Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Bab 8


__ADS_3

Mobil yang di tumpangi Gavin dan Zia masuk kedalam komplek villa. Di sana ada beberapa villa minimalis yang berjejer.


Gavin menyewa salah satu villa itu untuk dijadikan tempat bermalam sekaligus untuk me time bersama Zia.


Sudah lama keduanya tidak pernah pergi berdua dan menginap di villa maupun hotel.


Villa yang dekat dengan tempat wisata itu cukup menarik pengunjung. Hingga siang tadi hanya menyisakan 1 villa yang di sewa oleh Gavin.


Keduanya sudah masuk ke halaman villa. Villa yang lebih mirip dengan rumah minimalis modern.


Zia turun dari mobil lebih dulu, dia memperhatikan sekilas bangunan villa dan melihat pemandangan yang cukup indah di sana, dengan hamparan pengunungan dipenuhi pepohonan yang menyejukkan mata.


Gavin menghampiri Zia, dengan membawa tas berisi baju mereka. Dia memeluk Zia dari belakang, satu tangannya mengusap lembut perut Zia.


"Sudah siap bertempur untuk membuat baby,,?" Bisik Gavin.


Zia menoleh dengan senyum simpul yang menghiasi wajah cantiknya.


"Villa nya bagus, sepertinya aku akan betah disini." Ucap Zia mengalihkan pembicaraan. Dia merasa malu membahas hal intim itu dengan Gavin.


"Kita bisa menginap lebih lama kalau kamu mau."


"Aku akan senang tentunya,," Goda Gavin.


Perasaannya pada Zia saat ini sudah kembali lagi seperti dulu. Gavin sadar, dia terlalu egois karna sempat bersikap dingin pada Zia. Bahkan sering menolak untuk berhubungan.


Saat itu pikirannya benar - benar kacau karna tekanan dari keluarganya.


Tanpa Zia ketahui, mama Ambar sering menelponnya untuk menyuruhnya menikah lagi. Mama Ambar terus mencuci pikiran Gavin hingga akhirnya dia jenuh menjalani rumah tangganya yang belum juga di karuniai seorang anak.


"Iya kamu senang, aku yang kuwalahan dan kelelahan,," Celetuk Zia.


Dia melepaskan tangan Gavin yang melingkar di perutnya, lalu berjalan mendekati villa. Gavin menyusulnya dengan senyum yang mengembang.


Keduanya langsung mencari kamar yang nyaman untuk di tempati, ada 3 kamar dalam bangunan villa 2 lantai ini.


Gavin dan Zia memilih kamar di lantai atas, agar bisa melihat pemandangan lebih leluasa lagi.


Zia melewati pintu kaca di dalam kamar untuk menuju balkon, wanita cantik itu berdiri di ujung balkon dengan pandangan mata menerawang jauh.


Sejujurnya sejak tadi dia terus memikirkan perkataan mama Ambar yang menyebut kalau dirinya sudah egois karena tidak mau mengalah untuk kebahagiaan mereka.


Mungkinkah hatinya mampu untuk melepaskan Gavin dan membiarkan Gavin menikahi wanita lain.?


Membayangkannya saja sudah membuat hati Zia seperti teriris sembilu.


Wanita itu tidak mampu berpisah dari Gavin. Laki - laki yang begitu mencintai dan mendambanya selama bertahun - tahun.


Tapi Zia juga tidak akan tahan jika mama Ambar terus mendesaknya untuk mengijinkan Gavin menikah lagi. Sekuat dan sesabar apapun hati Zia, tetap saja tidak akan mampu bertahan jika terus di desak seperti itu.

__ADS_1


Zia menghela nafas berat, wanita bernama lengkap Zianka Pramesty itu tidak menyangka rumah tangganya yang selama ini berjalan baik - baik saja, kini harus di terpaksa masalah besar karena tak kunjung hamil.


Selama menjalani pernikahannya dengan Gavin, Zia terlalu percaya diri bahwa rumah tangganya dan Gavin akan selalu bahagia dan baik - baik saja.


Nyatanya waktu yang menjawab semuanya. Pada akhirnya kehidupan rumah tangganya yang dulu selalu harmonis, kini selalu di bumbui dengan perdebatan dengan Gavin dan mama mertuanya.


"Apa lagi yang kamu pikirkan Zi,,?" Suara lembut Gavin membuyarkan lamunan Zia. Wanita itu menoleh, ditatapnya Gavin yang sudah berdiri di hadapannya.


Mata Zia berkaca - kaca, hatinya begitu rapuh menayangkan jika pada akhirnya dia harus mengalah dan memilih pergi.


Zia menghambur ke pelukan Gavin, wanita itu terisak.


"Maafkan aku mas, aku belum bisa memberikan kamu keturunan,," Suara gemetar Zia begitu tercekat. Dia merasa bersalah untuk hal ini, meski rahimnya baik - baik saja.


