Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Tiba-tiba Terus


__ADS_3

Pagi ini Nania menjalani kembali pemeriksaan dengan Dokter. Ia bahkan sudah di perbolehkan pulang lusa nanti.


Dokter sudah memastikan bahwa keadaan Nania baik-baik saja. Hanya lupa ingatan ringan, dan masih bisa kembali normal lagi dengan berjalan nya waktu.


Radit senang jika wanita nya bisa pulang lusa besok, dia pun menelpon orang rumah dan juga asisten nya. Mengabari Nania kalau sudah siuman, dan meminta Riyan dan Delisha mengerti keadaan nya yang sekarang. Pria itu berpesan agar Delisha dan Riyan tidak mengatakan dulu bahwa Radit sudah pernah melamar Nania.


"Mas, kenapa aku kita tidak boleh mengatakan nya jika Kak Radit sudah pernah melamar Nania?" Tanya Delisha yang seruangan dengan Riyan di kantor.


"Biarkan saja, mungkin dia punya cara nya sendiri untuk Nania bisa kembali mengingat nya." Jawab Riyan dengan santai.


"Tapi kalau Nania tanya sesuatu sama aku, aku harus menjawab apa Mas?" Delisha masih bingung jika sahabat nya nanti bertanya-tanya hal yang memang seharus nya tidak ia katakan.


"Ya nanti kamu tinggal jawab saja tidak tahu Baby, jika yang di tanyakan tentang hubungan mereka, atau menyangkut dengan Tuan Radit." Riyan menjelaskan nya sambil berkutat dengan pekerjaan nya.


Gadis itu mengangguk paham, mereka pun melanjutkan pekerjaan nya lagi. "Baiklah, semoga saja aku tidak keceplosan, lagian Kak Radit aneh-aneh saja."


Nania masih di kamar rawat inap nya, ia tengah memakan buah jeruk yang di temani Radit. "Tuan, boleh saya tanya sesuatu?"


"Apa itu?" Jawab pria tampan bernama Radit.


"Kenapa Tuan ikut dengan saya sampai ke Korea? Bukankah tugas Tuan di kantor sangat banyak. Saya sangat merepotkan sekali jika seperti ini."


"Benarkah?"


Radit sengaja mencuri kesempatan. "Bagus kalau kamu merasa telah merepotkanku, kamu harus bekerja lebih giat lagi setelah ini." Jawab nya sambil ikut memakan jeruk.


"Baiklah, Tuan mau buah apel nya?"


Pria itu melirik Nania dan menatap nya sangat berbeda, terkadang itu membuat Nania merasa jadi aneh, dan malu.


'Kenapa dia selalu menatapku dengan dalam. Aku kan hanya sekertaris nya. Jangan membuatku jadi salah tingkah Tuan.' Batin Nania.

__ADS_1


"I-itu, buah apel nya jika tidak mau, saya saja yang memakan nya."


Ia langsung menyambar buah apel nya agar terhindar dari tatapan dalam yang di berikan Radit. Gadis itu semakin salah tingkah saja, ketika tangan Radit menyambar buah apel dan mengupaskan nya dengan pisau.


"Biar saya saja Tuan."


"Tidak perlu, biar aku saja. Kalau hanya mengupas apel aku masih bisa." Balas Radit sambil fokus mengupas apel nya.


Nania mengulum senyum kecil di wajah nya. "Tuan, bagaimana dengan project parfum baru nya?"


"Kamu ingat soal project baru itu?" Nania pun mengangguk. "Tentu saja saya ingat, kita sudah susah payah membuat dan meracik nya sendiri."


Pria itu menyelidik Nania dengan tatapan intens nya. "Kalau kamu ingat, apa kamu ingat saat di Vila telah terjadi sesuatu?" Tanya nya ingin mengetes.


Nania berusaha berpikir. "Memang nya telah terjadi apa?" Tak lama gadis itu menutup mulut nya dengan tangan.


"Saya ingat."


"Apa, katakan!" Pria itu bersemangat.


Tentu saja itu membuat Radit membuang napas nya dengan kasar, dan mengupas apel nya jadi sedikit kesal. Hingga tak sadar tangan nya terluka karena teriris pisau buah. Radit kira Nania akan mengingat jika di Vila ia pernah mengatakan perasaan nya.


