
Nania masih mencerna ucapan Ibu nya, "Bagaimana kalau aku ikut pulang bersama Ibu, malam ini aku akan tidur di kontrakan Ibu." Pinta nya tulus.
"Ah, jangan Nak. Kontrakan Ibu sangat kecil, kasur yang Ibu pakai juga cukup untuk satu orang saja. Lain kali saja ya Nania."
"Baiklah Bu, untuk Kak Dinan, aku akan coba bicara pada nya. Supaya dia mau bertemu dengan Ibu."
"Tidak perlu, Ibu tidak mau. Sudahlah Nania, lupakan saja Kakak mu itu."
Gadis itu menatap wajah sang Ibu dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia tidak mengerti dengan maksud Yanti saat ini. Biarpun Nania tidak berhubungan baik dengan Dinan saat ini, tapi ia tidak ingin hubungan anak dengan Ibu nya berpisah terlalu lama.
"Hmm. Iya Bu, aku mengerti. Kak Dinan juga sedikit berubah. Semoga Kak Dinan cepat sadar, bahwa keluarga tetaplah penting." Ia tersenyum menguatkan diri nya.
"Iya Nania, soal hutang Ibu pada ju-juragan Damar bagaimana Nania?" Yanti bertanya dengan ragu.
"Soal itu, biar Nania usahakan ya Bu, tapi tidak bisa langsung sepenuh nya. Aku harap Ibu tidak melakukan hal seperti waktu itu lagi."
"Eh, i-iya Nania."
Nania menatap taman di sekeliling nya, ia menghela nafas nya sekedar meringankan beban di hidup nya.
"Bos kamu seperti nya menyukaimu, kenapa kamu tidak menikah saja dengan nya."
Suatu kalimat yang di jabarkan oleh Yanti membuat Nania menoleh dan menggelengkan kepala nya cepat. Yanti tahu bahwa pria yang menolong Nania pada saat di rumah Damar adalah Radit. Pria tampan yang memang semua kaum hawa akan tertarik pada nya.
"Ibu bicara apa, itu sangat tidak mungkin."
"Kenapa tidak? Kamu menikah saja dengan dia, kamu akan menjadi istri kaya raya Nania." Rayuan Yanti begitu pengang di telinga nya.
"Stop Bu, aku katakan sekali lagi, itu tidak mungkin. Aku juga bukan Kak Dinan, yang rela menikahi pria kaya raya hanya untuk hidup enak saja tanpa memikirkan orang lain." Jawab nya masih lembut.
"Sudahlah, jangan bicara seperti itu. Ibu tidak mau dengar tentang Dinan lagi."
Pasal nya Yanti tidak suka jika Nania berkata jika Dinan menikahi pria hanya untuk hidup enak saja, padahal kenyataan nya memang seperti itu.
"Ya sudah kalau gitu Ibu pulang dulu ya."
"Ibu naik apa?" Nania masih peduli dengan Yanti yang sudah berkali-kali jahat pada nya. "Ibu naik angkutan umum saja, Ibu tidak punya banyak ongkos." Ia memelas berharap Nania mengasihani nya.
"Hm, ini ada uang untuk Ibu, pulang lah naik taksi Bu." Nania memberikan tiga lembar uang berwarna merah pada Yanti.
"Terima kasih Nania, kalau gitu Ibu pulang duluan." Yanti segera berdiri, ia memasang masker dan kacamata di wajah nya. "Hati-hati Bu."
Nania juga memutuskan untuk pulang, hari sudah lumayan gelap. Sebentar lagi akan berganti malam.
"Nania..."
"D-devan.. Kamu sedang apa di sini?"
__ADS_1
Tidak sengaja saat keluar dari taman Nania, bertemu dengan Devan yang sedang berjalan juga di dekat taman itu.
"Aku baru saja habis bertemu dengan temanku di sini. Kamu sendiri?" Devan memakai jas biru dongker dengan balutan kaos turtle neck berwarna hitam di dalam nya.
"A-aku habis bertemu dengan seseorang." Nania belum ingin terbuka dengan Devan soal urusan pribadi nya.
"Oh begitu, lalu sekarang mau kemana?"
"Aku mau pulang."
"Kalau gitu kita pulang bersama saja." Dan gadis itu mengangguk, mereka masuk ke dalam mobil Devan. Di dalam mobil Nania tidak mengatakan apapun, Devan berusaha mencairkan suasana.
"Tidak di sangka akan bertemu kamu lagi, sudah berapa kali ya, apa ini takdir? He he.." Ujar Devan dengan nada bergurau nya.
"He he, iya tidak di sangka selalu bertemu kamu."
"Bagaimana kalau kita makan malam dulu? Di dekat persimpangan jalan depan nanti ada resto seafood yang enak."
"Hmm.. Bisa tidak kalau kita makan malam nya di tempat biasa saja? A-aku lebih nyaman makan di pinggir jalan." Pinta Nania ragu-ragu.
Bukan karena ia tidak mau makan di restoran, tapi ia tidak mungkin di bayarin makan di tempat mewah, lebih baik makan di tempat biasa, jadi ia tidak cemas soal bayar membayar nya nanti.
"Itu tidak masalah, aku biasa makan di pinggir jalan juga. Di kabulkan untuk tuan putri yang cantik." Devan menggoda lagi, membuat Nania tertawa dan suasana menjadi tidak canggung lagi.
Malam ini Riyan menunggu Delisha di depan butik. Gadis yang di tunggu nya tidak lama keluar juga dari butik, ia celingak-celinguk di depan jalan. Mencari motor nya yang belum juga menampakan wujud nya, Riyan sebelum ke butik sudah mengirimkan pesan untuk menjemput nya.
