiri nya.


"Nania!!"


"Kamu nggak apa-apa kan?" Ia panik langsung membantu Nania duduk, karena gadis itu sudah terkulai di lantai.


"Awhh... Sakit sekali." Nania meringis merasakan sakit di kaki nya.


"Biar aku bantu kamu ke kamar."


Pria itu menggendong Nania ala Brydal Style, ia membaringkan tubuh Nania di atas ranjang. "Biar aku panggilkan Dokter ya?" Ucap nya.


"Tidak usah Tuan!" Cegah nya, Nania merasa kaki nya hanya terkilir. "Nania, kamu baru saja terpeleset di tangga." Radit begitu cemas.


"Iya Tuan, tapi saya nggak apa-apa. Hanya cidera sedikit saja."


Pria itu mengusap wajah nya kasar. "Ya sudah, aku ambilkan air hangat untuk mengompres kaki kamu. Tunggu di sini dan jangan kemana-mana." Tukas nya lalu berlari keluar kamar.


"Ternyata dia bisa sepanik itu padaku?" Gumam Nania sambil memegangi kaki nya yang terasa ngilu.


"A-aa.. Sakit sekali, kenapa juga aku bisa terpeleset di tangga, ini pasti karena pikiranku yang tidak beres. Kalau sudah begini menyusahkan orang lain saja." Ucap nya sendiri.

__ADS_1


Radit kembali membawa wadah berisi air dan handuk. Ia memeras handuk itu dan menempelkan nya di kaki Nania.


"Kaki kamu terkilir, harus segera di perbaiki." Ucap nya begitu perhatian.


"Percayalah Tuan, besok juga sudah mendingan." Jawab nya merasa yakin kalau tubuh nya baik-baik saja, kaki nya hanya terkilir biasa. Mungkin hati nya yang sedang tidak baik.


Pria itu menghentikan kegiatan mengompres nya, ia menatap Nania yang bersandar di ranjang.


"Kamu menyuruhku untuk percaya, tapi kamu pergi setelah aku mengatakan nya. Jadi di sini siapa yang lebih tidak percaya?" Ujar nya dengan penuh tanya.


Mata nya tak henti menatap Nania, gadis itu jadi merasa canggung. "Em.. Tuan, ini sudah malam. Lebih baik anda istirahat juga. Biar saya kompres sendiri saja." Ia merebut handuk kecil di tangan Radit.


"Mengalihkan pembicaraan! Apa kamu memang pandai mengalihkan ucapan?" Kali ini Radit nampak kesal.


Nania diam saja, ia tidak menjawab ucapan pria itu, lalu Radit berdiri. Ia meninggalkan Nania sendiri di kamar.


"Aku tidak akan membahas ini lagi, istirahatlah." Ucap nya sebelum pergi.


Gadis itu bernapas lega ketika Radit sudah keluar dari kamar nya. Ia merasa sedih dan tak mampu membalas perasaan yang bagi nya hanya sebuah angan-angan saja.


Keesokan hari nya Radit dan Nania memutuskan pulang ke Jakarta. Karena tugas nya di Kota B sudah selesai. Semua hasil penelitian dan perencanaan sudah siap, tinggal mereka bahas lagi saat meeting di kantor.


Seorang pria yang sudah lebih dari paruh baya sedang berada di Negara Amerika. Ia memandangi wajah cantik di balik bingkai foto.


"Sayang, kenapa kamu harus pergi membawa anak terkahir kita? Seandainya kamu dan bayi perempuan kita selamat. Aku akan merasa jadi pria yang beruntung di dunia ini."


Tuan Lan meneteskan air mata nya, semenjak kepergian mendiang istri nya. Ia selalu setia hidup sendiri. Bagi Tuan Lan mendiang istri nya adalah cinta terakhir sampai akhir hayat nya. Ia tidak pernah berpaling dari sosok wanita yang pernah menemani hidup nya.


Pada saat istri nya tengah mengandung 8 bulan, wanita bernama Rahayu itu pergi menggunakan taksi ke sebuah mal tanpa di ketahui Tuan Lan. Rahayu berniat membelikan kado untuk suami nya, ia tidak ingin Tuan Lan tahu jika dia pergi dari rumah sendiri tanpa supir.


Karena pada hari itu, supir di rumah nya tengah menjemput anak-anak nya pulang sekolah, yaitu Reyhan dan Devan. Jika anak yang di kandung Rahayu masih selamat, mungkin usia nya sekarang berumur 24 tahun. Berbeda dengan usia Devan yang 29 tahun, dan Reyhan yang berusia 31 tahun.


Naas ketika Rahayu sedang berjalan, sebuah motor yang ugal-ugalan menyerempet diri nya hingga terpental di pinggir jalan.


Darah sudah melumuri sebagian tubuh Rahayu, ia di larikan ke rumah sakit untuk di tangani Dokter. Tuan Lan yang mendengar kabar itu sangat panik.


"Dokter, bagaimana istri saya, Dok?"

__ADS_1


"Maaf Tuan, istri anda harus segera di operasi. Karena bayi yang ada dalam kandungan nya sangat membahayakan nyawa pasien. Tolong tanda tangani surat persetujuan operasi terlebih dahulu."


"Cepat lakukan yang terbaik Dokter, saya tidak ingin istri dan anak saya dalam bahaya." Jawab Lan kala ia masih muda.


Dokter turut bersedih atas kecelakaan yang menimpa pasien. "Maaf Tuan, tapi operasi ini akan beresiko. Kami hanya bisa menolong salah satu dari mereka."


"Tolong selamatkan istri saya, Dokter." Jawab Lan sudah putus asa.


"Baik Tuan, mohon anda doakan agar operasi ini berjalan dengan lancar."


Ruang operasi tengah berjalan, Lan menunggu di depan ruangan itu, ia sudah terlihat kacau. Saat lampu darurat operasi tengah redup, Dokter keluar bersama tim medis lain nya.


Suasana saat itu begitu dingin. Lan merasakan sesuatu yang hilang, hati nya tidak tenang.


"Dokter, bagaimana operasi nya?"


Dokter itu menampakan kesedihan nya. "Tuan Lan, mohon maaf. Kami sudah berusaha untuk menyelamatkan nyawa pasien atau bayi nya. Tapi Tuhan berkehendak lain. Kedua nya tidak dapat kami selamatkan."


Baik Dokter maupun tim medis lain nya yang mengoperasi Rahayu, membungkuk dan meminta maaf pada Lan.


Detik itu juga Lan serasa di tembak mati, jantung nya terasa lemah. Nafas nya terasa sesak.


"Tidaaakkkk!!!!"


Saat suster yang mengurus jasad Rahayu dan bayi nya, ia terkejut melihat bayi yang masih tergeletak di atas brankar rumah sakit menangis.


"Ya Tuhan... Bayi nya masih hidup."


Tapi entah bagaimana cerita yang tidak di ketahui Lan, ia hanya mengerti jika istri dan bayi nya sudah meninggal.


Suara dering ponsel Tuan Lan membuyarkan memori lama yang barusan ia ingat.


"Halo, Kevin." Ucap nya di telepon.


"Ya, saya ke sana sekarang."


Tuan Lan menghapus air mata nya, meletakan kembali foto mendiang istri nya, lalu pergi meninggalkan ruang kerja nya.

__ADS_1


__ADS_2