Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Mengantarkan Pulang Delisha


__ADS_3

Nania mengetuk pintu kamar Radit, ia masuk dan melihat pria itu sedang menonton tv di kamar nya.


"Tuan, boleh saya masuk?"


"Hm"


Ia pun masuk ke dalam dan berdiri di samping sofa dekat tempat tidur Radit. "Hm, begini Tuan.. Saya mau minta izin keluar sebentar boleh?"


"Mau kemana kamu?" Tanya Radit dengan wajah datar nya.


"E.. Mau bertemu dengan sahabat saya, Tuan."


Gadis itu mendadak merasa canggung di depan Radit, "Suruh saja sahabatmu yang datang kesini. Nanti kalau aku perlu sesuatu bagaimana?"


"Ah iya, benar juga. Jika Tuan perlu sesuatu akan repot juga. Tapi tidak apa jika sahabat saya datang kesini, Tuan?"


"Hm."


"Ya sudah, kalau gitu saya keluar dulu. Jika Tuan perlu sesuatu, panggil saya saja." Ucap Nania dengan ramah.


Radit diam-diam menganggumi kecantikan Nania malam ini, wajah yang sudah mulai terbayang di benak nya.


"Hm."


Hanya itu lagi jawaban singkat Radit, dan ia kembali melihat film action di tv nya. Nania keluar dan menelpon Delisha untuk datang ke apartemen.


Kebetulan sekali memang Delisha pernah bilang ingin main ke apartemen Radit karena penasaran. Malam ini akhirnya tersampaikan juga.


Tidak butuh waktu lama. Empat puluh menit kemudian bel apartemen berbunyi, Nania pun segera membukakan pintu.


"Delisha... Masuklah."


"Aaaa.. Naniaaa aku kangen sekali denganmu."


"Aku juga Del.."


Mereka berdua berpelukan di pintu apartemen, kemudian masuk ke dalam. "Wah, besar sekali apartemen ini. Kamu tidak capek membersihkan ini, Nan?"


Mata Delisha tak henti mengedarkan pandangan nya ke setiap penjuru sudut ruangan apartemen Radit.


"Ah, soal membersihkan.. Setiap pagi jam lima ada pelayan dari kepercayaan Tuan Radit datang membersihkan nya. Jadi bukan aku yang membersihkan seluruh apartemen ini."


"Beruntung sekali kamu Nan, punya bos baik seperti nya."


"Ayo, duduk sini."


Delisha dan Nania duduk di sofa yang biasa Radit dan dirinya duduk disana. Lalu gadis itu membawakan minum dari kulkas untuk sahabatnya. Juga tak lupa berbagai camilan ringan untuknya.


"Minumlah ini Del, aku tahu kamu pasti haus."


"He he he, kamu bisa aja." Delisha langsung membuka sebotol minuman dan meminumnya.


"Maaf ya Nan, waktu kamu di culik kemarin, aku tidak bisa mengunjungimu. Hanya bisa video call saja setelah kamu kembali. Karena bos ku keluar Kota. Banyak juga pesanan, jadi aku sibuk mengurus butik sampai malam." Jelas nya panjang lebar.


"Iya nggak apa-apa kok Del, aku mengerti. Aku juga sudah melupakan kejadian itu. Jadi kita nggak usah membahas nya lagi yaa.."

__ADS_1


"Iya Nan. Apa kamu sendiri disini?"


"Tidak, aku bersama Tuan Radit."


Seketika mulut Delisha menganga, dan menutup dengan tangan nya sendiri. "Ha?? Bos mu ada disini, dimana dia?" Delisha celingak-celinguk ke kanan dan kiri.


"Ada di dalam kamar nya, sedang tidak enak badan." Jawab Nania.


"Ah begitu, aku jadi tidak enak mampir kesini saat bos mu sedang sakit."


Wajah Delisha merasa tidak enak pada sahabat nya, ia menggaruk rambut nya yang di ikat ke belakang.


Nania yang memakai dress selutut ala rumahan itu terlihat manis sekali. Di tambah warna biru muda pas sekali di kulit putih nya. Sedangkan Delisha memakai highwaist jeans dan baju kaos putih lengan panjang yang melekat pas di tubuh nya.


"Aku tadi sudah bilang pada nya kok, kamu kesini naik apa Del?"


"Oh begitu, kamu sudah bilang ya. Tapi aku tetap tidak enak, aku naik ojek online, Nan. Karena aku takut menyasar pertama kali kesini. He he he."


"Dasarr... Kamu nih, kata nya pemberani. Tapi takut kalau nyasar."


Delisha menyengir kuda, dan melanjutkan minum nya. Suara bel berbunyi membuat mereka yang sedang mengobrol beradu pandangan.


"Siapa itu Nan?"


"Sebentar ya, biar aku lihat dulu." Delisha pun mengangguk. Nania segera membukakan pintu. Ternyata yang datang Riyan membawa tentengan tas dan juga paperbag kecil berwarna putih.


"Riyan.. Ada apa?"


"Nan, Tuan Radit ada di dalam kan?"


"Iya, masuklah."


