Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Suster Wati


__ADS_3

Pagi hari nya di perusahaan Diamond Glow Cosmetic, Nania sibuk dengan berkas nya di meja. Diri nya sambil membuat desain cover untuk produk parfum di layar PC nya.


Sebuah dering panggilan di ponsel nya membuat Nania menghentikan sejenak kegiatan nya.


"Ibu, ada apa telpon pagi begini?" Gumam nya, lalu menggeser simbol warna hijau di layar ponsel.


"Halo, Bu?"


"Halo Nania, tolong ibu.. Ibu di rumah sakit, nak."


"Apa bu?! Ibu masuk rumah sakit, baiklah rumah sakit mana? Biar Nania susul Ibu kesana sekarang."


"Ibu di rumah sakit umum XXX, Nania."


"Baiklah, Ibu tunggu aku di sana ya."


Tut.. Panggilan itu berakhir, Nania segera memasukan ponsel nya ke dalam tas, dan buru-buru mengetuk pintu ruangan Radit.


"Tuan, maaf mengganggu waktu anda sebentar." Ucapnya setelah mengetuk pintu lalu masuk.


"Hm, ada apa?" Tanya nya lembut.


Radit menautkan alis nya, ia merasa wajah Nania sedang cemas dan tergesa-gesa. "Begini Tuan, bolehkah saya izin keluar sebentar. Sa-saya mau menemui Ibu saya di rumah sakit."


"Ibu kamu sakit? Biar aku antar kamu kesana."


"Ti-tidak usah Tuan, saya tidak mau mengganggu waktu anda, saya bisa pergi sendiri. Tuan juga ada rapat jam 10 nanti dengan departemen keuangan."


Baru saja Radit hendak bangkit dari kursi kebesaran nya, tapi Nania sudah mencegah nya dengan alasan tidak ingin merepotkan Radit.


Merasa gemas, Radit tetap berdiri dari kursi nya dan menghampiri Nania yang masih kelihatan panik.


"Nania, biar aku antar kamu kesana ya, soal meeting aku bisa menyuruh Riyan menggantikan nya." Ucap nya lembut.


Nania menggelengkan kepala nya, "Maaf Tuan, tapi benar saya bisa kesana sendiri, saya janji tidak akan lama". Jawab nya sangat memohon.


Radit menghembuskan nafas nya dengan sedikit berat. "Baiklah, kalau itu maumu. Pakai mobilku saja ya, ini kunci nya." Ia memberikan kunci mobil nya pada Nania.


"Terima kasih atas pengertian nya Tuan, kalau gitu saya permisi dulu."


Gadis itu menerima saja kunci mobil Radit, karena di saat waktu begini akan lebih cepat menggunakan kendaraan pribadi, lalu ia beranjak pergi dari ruangan Radit. "Nania.."


"Ya Tuan."


"Hati-hati.." Radit mengecup kening gadis itu sebelum pergi.

__ADS_1


Nania tersenyum hangat, rasa cemas di hati nya berkurang sedikit, ia bahkan lupa jika ini sedang di kantor. "Iya Tuan." Pria itu membalas dengan senyuman juga. "Jika ada apa-apa, jangan sungkan untuk telepon aku ya." Ucap nya, dan Nania mengangguk. Ia kemudian benar-benar keluar dari ruangan Radit.


Yanti masuk rumah sakit karena ia di serempet motor ketika hendak menyebrang. Cukup memakan waktu sekitar 40 menitan, Nania tiba di rumah sakit.


"Permisi, pasien atas nama..." Tanya Nania pada petugas resepsionis.


"Nyonya Yanti masih berada di ruang IGD, Nona. Anda bisa langsung mengunjungi nya di ruangan sebelah sana." Jawab Resepsionis itu sembari menunjukan ruang IGD nya.


"Baik, terima kasih."


Dengan setengah berlari, Nania memasuki ruangan IGD di rumah sakit itu, banyak beberapa pasien yang masih di tangani suster dan dokter.


Manik mata nya mencari sosok Ibu nya, ia menghampiri brankar yang berada di sudut ruangan.


"Ibu.. Sebenar nya apa yang terjadi, kenapa Ibu bisa masuk rumah sakit?"


"I-ibu tadi di serempet pengendara motor, Nania."


Jawaban dari Yanti begitu lemah, ia memang berbaring dengan kaki yang di perban dan lengan yang di perban. Tidak cukup serius, hanya luka ringan di bagian kaki dan tangan nya.


"Ya Tuhan.. Ibu yang sabar ya, sudah di periksa kan, Dokter nya bilang apa, Bu?"


"Sudah Nak, suster hanya menitipkan kertas ini pada Ibu."


Nania mengambil secarik kertas berisi laporan pemeriksaan dari pihak rumah sakit, gadis itu mengerti dan akan mengunjungi dokter di ruangan nya.


Pamit gadis itu pada Ibu nya.


"Nania, terima kasih ya.."


Yanti memegang tangan anak nya kala Nania hendak pergi, gadis itu tersenyum dan mengangguk.


