
Di dalam lift kedua insan yang habis saling menyatakan cinta itu berpegangan tangan bak tak ingin di pisahkan oleh apapun. Serasa dunia milik berdua dan yang lain hanya mengontrak saja.
"Nana... I love you.." Ucap nya kesekian kali.
"I love you too, Radit." Balas nya malu-malu.
Radit mencium lembut punggung tangan Nania. Mereka masuk ke dalam apartemen. Begitu masuk Radit terkejut kala Mona sudah duduk di sofa ruang tengah.
"Astaga Mama!!"
Kaget bukan main, Nania pun sama terkejut nya. "Ny-nyonya.." Gadis itu sangat gugup melihat raut wajah Mona yang tidak bersahabat.
Kedua nya duduk di hadapan Mona yang sudah menatap tajam pada mereka. Tangan Mona di silangkan ke dada dan duduk tegak.
Rasa nya sulit sekali menelan air liur saat ini. Ini bukan momen yang tepat bertemu dengan mama Radit.
"Ma.. Kok Mama bisa masuk ke apartemen Radit?" Pria itu bertanya sangat hati-hati.
"Kamu lupa ya? Mama itu tahu kamu punya Keycard cadangan di rumah. Kamu simpan di laci kamar kamu."
Radit menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, netra Mona sangat mengintimidasi kedua nya. Nania tidak berani menatap Mona. Mata nya melihat ke bawah terus.
"Kamu Nania? Bukan nya kamu itu Sekertaris nya Radit di kantor?"
"I-iya Nyonya benar."
"Lalu kenapa kamu bisa tinggal di sini dan kalian hanya berdua saja?" Tanya Mona serius.
Mona datang ke apartemen Radit saat penghuni nya tidak ada disana. Ia mengecek satu persatu ruangan di dalam apartemen itu. Mona pikir dia akan menemukan foto atau bukti kalau Radit memang sudah memiliki kekasih.
Tapi sayang nya ketika membuka kamar tamu di apartemen itu, yang memiliki ruang wardrobe dan lengkap dengan kamar mandi di dalam nya, terdapat pakaian wanita dan foto Nania di atas nakas kecil samping tempat tidur.
Mata Mona membulat ketika yang di pandang dari foto itu, ia mengenal nya.
"Ma... Biar Radit yang jelaskan." Pinta nya memohon.
__ADS_1
"Diam kamu, Mama lagi nanya sama Nania!"
Bagai di sidang saat kelulusan, hati Nania ketar-ketir, tangan nya sedikit gemetar. Lidah nya kelu tidak bisa menjawab. Radit dengan cepat menangkap tangan kekasih nya yang gemetar itu.
"Ma.. Nania kekasih Radit, aku yang meminta nya untuk tinggal di sini. Karena saat itu Nania sedang mencari rumah sewa. Dan Radit meminta nya untuk tinggal di sini saja, karena dekat dari kantor." Pria itu menjelaskan, berharap Mona bisa mengerti.
"Oh, jadi maksud kamu itu, kamu menyuruh Nania tinggal di sini agar bisa tinggal berdua sama kamu? Iya?! Maka nya kamu nggak pernah pulang ke rumah, karena ada Nania di sini." Mona menahan amarah nya di depan Radit dan Nania.
Nania begitu tidak enak hati mendengar Mona berbicara seperti itu. Ia memang salah di sini, dan tidak ingin ada keributan.
"Bukan begitu Ma.."
"Radit!! Kamu sadar tidak, kalian itu wanita dan pria, tinggal dalam satu atap hanya berdua? Kalau Papa sampai tahu, habis kamu sama Papa!" Mona menaikkan nada bicara nya memarahi Radit.
"Iya Ma.. Radit tahu ini salah, tapi aku ngga pernah macam-macam kok Ma." Jujur nya pada sang Mama.
"Memang nya kamu kira, sedang tinggal di luar negeri? Yang bebas bisa tinggal bersama wanita tanpa status di satu atap? Ini INDONESIA, Radit!!" Mona benar-benar murka pada anak nya.