"Aakk... Sssshh " Keluh Radit.


Ketika sadar jari telunjuk nya terluka dan mengeluarkan darah segar. "Ya Tuhan..." Nania langsung menyambar dan mengulum jari telunjuk pria itu ke dalam mulut nya.


Hati Radit menghangat mendapat perlakuan seperti ini dari Nania. "Sudah hentikan, ini tidak baik untukmu jika menghentikan nya dengan cara seperti ini." Radit menarik tangan nya.


"Itu biar darah nya berhenti Tuan, tidak apa. Biasa nya orang jaman dulu juga seperti itu. Akan menghisap darah nya." Nania menarik kembali tangan Radit.


"Sudah biar saya bantu, berikan tangan nya."

__ADS_1


Nania mengambil kotak tisu yang ada di dekat nakas, dan membersihkan darah Radit yang masih terlihat. "Apa di sini tidak ada kotak P3K, Tuan?" Tanya nya.


"Seperti nya ada di dekat toilet, biar aku ambil dulu." Radit pergi mengambil nya dan kembali lagi. Pria itu membuka kotak kecil yang berisi kapas dan obat-obatan pertolongan pertama.


"Biar saya saja Tuan." Nania meraih kotak nya dan membungkus tangan Radit dengan plester. Ia meniu-niup pelan sebelum jari itu di tutup oleh plester.


"Nah,,, sudah Tuan." Ia tersenyum.


Entah kenapa Radit juga ikut tersenyum, lalu tatapan mereka saling bertemu. Pria itu menatap nya dalam, Nania ikut menatap nya dengan jelas. Mata indah yang selalu membuat hati nya berdebar. Ia seperti merasa ingin lebih, dan ingin memiliki pria di hadapan nya.


Tangan gadis itu menyentuh wajah Radit. Tanpa sadar ia melakukan nya, membuat Radit menelan saliva nya. Dan memajukan wajah nya mengikis jarak.


Hembusan demi hembusan napas sudah saling terasa, Radit kembali mencium bibir wanita itu yang selalu menjadi candu untuk nya. Menikmati setiap pagutan yang ia lakukan. Radit dan Nania memejamkan mata nya.


Suara dering ponsel Radit telah mengganggu aktifitas nya. Pria itu melepaskan ciuman nya, dan mendadak salah tingkah. Hal sama yang Nania rasakan. Pria itu bangkit dan mengangkat telepon nya.


"Halo Ma.."


Suara Radit sudah mulai menghilang, karena pria itu keluar dari kamar inap Nania. Ia menjadi salah tingkah dan memegangi bibir nya sendiri. "Kenapa hatiku merasa ada yang aneh, setiap dia menatapku."


"Rasa nya berbeda dari tatapan yang pernah aku lihat, dan kenapa dia harus menciumku dengan tiba-tiba terus. Aku kan jadi malu." Nania menutup wajah nya dan merasa malu.


Nania pun merapihkan buah yang tadi sempat ia makan dan juga kotak obat, lalu menaruh nya di nampan. Radit kembali ke dalam kamar, dan melihat Nania sedang membereskan itu pun langsung mencegah nya.


"Biarkan saja, aku akan letakan ini ke meja sana. Kamu istirahatlah Nana." Radit kelepasan lagi memanggil Nana.


Ia menaruh nampan itu ke meja yang ada di depan ranjang Nania. Gadis itu mengernyitkan kening nya, "Tadi Tuan bilang apa, Nana?" Ia merasa aneh.


"Em,,, itu- aku sengaja memanggilmu Nana. Agar tidak kepanjangan." Radit mengelak lagi. Jelas-jelas itu nama panggilan kesayangan Radit untuk nya.


"Hmm, jadi begitu." Nania pasrah jika berhadapan dengan Radit. Karena pria itu selalu tidak suka di bantah. "Istirahatlah, nanti malam kita akan melakukan terapi."

__ADS_1


"T-terapi?"


"Iya, terapi berjalan untuk kakimu. Kata Dokter nanti malam kamu harus mencoba nya." Jawab Radit. Gadis itu pun beristirahat sebelum siang berganti malam.


__ADS_2