Jangan Rubah Takdirku

Jangan Rubah Takdirku
Bab 25


__ADS_3

Bagi David mendapatkan semua yang dia inginkan bukanlah masalah yang sulit. Dengan kekuasaan dan uang yang dia miliki, apapun bisa dapatkan.


Namun hal itu tidak berlaku untuk mendapatkan Zia. Meski sudah banyak yang dia lakukan, tetap saja Zia tidak pernah bisa ia miliki. Zia bak mawar merah berduri dalam sangkar emas, hanya bisa dia pandang tanpa bisa ia genggam.


Mendapat kabar dari orang suruhannya jika siang tadi Gavin baru saja bertemu dengan seorang wanita, seakan menjadi angin segar untuk David. Tanpa berfikir lama, dia meminta orang suruhannya untuk menahan Nindy di cafe itu.


Wanita yang David tau jika dia adalah sekretaris Gavin, menurut penuturan Mitha.


David memperhatikan penampilan Nindy dari atas sampai bawah. Wanita yang masih memakai baju kerja itu terlihat sangat sederhana. Dengan wajah yang menurutnya jauh di bawah Zia. Cinta memang membuat semuanya terasa lebih indah dari apapun.


Bahkan tidak ada yang bisa menandingi kecantikan Zia di matanya.


"Ada keperluan apa Anda menahan saya.?"


Meski gugup karena diperhatikan David dengan sorot mata yang tajam, Nindy berusaha untuk bersikap santai di depan laki - laki yang baru pertama kali dia lihat itu.


Dari penampilan David yang memakai semua barang - barang branded ternama, Nindy bisa menebak jika David bukan orang sembarangan.


"Aku ingin menawarkan kerja sama." Suara berat David sangat kental dengan gaya maskulinnya.


"Bukankah kamu ingin mendapatkan Gavin.?"


Nindy terlihat kaget mendengarnya, namun dia ingat jika David memang bukan orang sembarangan. Wajar saja dia tau tentang itu.


"Aku akan membantumu untuk mendapatkannya." Ujar David lagi. Seakan tidak ada keraguan, dia begitu yakin bisa membantu Nindy.


"Tunggu, sebenarnya apa hubungan Anda dan Pak Gavin.? Apa tujuan Anda kenapa ingin,,,


"Zia,,, aku menginginkan Zia seperti kamu menginginkan Gavin untuk balas budi karena orangnya sudah membantu keluargamu,," Tutur David santai.


Nindy segera menggelengkan kepalanya, dia tidak setuju dengan kerjasama yang ditawarkan oleh David.


"Tidak, saya tidak akan melakukan itu."


"Saya ingin menikah dengan pak Gavin hanya untuk memberinya keturunan, bukan untuk memisahkan mereka,," Sanggah Nindy cepat. Dia memang sudah bertekad, hanya akan memberikan keturunan saja pada Gavin dan Zia, tanpa mau hidup bersama dengan mereka.


David tersenyum sinis. Wanita di depannya terlalu percaya diri bisa menjalankan rencananya.


"Kamu pikir pernikahan kalian tidak akan membuat Zia pergi.?" Ucap David penuh penekanan.


"Aku yakin setelah mendengar kabar ini pun Zia akan merelakan Gavin untuk kamu,,,"


Tambahnya lagi dengan kekehan, seolah menertawakan kebodohan Nindy.


"Tapi saat ini Gavin menolaknya bukan.?"


"Dia tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu karena dia tau akan kehilangan Zia,,"


Ucapan David seakan menyadarkan Nindy. Dia baru bisa memahami kenapa Gavin bersikeras menolak pernikahan mereka.


"Mari kita buat kerjasama,,," David mengulurkan tangannya pada Nindy. Namun wanita itu tidak memberikan respon apapun, dia terlihat berfikir keras untuk menerima tawaran David. Hal itu terasa sangat sulit bagi Nindy.


"Apa lagi yang kamu pikirkan.?!" Seru David. Dia menarik kembali uluran tangannya, lalu mengambil dompet dan mengeluarkan kartu nama miliknya.


"Hubungi aku jika kamu butuh bantuan,,"

__ADS_1


David meninggalkan kartu namanya di depan Nindy, kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari cafe.


Cukup lama Nindy menatap kartu nama itu. Kini dia tidak heran lagi kenapa David tau semuanya. David orang yang berkuasa, bisa mendapatkan informasi apapun yang dia butuhkan hanya dengan satu kali jentikan jarinya.


Helaan nafas berat keluar dari mulut Nindy. Tangannya mengulur untuk mengambil kartu nama itu dan memasukannya kedalam tas.


Dia belum punya rencana apapun saat ini. Entah akan menerima tawaran David atau berusaha sendiri dengan penolakan yang terus dilakukan oleh Gavin.


...****...


Makan malam Zia dan Gavin terasa hening. Zia lebih banyak diam sejak tadi siang. Lidahnya terasa kelu hanya sekedar untuk bertanya pada Gavin.


Hatinya sudah terlampau sakit, dengan sikap Gavin yang tidak bisa jujur padanya perihal pernikahannya dengan Nindy.


Makanan yang dia makan bahkan terasa hambar di mulutnya. Bahkan tenggorokannya terasa sakit setiap kali menelannya.


"Kamu baik - baik saja Zi,,?" Gavin menyentuh lembut tangan Zia di atas meja. Sejak tadi dia sudah melihat perubahan sikap Zia begitu berada di ruang makan.