"Ma.."
"Cukup! Kalau saja Mama tidak diam-diam datang kesini, pasti kamu tidak akan mengakui nya kan?" Mona sangat kecewa dengan anak nya. "Mama kecewa sama kamu Radit." Wajah nya berubah menjadi sedikit sendu, tapi Mona menahan nya.
"Nana.. Biar aku yang bicara sama Mama. Kamu jangan keluar dari apartemen ini ya.." Pria itu tetap mempertahankan Nania.
"Jadi kamu lebih milih Nania, Radit?!" Mona marah.
Di sebuah cafe Fiona menunggu Dinan datang. Tak lama orang yang di tunggu pun datang. "Fio.. Maaf aku terlambat."
"Tidak apa, aku juga baru saja sampai."
Dinan duduk di hadapan Fiona. "Ada apa, malam begini kamu mengajakku bertemu. Seperti nya ada hal penting yang ingin kamu bicarakan."
Wajah Fiona begitu kesal mengingat kejadian sebelum nya, dimana ia melihat Radit dan Nania saling menyatakan cinta, dan pria yang ia sukai melamar Nania.
"Dinan, seperti nya aku perlu bantuanmu. Malam ini Radit melamar cewek kampung itu di depan restoran. Aku melihat nya ketika pulang dari lokasi syuting."
__ADS_1
Fiona memang lah artis dan juga model di dunia entertainment. Dinan terkejut mendengar penjelasan dari teman nya.
"Apa?! Radit melamar Nania?"
"Darimana kamu tahu kalau wanita itu nama nya Nania?" Tanya Fiona begitu serius. "Ya aku tahu, karena perusahaan Reyhan bekerja sama dengan Diamond Glow. Kami beberapa kali bertemu."
Tangan Fiona meraih gelas soft drink nya. Ia meminum nya agar hati nya merasa tenang. "Cih, jadi mereka cinta lokasi?" Seru Fiona dengan nada jengkel.
"Seperti nya begitu. Jadi kamu ingin minta bantuan apa?"
"Aku ingin menyingkirkan Nania."
Kaget bukan main, Dinan tidak menyangkan jika Fiona akan seberani ini. "Ma-maksud kamu menyingkirkan yang bagaimana?"
"Ya ampun Dinan, ya menyingkirkan dia agar keluar dari kehidupan Radit. Itu tanda nya dia tidak ada di hadapan Radit lagi." Jelas nya penuh penekanan.
"Ja-jadi?" Dinan masih bertanya.
"Kita harus melenyapkan Nania."
"Apa?!"
"Kamu kenapa kaget segitu nya sih, Dinan?"
Bagaimana tidak terkejut, Dinan adalah Kakak nya Nania. Mungkinkah ia tega melenyapkan nyawa sang adik, meskipun hubungan nya tidak baik selama ini.
"Em.. Ti-tidak, aku hanya tidak pernah melenyapkan seseorang." Jawab Dinan menetralkan seisi pikiran nya.
"Ya, aku tahu. Tapi dunia ini begitu keras. Kita harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu, bukankah begitu?" Tanya Fiona.
Dinan kembali mengingat masa dimana ia merelakan keluarga nya demi menikah dengan Reyhan. "Iya kamu benar Fio."
"Benar kan, jadi tunggu apa lagi? Aku akan membalas jasamu jika bisa membantuku menghabisi Nania. Perusahaan suamimu bisa kapan saja memanggilku untuk jadi brand ambassador kalian. Tidak perlu membayarku, kapan saja kalian ingin, bisa langsung menghubungiku."
Ini tawaran yang sangat menarik, Fiona adalah model dan artis yang sedang naik daun. Jika Fiona menjadi Brand Ambassador nya Perusahaan Lan. Pasti bisa menaikkan citra produk perusahaan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membantumu."
"Good.. Aku senang berteman denganmu." Fiona mengulas senyum pada nya, dan Dinan membalas nya. Mereka kembali menenggak minuman nya bersama.