'Astaga... Kenapa di dalam apartemen Tuan Radit banyak bidadari cantik. Siapa gadis itu, cantik juga.' Ujar nya dalam hati Riyan.


"Duduk dulu Yan." Ajak Nania.


Delisha tersenyum melihat kedatangan Riyan, pria yang di tatap itu awal nya tak berkedip melihat Delisha, kemudian Riyan menetralkan sikap nya.


"Aku kesini mau bawa ini untuk Tuan Radit, dan ingin minta tanda tangan nya."


"Ah iya aku lupa, kenalin Riyan. Ini sahabatku, Delisha."


Riyan pun menyambut uluran tangan nya dan mereka berdua berjabat tangan.


"Delisha."


"Hm, Riyan.."


"Apa Tuan ada di kamar nya, Nan?" Tanya Riyan. "Iya ada di kamar nya. Itu apa Yan?" Nania memperhatikan paperbag kecil berwarna putih yang Riyan bawa.


"Ini Rujak buah titipan Tuan Radit." Entah Nania dan juga Delisha mengernyitkan kening nya bersama. "Tuan suka rujak buah?" Tanya Nania.


"Iya, aku ke kamar nya dulu ya."


"Iya." Balas Nania.

__ADS_1


Delisha menarik tangan Nania, "Dia itu siapa Nan?" Nania melirik ke arahnya. "Itu tadi Riyan, dia Asisten nya Tuan Radit. Ya, sekaligus tangan kanan nya." Jawab Nania lalu mengambil camilan ringan di meja.


"Aku seperti nya pernah nggak sengaja ketemu cowok tadi." Bilang nya sambil mengingat-ingat.


"Benarkah, dimana Del?" Tanya Nania. "Kalau tidak salah waktu itu aku sedang beli makanan. Terus nggak sengaja kami bertabrakan." Jelas Delisha yang telah ingat dengan wajah Riyan.


"Oh jadi begitu, mungkin kalian berjodoh, hi hi hi." Ledek Nania yang terkekeh.


"Apa sih kamu Nan.." Delisha wajah nya menjadi malu-malu.


Riyan pun masuk ke dalam kamar Radit, "Tuan, ini rujak buah yang anda minta." Radit pun beranjak dari tempat tidur nya menjuju sofa panjang.


"Sahabat nya Nania sudah datang kah?"


"Sudah Tuan."


"Ini ada berkas yang harus anda tanda tangani juga, Tuan." Radit menerima nya, "Sudah kamu pelajari?" Tanya nya dan membuka map itu.


"Sudah Tuan." Lalu Radit menanda tangani berkas itu dan mengembalikan nya pada Riyan. "Apa ada yang bisa di bantu lagi, Tuan?"


"Tidak ada, kamu boleh pergi. Terima kasih"


"Ya sama-sama Tuan, saya pamit pulang dulu. Selamat malam, Tuan."


"Hm."


Riyan pun pamit keluar ia melihat Delisha sudah memakai tas selempang nya, seperti nya ia hendak pulang.


"Apa Tuan perlu sesuatu, Riyan?" Tanya Nania. Riyan menggelengkan kepala nya, membuat Sekertaris itu bernafas lega.


"Kamu sudah mau pulang ya?" Tanya Nania lagi.


"Iya Nan, aku mau langsung pulang, kenapa?" Riyan melirik sekilas ke arah Delisha.


"Tidak ingin minum dulu?" Tawar Nania, "Kayak nya nggak usah deh Nan." Balas Riyan menggaruk pelipis nya.


"Aku boleh minta tolong antar Delisha pulang tidak, Riyan?" Pinta Nania.


Pria itu melirik ke arah Delisha yang meremas lengan Nania, "Tidak usah Nan, aku bisa naik ojek lagi kok." Mendengar Delisha berbicara seperti itu, Riyan mendadak tidak tega.


Padahal sebelum nya ia tidak pernah peduli dengan urusan wanita. "Boleh, biar aku antar pulang." Akhirnya ia setuju mengantarkan pulang Delisha.


"Terima kasih ya Riyan." Nania tersenyum.


"Sama-sama."


"Del, kamu pulang sama Riyan ya, tenang saja dia baik kok" Ujar Nania mengantar kedua nya keluar dari apartemen Radit. "Kalau gitu aku pulang dulu ya, sampaikan salam terima kasih ku pada bos mu." Pamit Delisha sebelum pergi bersama Riyan.


"Iya beres. Kalian hati-hati ya."


Nania memperhatikan Riyan dan Delisha yang berjalan di lorong sampai tidak terlihat. Kemudian ia masuk ke dalam lagi, membereskan meja yang sempat ada makanan dan minuman nya.


Setelah memastikan semua itu rapih, Nania masuk ke dalam kamar Radit lagi yang sebelum nya ia sudah mengetuk pintu.


"Tuan, apa anda perlu sesuatu?"

__ADS_1


"Tidak ada."


Gadis itu melirik Tuan nya yang sedang memakan rujak buah dengan garpu di tangan nya. "Kamu mau?" Tawar Radit.


__ADS_2