"Kemana Kak Riyan? Apa dia belum sampai ya?" Delisha menggigit ujung kuku ibu jari nya.
"Ah, Kak Riyan." Delisha membalas lambaian tangan Riyan yang berada di seberang jalan.
Gadis itu menghampiri Riyan, pria yang sedang bersandar di mobil nya semakin gugup. "Kak Riyan, maaf ya menunggu lama. Em, tapi dimana motorku?" Tanya nya masih menengok kanan dan kiri.
"Eh, anu.. Ja-jadi begini Delisha. Motor kamu.. Motor kamu." Riyan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Ppffttt.. Kak Riyan kenapa sih, lucu banget deh." Spontan Delisha mengatakan isi hati nya yang mengagumi Riyan.
Riyan semakin salah tingkah, "Jadi motor kamu nggak bisa aku balikin sekarang. Mo-motor kamu di sita sama Tuan Radit."
"Haaa?? Disita?"
Delisha kaget bukan main, ia hampir saja melongo tanpa berkedip. Lalu ia bingung dengan perkataan Riyan.
"I-iya maaf ya.. Motor kamu di sita selama satu minggu. Jadi.."
"Apa?! Satu minggu, Kak?" Gadis itu semakin melongo.
"Kamu tenang dulu ya, tarik nafas.. Buang nafas.." Bodoh nya Delisha mengikuti aba-aba dari Riyan, ia menarik nafas dan membuang nya.
__ADS_1
"Motor kamu di sita sama Tuan Radit selama satu minggu, itu karena aku ketahuan memakai motor dalam hukuman yang aku jalanin tadi siang."
"I-iya Kak, tapi aku nggak ngerti. Kenapa motor aku yang harus di sita. Terus besok aku berangkat dan pulang kerja naik apa?" Delisha langsung lemas, raut wajah nya jadi tidak semangat.
"A.. Kamu ja-jangan sedih dulu ya, sebagai rasa tanggung jawab aku, karena motor kamu sudah di sita.. Aku yang akan antar dan jemput kamu kerja selama satu minggu." Usul Riyan dengan membujuk Delisha.
"Tapi Kak Riyan yakin?"
"Iya yakin, kamu nggak apa-apa kan?"
Dalam hati Delisha, ia bersorak gembira akan di antar jemput dengan pria idaman nya.
'Wah.. Ini sih bukan apes, tapi membawa berkah. Ha ha, nggak apa-apa deh motor aku di sita. Satu minggu ini aku bakal bersama Kak Riyan terus. Aaa....'
"Delisha.."
Riyan membuyarkan lamunan gadis di depan nya. "Eh.. I-iya sudah kalau tidak merepotkan Kak Riyan, aku ikut saja. Tapi kalau Kak Riyan tidak bisa juga nggak apa-apa. Aku bisa naik bus kok."
"Nggak perlu, sekarang naik ke mobil, biar aku antar kamu pulang yaa." Ajak Riyan dan Delisha mengangguk, ia pun masuk ke dalam mobil Riyan.
Radit merasa bosan di apartemen nya, sudah pukul setengah delapan tapi Nania belum juga pulang. Akhir nya pria itu memutuskan untuk keluar dengan mobil nya, untuk mencari makan malam dan udara segar.
"Aku kira dia tidak akan lama, aku sengaja menunggu nya untuk makan malam bersama tapi tidak jadi. Sudahlah, aku makan sendiri saja."
Radit berkata sambil menyetir, ia membeli makanan dengan Drive Thru, kemudian melajukan mobil nya lagi. Dalam mengantri di lampu merah, manik mata Radit tidak sengaja menangkap Nania yang sedang makan, tempat makan lesehan bersama Devan, di sebuah tempat kuliner pinggir jalan.
"Cih, jadi urusan penting nya itu adalah makan bersama pria di luar sana. Ternyata kamu itu memang pandai menutupi keaslian dirimu, Nania."
Tangan Radit mengepal kuat di stir mobil nya, ia lalu menginjak pedal gas nya lagi setelah lampu rambu-rambu berwarna hijau.
Setelah sampai di apartemen, Radit menaruh makanan yang ia beli tadi di meja makan, ia langsung masuk ke dalam kamar nya tanpa makan malam.
Nania masih asik bersama Devan yang tengah makan malam bersama. "Jadi teman mu itu ternyata lucu juga ya, he he." Ujar Nania di sela pembicaraan nya.
"Hmm.. Jadi teman yang tadi aku temui, dia memang suka begitu. He he." Balas Devan.
"Aku sudah selesai makan nya, gimana kalau pulang sekarang?" Tanya Nania.
"Ah ya kamu benar, ini sudah jam sembilan malam. Maaf ya, aku jadi menyita waktumu." Devan merasa tidak enak pada Nania. "Sudah nggak apa-apa, kita kan bertetangga." Gadis itu tersenyum membuat Devan kembali terpanah dalam pandangan nya.
"Hm, ayo kita pulang.."
Nania sudah sampai di apartemen Radit, ia mengambil air minum di dapur sebelum masuk ke kamar nya. Suasana begitu sepi, ia kemudian melihat kantong paperbag cokelat yang ada di atas meja makan.
"Kenapa makanan ini masih utuh?" Ia masih heran.
Saat kaki nya ingin melangkah meninggalkan ruang makan, ia berpapasan dengan Radit.
__ADS_1
"Tu-tuan.. Mengagetkan saja. Apa Tuan perlu sesuatu?" Tanya nya.
Tapi Radit tidak menjawab, ia mengambil sebotol air minum dari kulkas dan pergi begitu saja.