"Kamu memang anak yang baik Nania, berbeda sekali dengan Kakakmu." Yanti meratapi punggung Nania yang semakin menghilang.


Seorang suster yang sedang menangani pasien di sebelah Yanti sedikit tersentak, ia melirik ke arah Yanti dengan rasa khawatir.


'Kenapa dia ada di rumah sakit ini, gawat !! Jangan sampai dia melihat aku bekerja di rumah sakit ini.' Seru suster dalam hati nya.


Yanti melirik ke arah suster yang di sebelah nya, wanita berusia 45 tahunan yang bekerja sebagai perawat itu merasa semakin gugup. Sayang nya Yanti tidak bisa melihat wajah suster itu, karena ia memakai masker.


Tidak lama pun Nania kembali lagi menemui Yanti.


"Ibu, aku sudah menemui Dokter, Ibu masih perlu perawatan, jadi Ibu harus di rawat inap."


"Oh begitu ya Nak, tapi Ibu merasa tidak apa-apa kok." Jawab Yanti

__ADS_1


Suster itu terkejut kala ada seorang gadis yang menemui nya dan memanggil nama Ibu.


'Apa dia anak itu ya, kenapa dia memanggilnya Ibu. Jika di lihat dari perawakan nya, seharus nya memang dia anak itu.' Gumam Suster lagi dalam hati nya.


"Ya Bu, tapi Ibu tetap harus di rawat di sini. Ibu tenang saja, Nania sudah membayar semua biaya rumah sakit nya. Tapi maaf Nania nggak bisa jaga ibu lama-lama. Aku harus kembali bekerja Bu. Nanti malam, aku akan temani Ibu di sini."


"Iya nggak apa-apa Nania. Makasih ya, kamu sudah mau mengurus Ibu di sini."


"Sama-sama Bu, sebentar lagi Ibu akan dapat kamar. Nanti setelah dapat kamar inap, Nania kembali ke kantor lagi ya Bu." Yanti mengangguk.


Sekitar satu jam lama nya, kamar inap yang di sediakan untuk Yanti telah siap. Kini Nania sudah berada di parkiran mobil rumah sakit.


Ia akan kembali lagi ke kantor untuk bekerja, sesampai nya di dalam mobil. Nania memainkan ponsel nya.


"Kak Dinan.. Iya, aku harus kasih tahu dia. Kalau Ibu ada di rumah sakit. Tapi, gimana cara aku menghubungi nya. Aku tidak punya nomor nya." Ia sedikit bingung.


"Ah ya, di kantor kan ada data perusahaan nya Tuan Lan, itu arti nya aku bisa menghubungi dan di sambungkan ke Kak Dinan. Sebaik nya aku segera balik ke kantor. Radit pasti sudah memulai meeting nya." Gumam nya.


Nania lalu menyalakan mesin mobil, dan menjalankan mobil mewah milik Radit itu keluar dari rumah sakit.


Di dalam kamar Dahlia 314, Yanti tengah berbaring sendiri di dalam ruangan. Ruangan yang bisa di isi tiga pasien di kamar itu, hanya Yanti saja yang ada di sana sebagai pasien rawat inap.


Suster yang di tugaskan untuk mengantar makan siang kebetulan adalah Suster Wati. Ia mengetuk pintu kamar dan masuk ke dalam.


"Permisi Nyonya, saya ingin mengantarkan makan siang. Ini makan siang nya, dan ini obat nya. Di habiskan makanan nya ya Nyonya, dan habis itu obat nya jangan lupa di minum." Ucap Suster Wati yang tak lain adalah Suster yang gugup tadi.


"Iya, makasih Suster."


"Baik, ka-kalau gitu saya permisi dulu Nyonya. Selamat makan siang."


Wati sedikit cemas dan gugup, karena Yanti begitu menelisik wajah di balik masker nya. "Tunggu Sus."


Dag..Dig..Dug.. Wati merasa jantung nya berdebar. 'Haduh.. Nggak mungkin kan dia ngenalin aku.'


"Iya Nyonya?"


"Tolong nyalakan tv nya ya, saya sedikit jenuh Suster." Ucap Yanti. Wati merasa lega, ia meraih remot tv yang menempel di tembok dan menyalakan benda pipih nan lebar itu yang menempel di dinding.


"Sudah ya Nyonya."


"Hm, makasih Suster." Akhir nya wati keluar dari kamar Dahlia 314 sambil menghelas nafas panjang.


"Huh... Syukurlah dia tidak mengenaliku."


Riyan dan Radit tengah berada di ruang meeting yang sedang berlangsung. Ia melihat Tuan nya nampak bahagia dan murah senyum.

__ADS_1


'Tidak biasa nya Tuan Radit senyum lebih dari dua kali pas meeting. Biasa nya dia akan serius dan memasang wajah dingin. Aneh banget, pasti terjadi sesuatu habis makan malam kemarin itu.' Seru Riyan dalam hati nya.


__ADS_2