Zia melirik sekilas, lalu menggeleng pelan.


"Jangan bohong Zi, aku tau siapa kamu."


"Katakan ada apa.?" Gavin terlihat mendesak Zia agar mau bicara.


Zia menghela nafas berat. Dia meletakan sendok di tangannya, lalu mengambil air minun dan meneguknya perlahan.


Zia terlihat kesal dengan sikap Gavin yang seolah tidak tau apapun. Entah sampai kapan Gavin akan menyembunyikan rencana pernikahannya dengan Nindy.


"Mas,,!" Seru Zia penuh penekanan.


"Aku tau kamu,,,


"Hueekk,,, Hueekkk,,,"


Zia langsung berdiri dan menyusul Gavin. Meski tadi wanita itu sedang kesal dengan Gavin, tapi melihat Gavin yang terus muntah - muntah membuatnya merasa iba.


"Kamu sakit mas,?" Tanyanya dengan wajah yang terlihat cemas. Zia memijat tengkuk Gavin perlahan.


"Tadi pagi juga muntah - muntah seperti ini. Sebaiknya kita ke dokter saja,,,"


Gavin membasuh wajahnya yang kini terlihat pucat.


"Tidak apa Zi, aku baik - baik saja. Mungkin cuma kelelahan,,,"


Gavin memang merasa tubuhnya tidak sesehat biasanya. Di tambah dengan perutnya yang tiba - tiba sering mual.


"Tidak ada penolakan mas, aku antar kamu ke dokter." Tegas Zia. Dia menuntun Gavin agar duduk, kemudian beranjak dari sana untuk menyuruh supir mengantar mereka ke rumah sakit.


Gavin terlihat pasrah, dia tidak lagi memberikan protes dan menuruti permintaan Zia.


Keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat.


"Aku tidak yakin kamu baik - baik saja." Zia mengusap pipi Gavin.


"Wajah kamu pucat mas,,"

__ADS_1


Gavin mengulum senyum, laki - laki itu sangat menyukai momen dimana Zia terlihat sangat mencemaskannya. Dari situ Gavin bisa melihat tatapan mata Zia yang dipenuhi cinta untuknya.


"Kamu menggemaskan,,," Gavin menekan kedua pipi zia dengan satu tangannya. Hal itu langsung membuat Zia menepis tangan Gavin.


"Jangan bercanda mas.!" Protesnya kesal.


Zia memilih mengalihkan pandangan keluar jendela. Gavin sedang tidak bisa di ajak bicara serius meski kondisinya sedang pucat seperti itu.


...****...


Zia terlihat tidak puas dengan jawaban dokter yang baru saja memeriksa Gavin. Dia bilang Gavin baik - baik saja dan kondisi badannya sehat dan normal. Tidak ada sakit yang serius.


"Bukannya aku sudah bilang, aku baik - baik saja,,"


Gavin menggenggam tangan Zia, karena wanita itu terlihat akan marah pada dokter di depannya.


"Coba periksa ulang dok. Suami saya sudah muntah - muntah 2 kali, pagi dan malam ini,,," Protes Zia dengan suara lantang.


"Maaf Bu, tapi pak Gavin sehat dan baik - baik saja. Mungkin hanya kelelahan atau mungkin,,,,"


Dokter itu menggantungkan kalimatnya, membuat Zia dan Gavin terlihat penasaran.


"Mungkin apa dok.?" Seru keduanya bersamaan.


"Eumm,,, mungkin saja Ibu sedang hamil dan Pak Gavin mengalami kehamilan simpatik,,"


"Kehamilan simpatik.?" Tanya mereka lagi.


Dokter itu mengangguk.


"Kehamilan simpatik atau disebut dengan sindrom couvade, dimana suami ikut merasakan tanda - tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri,,"


Zia dan Gavin makin terlihat bingung setelah mendengar penjelasan dokter. Bahkan keduanya tidak berbicara apapun, hanya diam menatap dokter itu. Berharap sangat dokter bisa memberikan penjelasan lebih lanjut.


"Kenapa kalian terlihat bingung.?"


"Untuk lebih jelasnya, sebaiknya periksakan istri Pak Gavin ke dokter obgyn."


"Ma,,maksud dokter saya hamil,,?" Tanya Zia terbata. Seakan tidak percaya dengan pendapat dokter itu.


"Saya tidak bisa memastikan, maka dari itu saya menyarankan kalian untuk pergi ke dokter obgyn,,"


Gavin tersenyum lebar, kemudian mengajak Zia beranjak dari sana.


"Terima kasih banyak dok, kami permisi,,"


Pamit Gavin ramah. Dia mengandeng Zia, menuntun istrinya dengan hati - hati untuk keluar dari ruangan itu.


"Kamu percaya ucapannya mas,,?" Tanya Zia setelah keluar dari ruangan.


Dia melihat Gavin yang terlihat sangat antusias setelah mendengar pendapat dari dokter yang baru saja memeriksanya.


"Aku percaya kamu akan hamil Zi,," Sahut Gavin yakin.


"Ayo kita lihat, apa disini benar - benar ada Gavin junior,,," Serunya sembari mengusap perut Zia dengan lembut.

__ADS_1


Zia hanya diam saja, mengikuti langkah Gavin yang membawanya ke dokter obgyn.


...****...


__ADS_2