"Jangan menyalahkan diri kamu Zi,," Gavin membalas pelukan Zia, dia mengusap lembut punggung Zia untuk memberinya ketenangan.


Melihat kesedihan Zia hanya membuat hatinya ikut teriris.


"Mulai sekarang berhenti membasah soal anak dan kehamilan. Kita fokus saja menjalani rumah tangga seperti dulu." Gavin memegang kedua bahu Zia dan mendorongnya pelan agar melepaskan pelukannya.


Kedua mata mereka saling beradu, Gavin begitu dalam menatap Zia penuh cinta.


"Kita mulai lagi dari awal Zi, aku minta maaf untuk kesalahanku selama beberapa bulan ini."


"Dan untuk omongan mama, aku mohon jangan kamu dengarkan dan masukan ke dalam hati. Anggap saja angin lalu." Pintar Gavin memohon.


"Kamu harus percaya, aku tidak akan menikah lagi dengan siapapun Zi,,," Tegas Gavin.


"Makasih mas,," Ucap Zia tulus.


"Jangan menangis lagi,,," Gavin mengusap air mata di pipi Zia.


"Lebih baik kita merengkuh kenikmatan saja,," Bisiknya.


Tanpa aba - aba, Gavin langsung menggendong Zia dengan posisi berhadapan.


Keduanya saling menatap dengan tatapan mata yang mulai berkabut gairah.


Sambil berjalan menuju ranjang, Gavin memagut bibir Zia, yang di balas dengan luma*an panas oleh Zia. Wanita cantik itu tidak akan pernah malu untuk membalas cumbuan Gavin dengan agresif.


Hawa dingin di kamar itu berubah dingin, seiring dengan cumbuan keduanya yang semakin memanas. Tubuh Zia dan Gavin bahkan sudah setengah telanjang, keduanya saling merengkuh kenikmatan dan memberikan kenikmatan.


Satu persatu kain yang tersisa di tubuh keduanya sudah tanggal seluruhnya, berserakan di lantai karena di buang asal oleh Gavin.


Keduanya mulai melakukan penyatuan. Desahan Zia membuat Gavin semakin cepat memacu dirinya di atas tubuh Zia.


Permainan panas itu berlangsung cukup lama hingga menjelang jam makan siang.


...***...

__ADS_1


"Kamu mau makan apa Zi,,?" Tanya Gavin.


Mereka baru saja masuk kedalam mobil, berniat untuk makan siang di luar.


"Apa saja, tapi restoran lokal ya,," Pinta Zia.


Dia sudah bosan dengan berbagai makanan yang ada di restorannya, yang menyajikan makanan dari beberapa negara.


Gavin mengangguk, dia melajukan mobilnya untuk mencari restoran lokal terdekat.


Suasana di restoran itu cukup ramai, Gavin mencari tempat duduk yang masih kosong dan menggandeng Zia untuk duduk di sana.


Begitu duduk, keduanya di hampiri oleh pelayan. Mereka langsung memesan makanan.


"Aku ke toilet sebentar ya,," Pamit Gavin, dia berdiri dan mengusap pucuk kepala Zia. Wanita cantik itu menganggukkan kepalanya.


Zia tampak melamun selepas kepergian Gavin ke toilet.


"Disini saja papah, ini kosong kursinya,,,"


Suara cerewet khas anak kecil itu membuat lamunan Zia buyar.


Di tatapnya anak perempuan yang berusia sekitar 3 tahun lebih itu. Zia mengerutkan keningnya, karena anak itu datang seorang diri.


"Hay cantik, kamu sama siapa,,?" Tanya.


"Ciara,,,!" Seru laki - laki yang baru datang dengan nafas terengah - engah. Nampaknya dia baru saja berlari mengejar anak kecil itu.


Tatapan mata Zia beralih pada laki - laki yang baru saja datang dan berdiri didepan mejanya.


"Sama papah, tante,," Sahutnya dengan suara yang menggemaskan. Zia kembali menatap anak perempuan itu.


"Kamu cantik sekali,,," Puji Zia dengan mencubit gemas pipi chubby itu. Anak itu tersenyum lebar.


"Zianka,,," Sapa laki - kaki itu.


Zia menatapnya bingung, tapi beberapa detik kemudian Zia tersenyum.


"Kak David.?" Seru Zia.


Wanita itu baru mengenali laki - laki yang dulu berusaha untuk mengencaninya. David terlihat berbeda, lebih dewasa dan berwibawa. Tidak terlihat lagi seperti David yang dulu playboy.


"Sudah lama tidak bertemu,," Ucapnya datar.


Zia tersenyum kikuk.


"Iya, sudah 4 tahun yang lalu,," Sahut Zia. Dia tidak pernah melihat David lagi setelah David menyelesaikan magisternya.


"Papah ayo duduk,,," Pinta Ciara, Rupanya anak kecil itu sudah duduk di depan Zia.

__ADS_1


Baik David dan Zia, mereka tersenyum kikuk menatap Ciara yang menempati mejanya begitu saja.


__ADS_2